detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 03 September 2019, 16:44 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Melawan Mega-Industri Pembajakan Buku

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Melawan Mega-Industri Pembajakan Buku Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Belum lama, saya membaca satu komentar di laman Facebook seorang akademisi kondang. Si komentator berkata, "Prof, saya mau minta maaf. Beberapa waktu lalu saya ingin membeli buku karya Prof. Saya asal cari saja di toko online, dan memilih seller yang menawarkan harga termurah. Ternyata setelah saya beli dan buku itu dikirim sampai rumah, ketahuan itu bajakan. Maaf ya, Prof."

Sejujurnya, saya sebal sama si komentator. Kalau memang tahu itu buku bajakan, lha mbok ya beli lagi yang asli. Kayak orang susah aja. Atau kalau memang benar-benar tak ada lagi anggaran untuk membeli versi asli, mending nggak usah cerita ke penulisnya hehehe.

Tapi saya tidak ingin memperpanjang kesebalan kecil itu. Yang lebih perlu disebalkan adalah fakta bahwa buku-buku bajakan sekarang ini begitu telanjang bertebaran di toko-toko online. Tanpa malu para olshoper itu memajang dagangan haram mereka, hingga bahkan menemukan satu terobosan istilah eufemisme baru untuk kata bajakan: repro.

"Ini nggak ori, Gan. Ini repro." Begitu obrolan yang lazim terjadi antara si pedagang dengan calon pembeli.

Itu mengerikan. Sepanjang sejarah, kita sudah cukup menyaksikan bagaimana beberapa kata berkarakter eufemisme digunakan untuk menutup-nutupi berbagai kepahitan. Istilah "dirumahkan" untuk menyebut "dipecat", misalnya. Atau kata "diamankan" untuk menggantikan "ditangkap".

Demikian juga kata "repro" ini. Kata tersebut singkatan dari reproduksi, yang artinya tiruan. Selama ini, istilah reproduksi lazim digunakan untuk aktivitas penciptaan ulang benda-benda yang telah usang, dan dibutuhkan duplikatnya untuk kebutuhan konservasi. Misalnya reproduksi foto-foto tua. Karena tidak ada duplikatnya, foto itu dikopi, disentuh ulang dengan teknik desain grafis, sehingga ia bisa menjadi cadangan jika foto yang asli rusak.

Namun ingat, benda-benda yang direproduksi itu lazimnya memang berjumlah sangat terbatas, bukan produk massal. Lah kalau repro buku-buku yang dijual di internet itu gimana? Jelas beda.

Buku yang di-"repro" para pedagang online itu masih dicetak massal, dijual dengan legal, sangat mudah didapatkan di mana saja. Lalu kenapa para pedagang itu masih merasa perlu membuat versi repro, sambil dengan tegas menyebut istilah repro?

Tentu saja alasannya satu: karena istilah eufemistis itu digunakan untuk menutup-nutupi tindakan yang sesungguhnya, yaitu pemalsuan dan pencurian terang-terangan.

Tampaknya itu cuma istilah. Tapi ia merupakan jurus branding yang sangat sakti, dan secara psikologi massa berperan sangat menentukan dalam tersebarnya buku-buku haram itu.

Saya membayangkan, ada ribuan orang yang akan bersikap jauh lebih permisif saat mendengar kata repro.

"Ini nggak ori, Gan. Repro aja, Gan. Murah, Gan."

"Oh repro ya? Tapi kualitasnya bagus kan? Tulisannya terbaca semua kan?"

"Iya, Gan. Aman. Repro KW super kok ini, Gan."

Maka transaksi pun terjadi. Dengan perasaan bersalah yang sangat minim di hati, atau bahkan tak ada sama sekali.

Akan lain halnya jika dialognya begini.

"Gan, ini nggak ori, Gan. Buku palsu aja, Gan. Bajakan, Gan. Colongan ini, Gan."

Bagaimana perasaan calon pembeli? Jadikah dia membeli?

***

Saya heran. Kenapa sampai hari ini isu pembajakan seolah dipandang tak lebih sebagai masalah kriminalitas yang merugikan kepentingan ekonomi orang per orang, dan tidak pernah diakui sebagai problem besar kebudayaan? Barangkali karena secara kolektif kita tidak cukup mampu mencerna hal ihwal secara utuh dan menyeluruh.

Banyak orang mengira bahwa kerugian yang diderita akibat pembajakan, khususnya atas buku-buku, hanya memotong potensi royalti dari seorang penulis. Maka, bayangan kejahatan itu tak lebih dari jatah 10% hak royalti penulis. Untuk buku seharga 70 ribu, misalnya, kalau kita membeli satu eksemplar buku palsu, artinya kita "hanya" mencuri 7 ribu rupiah saja dari royalti penulis.

Kemudian kita berpikir simplistis. Penulisnya sudah kondang kok, sudah kaya. Nggak usah terlalu galau.

Padahal, penerbitan sebuah buku merupakan rangkaian proses yang padat karya. Dalam terbitnya satu judul buku, ada banyak sekali pihak yang terlibat di perputaran ekonominya. Mulai dari penulis, editor, pemeriksa aksara, perancang perwajahan isi, perancang sampul, buruh cetak, buruh penata kertas hasil cetakan, operator mesin banding atau jilid, operator mesin potong kertas, operator plastic wrapping, karyawan di gudang perusahaan distribusi, para sopir yang mengirimkan buku ke ratusan toko, hingga karyawan toko-toko buku dan segenap reseller.

Pendek kata, jika Anda membeli satu eksemplar saja buku bajakan, telah ada ratusan jiwa yang Anda zalimi, berikut segenap anggota keluarga mereka masing-masing.

Lantas dari mana alibi yang sering muncul dengan heroik, seolah-olah tindakan membeli buku bajakan adalah bentuk perjuangan melawan kapitalisasi ilmu pengetahuan? Perjuangan macam apa yang justru menyengsarakan ratusan kehidupan?

Mari kita perluas lagi spektrum peta ekonomi-perbukuan ini.

Dua malam lalu, saya berjumpa dengan Mas Hairus Salim, salah seorang aktivis senior di Jogja. Dia bercerita bahwa belum lama berselang, seorang pengusaha perbukuan berjumpa dengannya. Mas Salim bertanya, kenapa penerbit milik kawannya itu tak lagi meluncurkan buku-buku bacaan umum berbagai tema, dan cuma berkonsentrasi pada buku-buku pelajaran sekolah saja.

"Berat, Mas Salim, kalau menerbitkan buku-buku umum," kata si pengusaha penerbitan itu. "Kalau buku sekolah kan masa hidupnya nggak panjang. Kita cetak sekarang, tahun depan mungkin harus revisi materi lagi. Tapi kalau buku umum, begitu tampak agak laris, langsung bajakannya keluar semua. Selama sekian tahun buku itu beredar di pasaran, yang lebih laris malah versi bajakannya."

Lihat. Sebuah penerbit yang lumayan besar, dan dulu saya ketahui menerbitkan banyak buku berkualitas untuk pendidikan publik, sekarang memilih meninggalkan semua itu. Karena pembajakan, penerbitan buku bermutu jadi bisnis yang sangat tidak menguntungkan.

Dari kasus itu tampak sekali bahwa dalam setiap tindakan kita membeli satu buku bajakan, kita berkontribusi bukan hanya pada rusaknya jalur penghidupan segenap stake holder produksi buku versi asli yang kita beli bajakannya, melainkan juga kepada semua pihak yang terlibat dalam aktivitas industri di perusahaan penerbitan terkait.

Akibatnya, bukan cuma berkurangnya rezeki banyak orang, melainkan hilangnya mata pencaharian. Anda bisa membayangkan, penutupan unit produksi buku umum di penerbit milik kawan Mas Salim tadi berkonsekuensi pemutusan kontrak dengan banyak sekali orang yang bekerja di sana.

Ringkas kata: Anda membeli satu buku bajakan, tidak jauh beda artinya dengan Anda turut andil dalam mengeroyok dan membunuh orang. Ini serius.

Mari kita perluas lagi dan lagi. Dengan matinya produksi buku-buku, siapa yang akan dirugikan selanjutnya? Ya, tentu saja masyarakat pembaca sendiri. Matinya industri buku akibat produk-produk mereka terus dicuri akan menyebabkan hilangnya akses luas atas pengetahuan.

Mari kita perjelas semakin jauh lagi: satu keputusan Anda untuk membeli buku bajakan adalah kontribusi nyata bagi semakin jauhnya masyarakat kita dari proses pencerdasan. Anda memberikan sumbangsih nyata bagi pembodohan besar-besaran.

Lantas dari mana munculnya klaim-klaim bahwa pembajakan buku, mulai versi cetak hingga PDF yang disebarkan di internet, adalah perjuangan penuh heroisme untuk mencerdaskan rakyat jelata?

***

Anda yang belum paham situasi sesungguhnya dari industri pembajakan ini barangkali menganggap gambaran saya terlalu berlebihan. Namun cerita-cerita itu sudah cukup lama saya dengarkan.

Di Jogja saja, di lapak-lapak pasar buku, para pedagang buku belakangan lebih suka memajang buku-buku bajakan di etalase depan. Tentu karena murah, dan lebih cepat larisnya. Ketika seorang kawan pura-pura ingin membeli dalam jumlah besar, para pedagang di sana mengatakan bahwa hanya dalam dua hari mereka sanggup menyediakan ratusan eksemplar bajakan dari suatu judul buku.

Terbongkarlah sudah. Jangan membayangkan bahwa aktivitas pencurian itu hanya muncul satu-dua kasus di toko-toko daring. Ini industri besar. Industri yang sangat besar. Para pembajak itu punya segenap infrastruktur dan jaringan pembajakan, yang dengan kekuatan modal besar mampu bertahan dari serbuan pasal-pasal hukum yang semestinya ditegakkan.

Hampir semua penggiat perbukuan Jogja yang saya kenal tahu fakta-fakta itu. Tapi sudah belasan tahun berjalan, segenap ikhtiar perlawanan tidak membawa hasil yang signifikan. Ada benteng kekuatan uang, jaringan "keamanan", bahkan juga jaringan kekuasaan, yang amat sulit dirobohkan.

***

Pada 26 Agustus lalu, kawan-kawan saya dari Konsorsium Penerbit Jogja mendeklarasikan perlawanan massal kepada para pembajak buku. Deklarasi itu disempurnakan dengan pelaporan resmi ke kepolisian, agar segala bisnis haram pembajakan ini dibabat habis-habisan.

Saya membayangkan segenap elemen masyarakat yang mampu memahami masalah dalam spektrum luas turut bergabung dalam gerakan ini. Jika Anda pedagang online maupun offline, berhentilah menjual buku bajakan. Jika Anda pembaca buku, berhentilah membeli buku bajakan. Jika Anda aktivis literasi, jangan pernah menyesatkan banyak orang dengan menebar pandangan sempit bahwa membaca buku bajakan merupakan bentuk perjuangan demokratisasi akses pengetahuan.

Jika Anda pemuka agama, segeralah keluarkan fatwa bahwa menjual, membeli, maupun membaca buku bajakan itu haram hukumnya, dan setiap pelakunya akan dibakar selama 5000 tahun di kerak neraka.

Ah, saya jadi ingat wajah almarhum Kiai As'ad Humam di sampul belakang buku Iqro' Jilid 1 sampai 6 itu. Seolah-olah kalimat pendek di bawah foto beliau itu langsung beliau sendiri yang mengucapkan:

"Hati-hati buku bajakan! Bisa tidak barokah!"

Iqbal Aji Daryono esais, eks Juru Bicara Serikat Kaum Buku Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com