detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 11 September 2019, 11:53 WIB

Kolom

Kebutuhan Masokis di Balik Cerita Hantu

Arif Abdurahman - detikNews
Kebutuhan Masokis di Balik Cerita Hantu Foto: Twitter @SimpleM81378523
Jakarta -

Viralnya cerita "KKN di Desa Penari" setidaknya menunjukkan bahwa kita punya kecenderungan menyukai cerita mistis atau horor. Atau sebaliknya, cerita hantu punya daya pikat, bahkan mungkin candu. Manusia jelas makhluk imajinatif, dan kita menggunakan daya khayal kita yang telah melewati evolusi untuk terus merekayasa perjalanan ke semacam dunia yang penuh teror.

Ini berlaku bukan hanya di Indonesia. Sejak zaman baheula, cerita-cerita hantu—kisah-kisah soal arwah yang kembali dari kematian untuk menghantui tempat-tempat yang mereka tinggalkan—timbul dalam cerita rakyat di banyak budaya di seluruh dunia.

Karya fiksi klasik semacam Kisah Seribu Satu Malam berisi sejumlah cerita hantu yang melibatkan jin dan mayat. Khususnya, kisah Ali dan Rumah Berhantu di Baghdad mengisahkan tentang rumah yang dihantui oleh jin. Karya klasik Jepang abad ke-11, Kisah Genji, juga berisi cerita hantu, termasuk karakternya yang dirasuki roh. Beberapa elemen cerita hantu ini terus terwarisi.

Hantu bukan ciptaan baru, kisahnya terus diperbarui. Tapi kenapa? Mengapa manusia sangat menyukai cerita hantu? Bahkan jika kita sendiri tak mempercayai mereka? Dengan kata lain, mengapa kita begitu suka menakuti diri sendiri?

Menurut Neil Gaiman dalam esai berjudul Ghost in the Machine, "Ketakutan adalah hal yang luar biasa, dalam dosis kecil. Anda naik kereta hantu ke dalam kegelapan, tahu bahwa pada akhirnya pintu akan terbuka dan Anda akan melangkah keluar ke siang hari sekali lagi. Selalu meyakinkan untuk mengetahui bahwa Anda masih di sini, masih aman."

Cerita hantu mengakomodasi kengerian sebagai hiburan, sekaligus rasa nyaman bahwa setiap cerita pasti ada akhirnya, dan kita dibiarkan dalam kondisi aman. Meski seringnya dalam beberapa kasus, cerita itu terus menetap di kepala kita, bikin kita susah tidur atau takut ke kamar mandi ketika malam. Namun manusia bukan makhluk yang gampang kapok.

Mathias Clasen dalam Why Horror is So Popular? menunjukkan bahwa manusia berevolusi untuk menemukan kesenangan dalam situasi yang memungkinkan kita mengalami emosi negatif dalam konteks yang aman. Clasen menyebutkan bahwa kita dapat melihat elemen horor ini dalam permainan anak-anak. Seperti pada petak umpet misalnya, yang merupakan simulasi interaksi predator-mangsa. Bocah yang jadi "mangsa" harus bersembunyi, agar tak diketahui bocah lain yang jadi "predator" --ada teror namun tak sampai merenggut nyawa.

Simulasi ini memberikan seorang bocah informasi penting tentang bagaimana cara menghindar sebagai mangsa. Anak-anak cenderung menemukan jenis kegiatan yang sangat memuaskan, karena kegiatan ini memberi mereka pengalaman yang aman dari skenario yang berpotensi bencana. Orang dewasa masih memiliki kebutuhan untuk ini.

Astara March, dalam sebuah tulisannya di Inside Science mencatat bahwa setiap pengalaman yang menakutkan pasti menimbulkan banjir adrenalin. Bahkan jika apa yang kita alami tidak berbahaya sama sekali. Merinding saat membaca cerita horor menandakan adrenalin tubuh yang terlepas.

Adrenalin ini kemudian dapat merangsang produksi opioid, yang menumpulkan respons terhadap rasa sakit, yang akan sangat berguna jika kita dikejar oleh seekor singa, misalnya. Selain itu, adrenalin dapat memicu pengeluaran endorfin, hormon yang menghasilkan kesenangan. Endorfin ini yang juga dilepaskan saat berolahraga, kasmaran, bercinta, dan ketika mengantisipasi kesenangan

Horor mengeksploitasi mekanisme pertahanan kita. Cerita hantu menyenangkan bagi banyak orang karena memungkinkan kita bermain dengan emosi negatif dan mengembangkan strategi koping. Kita belajar bagaimana rasanya menjadi benar-benar takut, dan kita belajar bagaimana menangani emosi negatif tadi.

Kita melewati serangkaian emosi ketika kita mendengar, membaca, atau menonton cerita horor, dan melalui pengalaman itu kita belajar sesuatu tentang respons kita sendiri. Horor memberi kita wawasan tentang diri kita sendiri dan ke sudut-sudut gelap dunia, dan itu memungkinkan kita mengembangkan dan memperbaiki keterampilan bereaksi, yang mungkin penting di kemudian hari.

Manusia telah lama saling bercerita tentang sesuatu yang lain, tentang kehidupan setelah kematian; cerita yang menusuk kulit dan membuat bayang-bayang mencekam. Manusia terus mereproduksinya, dan tak akan pernah bosan. Cerita hantu, yang paling penting, mengingatkan kita bahwa kita hidup, dan bahwa ada sesuatu yang istimewa, sesuatu yang unik dan luar biasa tentang keadaan hidup.




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com