detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 07 September 2019, 09:10 WIB

"Common Sense" Ishadi SK

Dunia yang Berubah

Ishadi SK - detikNews
Dunia yang Berubah Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Dunia berubah, arus uang pun berubah. Kemajuan teknologi membuat cara mendapatkan informasi dan berbisnis berganti. Awal tahun ini, Youtube mengumumkan para pengguna di seluruh dunia menghabiskan satu miliar jam setiap hari untuk nonton video di platform tersebut.

Dulu, arus informasi didominasi oleh media cetak dan televisi. Namun, kini sumber informasi bisa diakses kapan saja, di mana saja, semudah menggerakkan jari.

Informasi kini bisa didapat lewat telepon seluler. Hanya bermodal sambungan internet, informasi bisa diperoleh dengan sangat mudah. Ini membuat portal-portal berita di dunia maya menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Mengutip Techworm (2019), Huffington Post adalah situs berita dengan pengunjung terbanyak di dunia, dengan 110 juta unique visitor per bulan. Kemudian di posisi kedua CNN Internasional (95 juta per bulan), dan ketiga adalah New York Times (70 juta per bulan).

Pada 2011, AOL mengakuisisi Huffington Post dengan mahar US$ 315 juta. Kini, NiemanLab menaksir valuasi Huffington Post mencapai US$ 1 miliar. Luar biasa, melonjak 217,46% dalam tempo hanya delapan tahun.

Untuk lebih mengetahui perubahan drastis ini, berikut tulisan saya yang saya tulis tahun 2002, 17 tahun lalu!

Awal milenium III (2001), ditandai dengan sebuah deal raksasa, antara AOL, American On Line dengan Time Warner, yang nilai kapitalisasinya mencapai US$ 350 miliar Transaksi itu tidak saja terbesar, namun juga menandai suatu phenomena menikahnya old media dengan new media. AOL perusahaan jasa internet yang memiliki 33 juta pelanggan di 15 negara, menguasai bagian saham yang lebih besar, 55%, dibanding Time Warner. Menarik karena Time Warner sebagai usaha bisnis media dan hiburan terbesar di dunia memiliki 33 majalah ternama termasuk Asia Week, Fortune dan Time Asia, jaringan televisi CNN International, TBS, Cartoon Network, dan perusahaan film Warner Bros, yang juga mempunyai kelompok pertokoan merchandiser luas di seluruh dunia. Semuanya masih menggunakan teknologi analog.

Dua puluh tahun yang lalu, Marshall Mac Luhan menulis buku Understanding Media. Waktu itu ia sudah meramalkan bahwa media lebih menentukan dari pesan. Karena media yang membawa pesan itu. Seberapa jauh pesan itu sampai, kepada seberapa luas khalayak dan bagaimana dampak pengaruhnya, akan ditentukan oleh media yang membawa pesan itu. Perusahaan yang menghasilkan content, dikalahkan oleh perusahaan yang menyediakan media jenis baru.

Setelah bergabung dengan American On Line, Saham Time Warner diburu para pialang, dan naik 41% di New York Stock Exchange. Saham bisnis cyberspace memang sedang diburu orang. Tahun lalu perusahaan MP3, penjual musik melalui internet, juga mengalami hal yang sama. Sahamnya yang dalam IPO-innitial price offering, ditawarkan US$8, per saham, melonjak menjadi US$60. Hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Modal awalnya yang hanya 10 juta dollar, melonjak menjadi 1 miliar dollar dalam waktu setahun.

CNN menyebutkan, pemburu saham cyberspace bagaikan sedang membeli masa depan. Kriteria yang lain adalah perusahaan itu yang melakukan transaksi miliar dollar, dipimpin oleh para eksekutif muda. MP3, dipimpin orang muda di bawah 30 tahun. Perusahaan merger AOL dan Time Warner dipimpin oleh Steve Case yang baru berumur 41 tahun. Meskipun muda ia sudah memimpin perusahaan yang bernilai $350 miliar!

Bisnis cyberspace, harus dipimpin oleh orang muda, yang mampu melakukan keputusan strategis dengan cepat, dinamik, dan kreatif. Dari sisi komunikasi gejala ini memperkuat teori Laswell lima puluh tahun yang lalu, yang mengatakan komunikasi ditentukan oleh lima faktor, who says what, to whom, with what channel, and with what effect. Dalam konteks "with what channel", media yang akan paling menentukan, tidak saja khalayaknya, namun juga effect yang akan ditimbulkannya.

Cyberspace adalah bisnis komunikasi masa depan. Merger AOL-Time Warner, akan segera diikuti oleh yang lain. Pemilik media akan segera bergabung atau mencari akses di internet. Suatu kombinasi yang ideal. Ibarat jalan tol, media adalah bagian yang menghasilkan produk mobil, sedang cyberspace adalah jalan tolnya. Diperlukan media dalam bisnis cyberspace masa depan-karena sebagaimana jalan tol, siapa yang akan mengontrol kalau pengemudinya mabuk, membuang sampah sembarangan atau ber-zig zag, hingga membahayakan kendaraan lainnya.

Cyberspace sebagai teknologi komunikasi yang berbasis akses individual, memang tidak mungkin dikontrol. Tetapi media bisa, karena media berbasis akses publik, dan dikelola, oleh redaktur profesional yang tunduk pada kode etik. Hak individu memang dijamin oleh undang-undang, tapi kalau sudah bersinggungan dengan orang lain, diperlukan mekanisme kontrol --paling tidak dari sisi kode etik dan nilai moral-- agar tidak saling berbenturan.

Ishadi SK Komisaris Transmedia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com