detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 08 September 2019, 11:38 WIB

Jeda

Mari Minum Teh

Mumu Aloha - detikNews
Mari Minum Teh Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Serombongan orang datang ke kuil dan disambut oleh biksu kepala secara langsung didampingi seorang penjaga. "Apakah kalian pernah ke sini sebelumnya?" tanya sang biksu. "Ya, pernah," jawab salah seorang dari rombongan itu mewakili yang lain. "Masuklah, dan mari minum teh," sahut biksu.

Pada hari yang lain, serombongan orang datang lagi ke kuil. Seperti biasa, sang biksu kepala menyambutnya bersama seorang penjaga yang berdiri di belakangnya. "Apakah kalian pernah ke sini sebelumnya?" tanya biksu. "Ini kali pertama kami ke sini," jawab salah seorang mewakili teman-temannya. "Masuklah, dan mari minum teh," sang biksu mempersilakan dengan ramah.

Si penjaga yang menyaksikan adegan itu segera berlalu dengan muka bersungut-sungut. "Mereka yang pernah datang ke sini diundang minum teh; mereka yang belum pernah datang juga diundang minum teh. Apa maksudnya?" ia ngedumel sendiri panjang-pendek sambil terheran-heran.

"Penjaga kuil!" seru biksu kepala. Si penjaga pun berbalik. "Mari minum teh!" ajak sang biksu.

***

Salah satu hal yang paling mengesankan dari kunjungan saya beberapa tahun lalu ke provinsi paling barat di China, Xinjiang, adalah menyaksikan --sekaligus mengalami-- betapa minum teh adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, seperti bernapas. Hal itu tampak jelas dari kebiasaan warga di tiga kota yang saya kunjungi, yakni Urumqi, Hami, dan Balikun.

Di kereta cepat misalnya, saya menyaksikan orang-orang membawa wadah sendiri, dan kereta menyediakan fasilitas air panas untuk menyeduh teh. Dalam perjalanan lain dengan mobil ke Balikun melintasi jalan yang membelah perbukitan selama berjam-jam, kami istirahat di sebuah tempat semacam rest area, dan dalam kondisi haus di tengah hari yang terik di tengah padang gersang, bukan es dingin segar yang disuguhkan, melainkan segelas air putih panas yang ditaburi sejumput teh.

Juga, ketika rombongan kami --para wartawan dari berbagai negara-- diajak untuk menyaksikan pementasan sebuah kesenian tradisional setempat, sambil duduk menonton kami disuguhi teh panas dalam cangkir plastik.

Di negeri kita sebenarnya kebiasaan minum teh panas dalam segala waktu dan suasana sebenarnya juga bukan hal yang asing. Saya teringat, dulu waktu KKN --bukan di Desa Penari-- di sebuah desa di ujung selatan Kabupaten Wonogiri, setiap kali berkunjung ke rumah warga selalu dijamu dengan kacang panggang (hasil kebun desa tersebut) dan teh panas.

Hanya bedanya, tradisi kita cenderung akrab dengan teh yang diseduh kental dan diberi (banyak) gula. Sedangkan di wilayah lain, seperti yang saya alami di Xinjiang, teh hanya dijumput sejimpit seujung tiga jari, tidak untuk diseduh sampai kental, melainkan hanya ditaburkan ke dalam segelas air panas yang hendak kita minum, seolah sekadar untuk memberikan aroma dan "rasa" pada air putih panas yang tawar.

Dan, dalam tradisi mereka, yang disebut dengan "teh" tidak harus selalu benar-benar daun teh, melainkan bisa dedaunan yang lain, juga bunga-bungaan.

***

Seorang guru yang pernah bertugas sebagai tentara Inggris dalam Perang Dunia II punya cerita ajaib tentang bagaimana "minum teh" bisa menyelamatkannya dari maut akibat serbuan musuh. Alkisah, prajurit pengintai dari kesatuannya melaporkan bahwa mereka telah terkepung rapat oleh pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak. Prajurit muda itu pun sudah mempersiapkan diri untuk mati.

Dia mengira sang kapten akan memerintahkan orang-orangnya untuk bertempur habis-habisan supaya bisa keluar dari kepungan musuh; tak ada pilihan lain. Tapi, di luar dugaan, sang kapten ternyata memerintahkan anak buahnya untuk tetap diam, duduk, dan....membuat secangkir teh!

Si prajurit muda berpikir bahwa kepala pasukannya itu pasti sudah sinting. Bagaimana bisa seseorang memikirkan secangkir teh saat sedang terkepung musuh, tanpa jalan keluar, dan terancam mati? Namun, dalam ketentaraan, khususnya saat perang, tiap perintah harus dipatuhi. Maka, begitulah, mereka semua membikin secangkir teh, sambil berpikir ya sudahlah, ini akan menjadi secangkir teh terakhir dalam hidup.

Sebelum mereka menghabiskan tehnya masing-masing, prajurit pengintai kembali lagi dan berbisik pada kapten. Sang kapten lalu meminta perhatian semua prajuritnya. "Musuh telah pergi," dia mengumumkan. "Sekarang ada jalan keluar. Kemas semua perlengkapan kalian dengan cepat, dan jangan berisik, ayo pergi!"

***

Kakuzo Okakura, pengarang Kitab Teh, merasa pedih atas pemberontakan suku-suku Mongolia abad XIII pertama-tama bukan karena kematian dan kesengsaraan yang ditimbulkannya, melainkan karena pemberontakan itu telah menghancurkan kebudayaan Song, salah satu di antara yang paling berharga adalah seni minum teh.

Bagi dia, teh bukan minuman biasa. Ketika menjadi "ritual", ia merupakan inti kemampuan untuk dapat melihat keagungan di dalam hal-hal kecil. Berbeda dengan hal-hal besar, hal-hal kecil itu sepele, tapi tulus, tanpa pamrih. Menawarkan secangkir teh itu hal biasa, sepele, tapi bagi biksu kepala kuil tadi, yang tidak membeda-bedakan siapapun yang datang, itu adalah inti ajaran Zen.

Sedangkan bagi sang prajurit muda Inggris, teh telah menyelamatkan jiwanya dan teman-teman sepasukannya. Itulah sebabnya, di sepanjang hidupnya kemudian, ia merasa berutang budi kepada kebijaksanaan kaptennya dulu. Seperti dikisahkan kembali oleh Ajahn Bram dalam bukunya Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, beberapa kali dalam hidupnya mantan prajurit itu merasa terkepung oleh musuh yang jumlahnya luar biasa tanpa jalan keluar dan membuatnya putus asa.

Tanpa pengalaman yang dialaminya saat perang dulu, dia pasti akan bertempur terus melawan masalahnya dan tak diragukan lagi itu justru membuat masalahnya bertambah buruk. Sebaliknya, saat masalah-masalah kehidupan seolah mengepungnya dari segala penjuru, dengan tenang dia duduk dan membuat secangkir teh. Itu menghemat kekuatannya, sambil menunggu saat yang tepat, yang pasti datang, yakni saat dia dapat melakukan sesuatu yang efektif untuk mengatasi masalahnya.

***

Kusajikan teh dan kami menikmatinya dalam kesunyian, demikian kisah sang tokoh dalam novel L'Elegance du Herrisson (Kemolekan Landak) karya Muriel Burberry. "Nikmat," kata sang tamu penuh hormat atas teh yang disuguhkan.

Pulang kerja, saya selalu menjerang air, menyeduh teh untuk merayakan, saya telah tiba, saya di rumah, tidak ada lagi yang harus dilakukan; duduk, diam, tanpa tujuan, tanpa pencapaian, hanya minum teh. Nikmat.

Ya, nikmat, karena dengan minum teh berarti menikmati persembahan ganda: menghentikan rutinitas dan memberi perubahan --energi baru-- pada gerak otomatis kehidupan yang telah menjadi rutin itu. Mencium harum aroma, meminumnya, istirahat, menuang lagi, menyeruput....semua itu terasa seperti kelahiran baru. Itu adalah saat-saat magis untuk lupa sementara, karena secara singkat tapi intens, secercah keabadian tiba-tiba hadir mengiterupsi waktu.

Di luar sana, dunia berteriak atau terlelap. Perang berkobar. Orang-orang hidup atau mati, bangsa-bangsa binasa, bangsa-bangsa lainnya muncul untuk tak lama lagi tenggelam. Dalam segala kebisingan dan kemarahan itu, dalam semua letusan dan arus balik, ketika dunia berputar, terbakar, terobek, dan tercipta kembali, ya, di saat itu manusia hidup. Makanya, mari minum teh --pengulangan yang tepat dari gerak yang sama dan penikmatan yang sama, sarana unik ke sensasi yang sederhana nan asli dan halus, kebebasan yang diberikan kepada siapapun untuk dengan mudah menjadi seorang elit dalam hal cita rasa tanpa membedakan miskin dan kaya.

Ritual minum teh, secara luar biasa, mampu menghadirkan sekilas di tengah absurditas hidup kita, momen-momen harmoni yang jernih. Semesta berkonspirasi dengan kehampaan, jiwa-jiwa tersesat menangisi keindahan, kerinduan, patah hati, kecewa, gagal, frustrasi --keremehtemehan mengepung kita, masalah hidup mengepung kita. Makanya, mari minum secangkir teh. Keheningan terbentuk, angin berhembus di luar jendela, dedaunan musim kering mendesir dan berguguran, seekor kucing mengendus-endus mencari makanan atau tidur dalam kehangatan cahaya. Mari minum teh --dalam tiap teguk, waktu menjadi agung.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
teh
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com