detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 06 September 2019, 14:00 WIB

Kolom

"Gundala" dan Strategi Kebudayaan

Gunawan Wibisono - detikNews
Gundala dan Strategi Kebudayaan Abimana Aryasatya sebagai Gundala
Jakarta -
Kehadiran jagat sinematik Bumilangit meniupkan angin segar di industri perfilman kita. Khususnya untuk superhero-superhero lokal. Puluhan karakter superhero telah berumah di sasana Bumilangit. Sembilan di antaranya telah disiapkan untuk tampil di layar lebar. Mereka adalah Gundala, Si Buta dari Gua Hantu, Godam, Maza, Virgo, Sri Asih, Tira, Aquanus, dan Mandala. Gundala mendapat giliran pertama untuk menebas angkara murka dan menghibur ke muka publik.

Gundala merupakan karakter yang diciptakan oleh komikus Harya Suraminata alias Hasmi pada tahun 1969. Ia terinspirasi dari tokoh spiritual dan leluhur raja-raja Kesultanan Mataram, Ki Ageng Selo. Dalam riwayat legendanya, Ki Ageng Selo dipercaya mampu menangkap petir. Itu mengapa nama Gundala diambil dari kata gundolo yang berarti petir. Dalam rentang waktu 14 tahun, komik Gundala telah hadir dalam 23 judul.

Kemudian pada tahun 1981, Gundala pernah diangkat ke layar lebar dengan judul Gundala Putra Petir garapan Lilik Sudjio. Hingga, pada tahun ini rumah produksi Bumilangit menunjuk Joko Anwar untuk menduduki kursi sutradara. Film remake adaptasi komik ini dikemas dengan pengembangan dan kontekstualitas berbeda dengan tajuk Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot.

Abimana Aryasatya berperan sebagai tokoh sentral dalam film ini: Sancaka. Ia merupakan seorang petugas keamanan di kantor surat kabar The Djakarta Times. Sancaka lahir dari keluarga sederhana. Bapaknya (Rio Dewanto) seorang aktivis buruh yang mati saat demonstrasi melawan pabrik. Ibunya (Marissa Anita) pergi karena sakit. Joko Anwar menggambarkan Sancaka kecil (Muzaki Ramdhan) dengan penuh penderitaan. Dalam versi komik, Sancaka adalah seorang ilmuwan yang tengah melakukan eksperimen dalam membuat serum anti-petir.

Untuk ukuran film superhero, Joko mengawali film ini dengan penuh getir. Perlawanan, pembunuhan, dan penderitaan dicampur aduk menjadi fondasi narasi cerita. Joko tidak secara spesifik menggambarkan setting waktu dan tempat. Tidak seperti superhero Hollywood umumnya yang gamblang menggambarkan tempat atau nama planet dan tahun kejadian. Joko hanya menggambarkan sebuah negeri antah berantah yang sedang porak-poranda. Kerusuhan di mana-mana. Ini yang menjadi titik poin segala konflik dalam film ini.

Dalam membangun konflik cerita, Joko merancang dua kubu: elite politik dan masyarakat sipil. Elite politik adalah orang-orang anggota parlemen yang telah dikuasai oleh mafia bernama Pengkor (Bront Palarae). Hanya segelintir anggota parlemen yang masih berpihak kepada rakyat. Salah satunya adalah Ridwan Bahri (Lukman Sardi). Sedangkan masyarakat sipil adalah kelas pekerja yang terus bergerak memperjuangkan hak hidupnya. Ia adalah Wulan (Tara Basro), perempuan pemberani sekaligus pemimpin asosiasi pedagang pasar yang selalu direcoki oleh preman-preman suruhan.

Narasi kepahlawanan Gundala mulai terlihat saat Sancaka bekerja sebagai security. Para aktivis pasar pelan-pelan membutuhkan dirinya saat bertempur melawan preman bayaran. Begitu pula oleh Ridwan Bahri yang mulai membutuhkan kehadiran Gundala untuk menumpas kebengisan Pengkor yang terus merongrong anggota parlemen lain untuk menuruti ambisi kuasanya.

Film superhero berdurasi 123 menit ini merumuskan peta konflik yang rumit, khas Joko Anwar. Sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, Joko memainkan plot maju mundur yang cukup mengernyitkan dahi. Isu-isu yang diangkat juga cukup berat untuk ukuran anak-anak penggemar superhero. Mafia politik, hoax, dan pengalihan isu menjadi tema sentral yang disajikan. Serum amoral menjadi pemicu pertempuran antara Gundala dan Pengkor.

Namun demikian, pertarungan dua jagoan ini tidak berjalan lama. Tidak seperti film superhero pada umumnya. Sepukul-dua pukul, anak buah Pengkor tumbang di tangan manusia petir ini. Begitu pula Pengkor yang langsung pengkor saat berhadapan dengan Gundala. Pertarungan singkat ini menjadi penutup plot cerita.

Beberapa hal yang cukup disayangkan dari sinema perdana produksi Bumilangit ini di antaranya adalah dialog yang kurang luwes. Entah mengapa dialog dalam film ini terasa kurang natural dan cenderung itu-itu saja. Begitu pula pada atraksi baku hantam. Sebagai sebuah film superhero, ini sebenarnya bisa menjadi suguhan utama. Tapi Gundala masih terlihat kaku dan kurang mendebarkan penonton.

Beberapa plot cerita juga terasa terputus. Dan yang menurut saya cukup urgent, untuk ukuran film 13 tahun ke atas, film ini terasa kurang ramah anak. Adegan kekerasan beberapa kali muncul seperti thriller. Minimnya narasi kepahlawanan mungkin juga membuat penonton anak-anak tidak mengerti mengapa dan bagaimana itu Gundala.

Strategi Kebudayaan

Guru besar filsafat, Cornelis Anthonie van Peursen (1974) pernah mengatakan bahwa seluruh kebudayaan merupakan satu proses belajar yang besar. Dalam bidang kesenian, misalnya, manusia terus menerus mencari bentuk-bentuk ekspresi baru. Gundala hadir sebagai bentuk ekspresi kebudayaan baru di jagat sinema Indonesia. Terlebih, semesta Bumilangit tengah menyiapkan superhero lainnya untuk tampil di layar lebar.

Film Gundala juga berkesempatan untuk tayang di Toronto International Film Festival tahun 2019. Ini merupakan strategi kebudayaan yang cukup menggembirakan.

Jika dibandingkan dengan film superhero lainnya, tentunya kita punya keunikan tersendiri. Peluang untuk mengangkat mitos-mitos dan kearifan lokal masih terbuka lebar. Dalam film Gundala terlihat saat anak buah Pengkor yang diperankan Yayan Ruhian menari dengan diiringi musik sunda saat hendak bertarung.

Selain itu, yang juga menarik adalah Joko memilih untuk tidak mengkultuskan superhero. Minimnya narasi kepahlawanan yang dihadirkan Gundala seakan menerangkan bahwa siapa saja bisa jadi pahlawan. Bahkan, Sancaka pun tidak pernah merasa ia adalah Gundala sang patriot. Kostum superheronya ia rancang sendiri menggunakan jaket kulit dan topeng seadanya.

Gimmick yang ditawarkan Gundala juga cukup elegan. Jika superhero Hollywood menggunakan bumbu percintaan dan perselingkuhan yang kental, Joko hampir tak menggunakan trik itu. Meski demikian, sepatutnya kita memiliki keunikan identitas superhero kita sendiri dalam rangka politik kebudayaan dalam kontestasi global. Dalam konteks ini seputar film superhero.

Bocoran untuk karakter-karakter lainnya juga sedikit nampak dalam film bertabur bintang ini. Godam alias Awang muncul membantu Sancaka kecil ketika dikeroyok anak jalanan. Kemudian ada pula sosok perempuan yang diperankan Pevita Pearce hadir membantu Sancaka. Ia adalah Sri Asih, salah satu karakter jagat sinema Bumilangit. Mungkin hal-hal mengejutkan sekaligus membanggakan ini yang membuat penonton bertepuk tangan saat film selesai. Kita memang patut berbangga.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com