Kolom

Humor Politik dan Politik Humor

Rahmat Petuguran - detikNews
Kamis, 29 Agu 2019 14:15 WIB
Megawati menyampaikan sejumlah candaan saat membuka Kongres V PDIP
Megawati menyampaikan sejumlah candaan saat membuka Kongres V PDIP
Jakarta -

Megawati bercanda, Joko Widodo bercanda, pendengarnya tertawa. Itulah yang membuat Kongres V PDI Perjuangan di Bali beberapa waktu lalu terasa beda dibanding kongres sebelumnya dan kongres partai lainnya. Humor membawa warna lain dalam politik. Humor membuat arena yang mula-mula penuh ketegangan itu bisa mendadak lembut dan intim.

Dalam dunia politik, humor adalah bagian penting keterampilan berkomunikasi. Ini karena humor adalah bahasa universal. Hampir semua orang suka. Karena itu, humor bisa menjadi kendaraan berbagai jenis pesan agar bisa diterima mitra bicara tanpa penolakan.

Lihatlah cara Megawati "meminta jatah menteri" kepada Presiden terpilih Jokowo Widodo. Secara konvensional, ini tindakan yang cenderung tidak etis disampaikan di ruang publik. Masyarakat tak suka elite bagi-bagi kekuasaan. Terlalu transaksional. Tapi karena disampaikan dengan humor, orang cenderung memakluminya.

Begitu juga dengan cara Joko Widodo "menjanjikan jatah menteri" terbanyak bagi PDIP. Ini tindakan yang bertentangan dengan mantra "syaratnya adalah tanpa persyaratan" yang berulang kali disampaikannya. Namun humor membuat pesan itu lebih mudah diterima. Tak ada respons negatif berlebihan terhadapnya.

Tentu saja kekuatan humor kedua tokoh politik ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia memberdayakan humor lebih daru sarana komunikasi politik. Ia bahkan menghayati humor sebagai bagian dari jalan hidup. Itu salah satu faktor yang membuat diri dan gagasannya diterima secara luas. Bahkan lawan politik bisa terbahak-bahak dibuatnya.

Pandangan Negatif

Oleh para filsuf, humor sebenarnya dianggap kurang terhormat sebagaimana tertawa. Tawa dianggap sebagai kenikmatan dunia yang perlu dihindari. Kalaupun boleh dinikmati, jangan sampai berlebihan. Humor dan tawa adalah eskapisme psikologis yang membuat orang cenderung menjauhkan diri dari kesadaran eksistensial dirinya.

Ada beberapa pandangan filosofis yang menempatkan humor di median negatif. Plato memandang tawa sebagai emosi yang dapat mengurangi pengendalian diri dan pikiran rasional. Karena itulah, dia mengatakan bahwa wali negara sebaiknya menghindari tawa. "Biasanya ketika seseorang meninggalkan tawa dengan kekerasan, kondisinya memprovokasi reaksi keras," tulisnya sebagaimana dikutip Standford Enscyclopedia of Philosophy.

Yang terutama mengganggu Plato adalah bagian-bagian di Iliad dan Odyssey ketika Gunung Olympus dikatakan berdering dengan tawa para dewa. Dia memprotes bahwa "Jika ada orang yang digambarkan dikuasai oleh tawa, kita tidak boleh menerimanya. Apalagi jika dewa."

Dari sikapnya yang keberatan dengan dengan tawa inilah Plato berpendapat bahwa dalam kondisi ideal, tawa mestinya dikontrol dengan ketat. Ia memandang tertawa mestinya cukup menjadi tradisi di kalangan budak atau pekerja asing. Sementara orang-orang bebas, baik laki-laki maupun perempuan, harus menghindarinya.

Pemikiran Yunani Kuno pasca-Plato juga memiliki pandangan negatif yang sama tentang humor dan komedi. Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles sependapat dengan Plato bahwa tertawa berarti mencemooh.

Orang-orang Stoa, dengan penekanan mereka pada pengendalian diri, setuju dengan Plato bahwa tawa mengurangi kontrol diri. Epictetus, filsuf dari Stoa, menasihati: "Janganlah Anda tertawa keras, terlalu sering, atau tidak terkendali." Para pengikutnya mengatakan bahwa Epictetus sendiri tidak pernah tertawa sama sekali.

Penilaian negatif para pemikir Yunani Kuno terhadap tawa dan humor mempengaruhi pemikir Kristen pada periode awal, dan kemudian juga mempengaruhi kultur Eropa. Sikap ini diperkuat oleh pernyataan negatif Alkitab tentang tawa dan humor yang menarasikan tawa sebagai ekspresi permusuhan.

Pandangan negatif terhadap humor dan tawa juga muncul pada periode awal Islam. Meskipun ada berbagai hadis yang menunjukkan Nabi Muhammad kadang bercanda dengan sahabat-sahabatnya, hadis lain menekankan agar tertawa dilakukan dengan porsi yang tepat. "Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati," begitu bunyi terjemahan hadis itu.

Banyak Fungsi

Pandangan negatif terhadap humor tampaknya muncul karena humor diposisikan dalam dua hal. Pertama, humor difungsikan sebagai cara mengolok-olok kekurangan orang lain. Kedua, humor digunakan sebagai cara melarikan diri dari realitas kehidupan.

Namun belakangan, humor disadari memiliki banyak fungsi, tidak terbatas pada dunia fungsi tersebut. Oleh karena itu, pandangan publik terhadap humor semakin positif. Humor jadi keterampilan komunikasi yang sangat berguna di berbagai tempat dan suasana.

Kesadaran itu muncul terutama setelah humor ditemukan formula pragmatiknya. Untuk menciptakan dampak lucu, humor bekerja dengan cara; pertama, mengungkapkan sesuatu yang ganjil. Kedua, mengatakan kebenaran konvensional tanpa harus mengatakannya.

Pada masa Romawi, humor politik lebih banyak memanfaatkan formula pertama melalui parodi. Aktor panggung akan memerankan tokoh tertentu dengan perilaku yang berlebihan. Perilaku berlebihan melahirkan keganjilan. Perasaan aneh akibat melihat perilaku ganjil inilah yang melahirkan kelucuan dan memantik tawa.

Dalam dunia politik modern, formula kedua lebih banyak digunakan, yaitu mengatakan kebenaran tanpa harus mengatakannya. Dalam teori linguistik, formula itu disebut implikatur yaitu strategi retorik dengan mengungkapkan sesuatu secara tersirat. Ketika mendengar pesan tersirat, orang terdorong untuk mencari maksud di baliknya. Ketika pesan di balik ujaran itu ditemukan, otak menyambutnya dengan respon tertentu yang memicu lahirnya tawa.

Belakangan humor memiliki begitu banyak variasi. Ada istilah "humor terang" yang bisa dipahami kelucuannya tanpa berpikir terlalu mendalam, ada "humor gelap" yang sangat simbolik dan terbatas pada kalangan tertentu.

Tiap jenis humor membawa implikasi berbeda terhadap proses komunikasi. Karena itulah, politisi musti berhati-hati menyesuaikan gaya humor dengan maksud yang ingin disampaikannya. Pilihan yang keliru bukan hanya membuatnya tidak lucu, tapi membuatnya mendapat penolakan brutal. Pilihan keliru juga akan membuat pesan politik yang diinjeksi dalam humor tidak akan sampai.

Meski beda gaya dengan Gus Dur, Barack Obama adalah tokoh politik yang berhasil memberdayakan humor dalam komunikasi politiknya. Di berbagai acara resmi di Gedung Putih, ia melontarkan guyon segar yang membuat hadiri tertawa. Itu membuat suasana pertemuan formal lebih intim, sebuah pembuka yang bagus untuk lobi-lobi politik.

Humor yang gagal bisa kita ambil contoh dari pengganti Obama, yakni Presiden Donald Trump. Lihatlah salah satu cuitannya ini: In the East, it could be the COLDEST New Year's Eve on record. Perhaps we could use a little bit of that good old Global Warming. Bagi banyak orang, cuitan itu sama sekali tidak lucu. Itu bodoh. Tapi Trump adalah Trump.

Rahmat Petuguran dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang



(mmu/mmu)