detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 30 Agustus 2019, 11:06 WIB

Kolom

Ceramah Ramah Lingkungan

Arief Balla - detikNews
Ceramah Ramah Lingkungan Sampah plastik di sebuah sungai (Foto: Sachril)
Jakarta -
Salah satu khatib favorit saya di Masjid An Noor saat berkuliah di Carbondale, Illinois adalah seorang mubalig dari Afganistan. Saya lupa namanya, tetapi pesan-pesan khotbahnya jauh lebih penting saya ingat. Dua kali dia membawakan khotbah berturut-turut dengan poin yang sama. Ia mengajak pengurus dan jemaah masjid mengurangi penggunaan botol plastik. Ke depan ia bahkan mencanangkan kampanye "zero plastic" di masjid itu.

Tampaknya dia merasa memiliki kekhawatiran bahaya botol plastik. Bukan apa-apa, di masjid kami di kota kecil itu, setiap kali acara entah buka puasa bersama atau pengajian, botol-botol air minum berserakan. Entah ukuran besar atau kecil. Botol plastik ukuran kecil jauh lebih banyak sehingga jumlah sampahnya pun jauh lebih besar lagi.

Sang khatib senantiasa mengingatkan ayat-ayat yang membahas pentingnya menjaga lingkungan, terutama ayat yang berbunyi (artinya): "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia." (Ar-Rum:41). Berkali-kali ia mengingatkan plastik yang butuh ribuan tahun untuk terurai. Sebagai catatan, botol plastik dan popok butuh 450 tahun baru terurai. Botol plastik yang tidak sempat didaur ulang seringkali bisa sampai ke laut dan samudera. Tentu sampah-sampah plastik ini membahayakan ekosistem laut.

Dalam banyak video yang mungkin kerap kita jumpai, ada banyak hewan-hewan air yang menderita bahkan mati tersiksa karena sampah plastik. Ada Paus yang ditemukan mati terdampar di pinggir pantai. Ketika perutnya dibedah ditemukan 5,9 kilo sampah plastik. Ada kura-kura yang tidak dapat berenang karena kepalanya tertutupi plastik. Dan kita belum menyebut ikan-ikan yang mati karena habitatnya yang rusak karena sampah plastik.

Saya pikir kita kekurangan ustaz-ustaz seperti dia. Ustaz-ustaz yang isi ceramahnya langsung ke jantung persoalan nyata yang sedang kita hadapi. Sampah plastik adalah peringatan betapa bumi kita tidak sedang baik-baik saja. Menurut studi, setiap satu menit ada satu juta penjualan botol plastik. Bisa dibayangkan ada berapa per hari, per minggu, per bulan, dan per tahun. Sementara sampah botol plastik membutuhkan 4,5 abad agar dapat terurai.

Sayang, sebab tidak banyak ustaz seperti dia terutama di Indonesia ini. Hari pertama ketika kembali ke Tanah Air, kebetulan bertepatan Hari Jumat. Saya pun berkesempatan melaksanakan Salat Jumat pertama. Sang khatib yang tampak masih muda dan seumuran saya itu berapi-api membahas bolak-balik soal iman, kafir, surga, neraka, dan akhirat. Ustaz seperti ini hanya satu dari sekian yang banyak ustaz yang makin hari isinya melulu soal kafir dan akhirat belaka.

Apakah ini salah? Tentu saja tidak. Sekali lagi sangat tidak salah. Tetapi bukankah kontra produktif ketika membahas surga-surga yang indah belaka tetapi seolah-olah buta selokan di depan masjid penuh sampah plastik dan sewaktu-waktu menyebabkan banjir? Kita membincangkan persoalan-persoalan yang jauh dan mengawang-awang, sementara kita tutup mata dengan masalah yang sejengkal di dekat kita.

Saya percaya bahwa Islam ini tidak melulu soal surga-neraka atau kafir-Islami. Sebagai rahmatan lil alamin sebagaimana amanah ayat awal Al Fatihah, Islam juga soal seluruh dunia termasuk alam. Setidak-tidaknya jika tidak dapat memelihara, kita tidak merusak. Sayangnya, kita umat Islam seringkali justru menjadi kontributor.

Belakangan ini tambah marak penggunaan air gelas plastik. Pengajian-pengajian diisi dengan air-air gelas. Pesta-pesta juga menggunakan air gelas lagi. Buka puasa bersama dan acara-acara di masjid juga hanya bergantung pada air gelas plastik. Dan kini dari kota ke kampung pada momen Lebaran, tuan rumah tidak lagi menyediakan teko atau tempat air seperti sebelum-sebelumnya. Mereka cukup menyediakan air gelas di meja tamu.

Air gelas plastik menjadi gaya hidup. Saya memperhatikan ini ketika pulang kampung. Bahkan di rumah saya sendiri orang-orang beralih ke air gelas. Ada beberapa alasan, memang. Praktis, murah, dan mudah. Air gelas sangat terjangkau, tersedia di kios samping rumah, dan kamu tinggal menyodorkan uang. Tuan rumah tidak lagi perlu memasak air, menyimpannya dalam teko, tak perlu menyiapkan gelas, dan tidak perlu mencuci gelas.

Sisa air gelas atau botol sisa dibuang ke tempat sampah. Selesai. Syukur kalau buangnya bukan di tempapt sembarangan. Tren air gelas kini juga menggeser penggunaan gelas-gelas di masjid. Di kampung saya yang terpencil, saya masih ingat beberapa tahun lalu kita masih menggunakan gelas biasa yang diisi dengan air dalam tempat yang disediakan. Jemaah tinggal menuang sampai ia puas. Kini berubah. Segalanya serba air gelas.

Dan akhirnya sampah-sampah air gelas itu dibuang di samping masjid. Bertumpuk-tumpuk. Lalu kemudian sedikit menggunung dan saya yakin tak lama lagi makin menggunung. Kita belum memiliki sistem daur ulang yang baik seperti di negara-negara maju. Jangankan di kampung-kampung, di kota-kota besar seperti Makassar tempat saya tinggal pun masih belum punya sistem yang benar-benar bekerja dengan efektif dan efisien.

Ketika sampah-sampah air gelas menggunung di samping masjid, para khatib tetap hanya melulu membahas kafir, neraka, dan surga. Sementara bumi yang indah dan seharusnya seperti surga ini dibiarkan rusak begitu saja. Bukan ulah siapa-siapa, tetapi ulah kita sendiri. Padahal, umat Islam yang senantiasa membaca alhamdulillahirabbilalamin. Segala Puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Rahmat bagi alam lingkungan.

Saya membayangkan jika para ustaz dan penceramah itu tidak sekadar berteriak soal surga, neraka, atau kafir, apalagi mengurusi keyakinan orang lain tetapi fokus memberikan pencerahan pada persoalan yang menjadi persoalan kita senyata-nyatanya. Persoalan-persoalan kecil yang dapat kita atasi dengan cara-cara sederhana. Misalnya dengan imbauan meminimalisasi penggunaan air gelas plastik. Dengan mengkampanyekan masjid ramah lingkungan.

Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga dan memelihara alam tetapi juga melaksanakan amanat hadis "kebersihan adalah sebagian dari iman".

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com