detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 06 September 2019, 13:00 WIB

Kolom

Obat Kedaluwarsa dan Kendali Masyarakat

Alexander Arie - detikNews
Obat Kedaluwarsa dan Kendali Masyarakat Foto: iStock
Jakarta -
Sebuah kasus yang cukup menarik tengah ditangani Polres Metro Jakarta Utara, yakni dugaan pemberian obat kedaluwarsa yang dilakukan oleh petugas Puskesmas Kamal Muara, Penjaringan. Obat yang dimaksud adalah vitamin B6 yang diberikan kepada pasien yang datang ke fasilitas kesehatan tersebut untuk kontrol kandungan.

Dalam berbagai pemberitaan disebutkan bahwa pasien mendapatkan tiga strip vitamin B6 tersebut dan telah mengonsumsi dua butir sebelum kemudian menyadari bahwa obat tersebut sudah kedaluwarsa pada April 2019. Pemberian tiga strip yang berarti 30 tablet tersebut sejatinya adalah mekanisme standar untuk kontrol kandungan karena obat dikonsumsi sebutir sehari dan akan habis tepat sebulan kemudian, bertepatan dengan saatnya pasien kontrol kandungan kembali.

Perspektif Industri Obat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kedaluwarsa didefinisikan antara lain sebagai "terlewat dari batas waktu berlakunya sebagaimana yang ditetapkan". Tanggal kedaluwarsa secara sederhana dimaknai sebagai gambaran stabilitas obat dalam penyimpanan.

Tanggal yang tertera pada kemasan adalah batasan waktu pembuat obat memberikan jaminan bahwa produk yang ada dalam kemasan sesuai dengan klaim yang disebutkan. Misalkan jika pada kemasan dituliskan bahwa kandungan parasetamol dalam obat adalah 500 miligram, maka tanggal kedaluwarsa adalah batasan jaminan dari pabrik bahwa yang dikemas adalah benar zat aktif tersebut pada angka kandungan yang tepat.

Ketika lewat dari tanggal kedaluwarsa, tentunya tidak serta merta suatu obat akan jadi berbahaya. Terutama untuk sediaan dengan zat aktif yang cenderung stabil, bahaya yang ditimbulkan jika mengonsumsi obat kedaluwarsa cenderung minim. Tetapi, dalam perspektif manajemen risiko, tanggal kedaluwarsa telah dipahami sebagai risk tolerance. Lewat dari tanggal yang ditetapkan dianggap sudah tidak memenuhi parameter kualitas.

Di pabrik, urusan stabilitas obat berada dalam lingkup kerja Quality Assurance (QA) dan/atau Research and Development (RnD). Bagian RnD terutama berfokus pada stabilitas produk yang akan rilis ke pasar, sedangkan QA mengelola produk-produk yang telah meluncur ke pasar. Jadi, ketika suatu produk obat dilepas dari pabrik ke pasar, bukan berarti dilepas tanpa pemantauan sama sekali. Tetap ada kontrol dari pabrik sampai dengan tanggal kedaluwarsa yang ditetapkan.

Selama lima tahun saya bekerja sebagai perencana produksi dan pengelola gudang di sebuah pabrik obat. Perencanaan produksi suatu obat tentunya didasarkan pada peramalan permintaan dari bagian pemasaran dengan janji "akan menjual sekian boks obat". Apabila sudah dibuatkan dengan jumlah yang sesuai namun ujung-ujungnya tidak habis sampai dengan tanggal kedaluwarsa, secara pribadi kadang jadi merasa dongkol juga. Meskipun memang mesti dipahami bahwa persoalan peramalan permintaan ini tentu tidak lepas dari dinamika supply and demand pada pasar.

Proses yang Kompleks

Saat masih aktif dalam melakukan pelayanan kesehatan, saya merasakan betul bahwa hal yang tampak sederhana berupa penyerahan obat ke pasien itu sebenarnya rangkaian dari berbagai proses yang kompleks. Salah satunya adalah berbagai pengecekan untuk memastikan bahwa yang sampai ke pasien sifatnya tepat produk, tepat dosis, tepat mutu, termasuk juga tepat waktu. Persoalannya, banyak kalangan yang tidak memahami dengan benar pentingnya suatu rangkaian proses.

Kalau dalam pelayanan kesehatan resmi kalangan tersebut tidak terlalu terdeteksi. Tetapi, lain halnya ketika ajangnya adalah bakti sosial berupa pengobatan gratis. Dalam beberapa kesempatan, saya mendapati diri berada pada kegiatan bakti sosial dengan orang-orang yang bahkan tanpa pengalaman muncul di bagian penyerahan obat dengan anggapan, "Kan cuma mengambilkan obat saja, apa susahnya sih?"

Padahal, ketika menerima resep dari dokter, harus dipastikan dahulu obat yang diberikan benar-benar sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis resep. Saat mengambil obat juga perlu ketelitian karena ada satu obat dengan berbagai macam dosis, seperti metilpredisolon yang ada dosis 4 mg, 8 mg, hingga 16 mg. Demikian pula captopril dari 12,5 mg kemudian 25 mg dan ada juga yang 50 mg.

Seringkali, ketidaktahuan menyebabkan banyak orang dengan kompetensi kurang sesuai diberikan kesempatan menjalankan fungsi yang tidak seharusnya. Hal ini cenderung diperparah dengan tekanan dari pasien yang begitu terburu-buru hendak segera membawa pulang obatnya, bahkan kadang-kadang dengan kata-kata yang kurang mengenakkan.

Antrian resep yang banyak, apalagi dibumbui pasien yang terburu-buru dan abai pada nomor antrean, sering menjadi pemicu hilangnya fungsi kontrol pada kesempatan-kesempatan yang ada. Termasuk di antaranya memastikan bahwa obat yang diberikan tidak kedaluwarsa.

Ketika suatu obat kedaluwarsa masih ditemukan di tempat penyimpanan obat untuk pelayanan sejatinya merupakan problematika tersendiri. Sebagai auditor ISO 9001:2015, perkara stok kedaluwarsa adalah hal pertama yang selalu dicek ketika mengaudit area yang tempat penyimpanan produk. Dalam pengalaman saya sebagai penunggu gudang pun, inspektur dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga selalu menaruh fokus pada sirkulasi di tempat penyimpanan produk.

Rekomendasi untuk memisahkan produk kedaluwarsa di tempat yang berbeda juga merupakan hal standar yang selalu disampaikan, karena merupakan metode paling sederhana untuk menihilkan risiko diberikannya produk kedaluwarsa kepada pembeli atau pasien.

Kendali Pasien

Sebagai tenaga kesehatan, secara terang benderang dapat dipastikan bahwa pemberian obat kedaluwarsa bukanlah suatu hal yang disengaja. Sesuai dengan kode etik profesi kesehatan, yang diutamakan pertama-tama tentunya pelayanan yang sebaik-baiknya demi keadaan pasien yang lebih baik. Dalam hal ini, pasien juga perlu meningkatkan diri sekaligus sebagai kontrol tambahan pada pelayanan yang sudah diberikan oleh tenaga kesehatan.

Kendali awal adalah sejak penerimaan obat di sarana pelayanan kesehatan. Saya sendiri dalam posisi sebagai pasien baik untuk saya maupun untuk anak, selalu melakukan pengecekan kondisi fisik obat, keberadaan Nomor Izin Edar (NIE) dari BPOM, dan terutama tanggal kedaluwarsa persis pada saat penyerahan obat. Sehingga, kalau ada masalah bisa langsung dikoordinasikan dengan tenaga kesehatan yang menyerahkan obat.

Kendali selanjutnya adalah ketika obat sudah sampai di rumah. Untuk obat-obatan antibiotik jenis apapun, haruslah dihabiskan sehingga tidak menyisakan stok obat. Jangan sekali-kali mengonsumsi kembali antibiotik sisa dari pengobatan sebelumnya karena itu sama saja kita menyiapkan tubuh kita menjadi resisten dan dapat menyebabkan kalau ada apa-apa di kemudian hari harus diobati dengan antibiotik dari kelas lebih tinggi.

Obat-obatan seperti sirup, sirup kering, maupun tetes mata, pada kemasannya telah memuat ketentuan masa simpan obat sesudah dibuka. Jadi, meskipun belum lewat dari tanggal kedaluwarsa, obat-obat jenis ini juga tidak bisa dijamin lagi isinya apabila telah melewati periode masa simpan sesudah kemasan dibuka.

Pada obat-obatan lain berupa tablet atau kapsul dengan kemasan strip atau blister, pasien juga bisa mengambil kendali dengan cara menyobek atau membuka obat pada bagian yang bebas dari cetakan tanggal kedaluwarsa. Dengan demikian, pasien tetap bisa mengetahui tanggal kedaluwarsa suatu obat jika hendak menggunakannya lagi di kemudian hari. Bagian kemasan dengan cetakan tanggal kedaluwarsa adalah pilihan terakhir untuk disobek.

Masyarakat sebagai pasien juga perlu membuat tempat penyimpanan khusus untuk obat-obatan dan dengan rutin melakukan stock opname layaknya fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan begitu, produk-produk kedaluwarsa bisa dihilangkan dari stok obat. Biasanya, penyimpanan obat di rumah itu digunakan ketika keadaan kurang sehat, misalnya pusing. Saat pusing itu, kadang tidak sempat lagi untuk mengecek tanggal kedaluwarsa karena sudah terlalu sakit. Kalau pada posisi itu yang ada adalah obat kedaluwarsa, malah bisa jadi perkara selanjutnya.

Terakhir, ketika melakukan pemusnahan obat-obatan, hendaknya pasien juga melakukannya dengan cara yang benar karena masing-masing jenis produk memiliki perlakuan yang berbeda-beda.

Pada setiap pelayanan publik yang diberikan, termasuk juga pelayanan kesehatan, peran serta konsumen sebagai fungsi kontrol terhadap pelayanan yang telah diberikan merupakan salah satu hal yang dapat meningkatkan keberhasilan suatu pelayanan. Terlebih dalam konteks obat, yang jika salah konsumsi punya potensi untuk memberikan dampak yang tidak diinginkan. Kolaborasi peran inilah yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan karena sejatinya baik tenaga kesehatan maupun pasien punya tujuan yang sama.

Alexander Arie apoteker, Certified Lead Auditor ISO 9001:2015, mahasiswa Program Magister Ilmu Administrasi Universitas Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com