detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 06 September 2019, 11:57 WIB

Kolom

Belajar dari Kasus Kamal Muara

Oryz Setiawan - detikNews
Belajar dari Kasus Kamal Muara Foto: iStock
Jakarta - Kasus pemberian obat kedaluwarsa oleh petugas kesehatan kepada ibu hamil yang terjadi di Puskesmas Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara sontak menjadi perhatian publik. Pihak puskesmas mengakui ada kelalaian dalam pemberian obat kepada pasien.

Semakin tingginya kesadaran masyarakat atas hak layanan kesehatan menuntut kecermatan dan kehati-hatian setiap tenaga kesehatan dalam memberikan setiap produk layanan. Petugas kesehatan acapkali dininabobokkan oleh sebuah rutinitas pelayanan yang memang menjadi tugas dan fungsinya serta pengakuan kelembagaan atas kualitas layanan dalam bentuk akreditasi puskesmas.

Jumlah kunjungan masyarakat ke puskesmas setiap tahun terus meningkat seiring dengan maraknya berbagai penyakit yang muncul. Terdapat risiko hukum ketika layanan yang diberikan tidak sesuai standar atau prosedur yang ditetapkan atau tindakan "kelalaian" petugas yang mengakibatkan penurunan kualitas atau menimbulkan kerugian terhadap pasien.

Di tengah masyarakat yang kian cerdas, mudah memperoleh informasi dari media sosial, menuntut layanan juga kian berkualitas dalam standar dan prosedur. Hal tersebut diperkuat dengan implementasi UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, bahwa posisi konsumen sebagai pengguna layanan kian mudah memperoleh hak-haknya secara baik dan berkualitas, terutama aspek pelayanan kesehatan yang notabene berhubungan langsung dengan keselamatan nyawa seseorang.

Kebutuhan pelayanan kesehatan mempunyai tiga ciri utama, yaitu ketidakpastian (uncertainty), ketidaksetaraan atas informasi layanan (asymetri of information), dan pengaruh faktor eksternal (externality). Ketiga ciri tersebut menyebabkan pelayanan kesehatan sangat unik dibandingkan dengan produk atau jasa lainnya. Keunikan yang tidak diperoleh pada komoditas lain inilah yang mengharuskan kita membedakan perlakuan atau intervensi pemerintah.

Uncertainty (ketidakpastian) menunjukkan bahwa kebutuhan akan pelayanan kesehatan tidak bisa pasti, baik waktu, tempat, maupun besarnya biaya yang dibutuhkan. Sehingga dengan ketidakpastian ini sulit bagi seseorang untuk menganggarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatannya. Apalagi pelayanan kesehatan saat ini acap dikonversi dengan penggunaan peralatan dan modernisasi sarana yang mahal.

Sedangkan asymetri of information (ketidaksetaraan informasi) adalah kondisi di mana konsumen pelayanan kesehatan berada pada posisi yang lemah, sedangkan provider (dokter dan petugas kesehatan lainnya) mengetahui jauh lebih banyak tentang manfaat dan kualitas pelayanan yang diberikan. Oleh karena itu dapat dibayangkan bahwa jika provider atau penjual memaksimalkan laba dan tidak mempunyai integritas yang tinggi terhadap norma-norma agama dan sosial, serta tidak memegang teguh kode etik profesi, tentu hal ini sangat mudah terjadi penyalahgunaan.

Sifat asymetry ini memudahkan timbulnya hukum pasar berupa permintaan dan penawaran yang menyebabkan keseimbangan pasar tidak bisa tercapai dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu tidak heran bila dalam pelayanan kesehatan supply meningkat tidak menurunkan harga dan meningkatkan kualitas; yang terjadi justru sebaliknya, peningkatan harga dan penurunan kualitas dalam konteks pemberian pemeriksaan yang tidak perlu.

Adapun pengaruh faktor eksternal misalnya terdapat titik-titik simpul yang sulit dijangkau layanan kesehatan, namun sangat mempengaruhi layanan seperti mekanisme pasar terhadap alat-alat dan teknologi kesehatan, kondisi iklim dan cuaca buruk, lingkungan yang tidak sehat, serta berbagai polusi yang berpotensi menimbulkan embrio masalah kesehatan (penyakit).

Tata Kelola Obat

Pada dasarnya, obat berperan sangat penting dalam struktur pelayanan kesehatan. Penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat. Sakit identik dengan obat, sehingga entitas obat ibarat penyambung nyawa bagi si pasien. Ketergantungan pasien terhadap obat seolah tak tergantikan dalam konstelasi layanan kesehatan sehingga dibutuhkan pengelolaan obat yang baik.

Pengelolaan obat adalah cara mengelola tahap-tahap dari kegiatan tersebut agar dapat berjalan dengan baik dan saling mengisi sehingga dapat tercapai tujuan pengelolaan obat yang efektif dan efisien, agar obat tersedia setiap saat dibutuhkan dalam jumlah cukup dan terjamin untuk mendukung pelayanan yang bermutu.

Tahap penyimpanan merupakan bagian dari pengelolaan obat menjadi sangat penting dalam memelihara mutu obat-obatan, menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab, menjaga kelangsungan persediaan, memudahkan pencarian dan pengawasan, memberikan informasi kebutuhan obat yang akan datang, serta mengurangi risiko kerusakan dan kehilangan.

Penyimpanan yang salah atau tidak efisien membuat obat kedaluwarsa tidak terdeteksi dapat merugikan bagi institusi pelayanan kesehatan. Oleh karena itu dalam pemilihan sistem penyimpanan harus dipilih dan disesuaikan dengan kondisi yang ada sehingga pelayanan obat dapat dilaksanakan secara tepat guna dan hasil guna.

Sistem penyimpanan obat menggunakan gabungan antara metode FIFO dan metode FEFO. Metode FIFO (first in first out), yaitu obat-obatan yang baru masuk diletakkan di belakang obat yang terdahulu, sedangkan metode FEFO (first expired first out) dengan cara menempatkan obat-obatan yang mempunyai ED (expired date) lebih lama diletakkan di belakang obat-obatan yang mempunyai ED lebih pendek. Hal tersebut diharapkan dapat meminimalisasi risiko penyalahgunaan atau kelalaian dalam tata kelola obat.

Semoga kasus ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi stakeholder layanan kesehatan terutama bagi tenaga kesehatan dalam rangka memberikan layanan yang bermutu agar tidak menjadi potensi permasalahan hukum.

Oryz Setiawan alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Surabaya

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com