detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 19 Agustus 2019, 16:02 WIB

Kolom

Kisah Cinta dan Kekalahan

Chairul Akhmad - detikNews
Kisah Cinta dan Kekalahan Foto: Dok. Falcon Pictures
Jakarta - Suara serak legenda musik Iwan Fals menyeruak dalam keheningan bioskop yang baru saja berubah gelap. Kulihat ibu pertiwi. Sedang bersusah hati... Di layar, kilasan-kilasan acak gambar hitam putih dan prolog Minke, sang tokoh utama, menandai dimulainya film Bumi Manusia.

Modern. Itulah kata pertama yang dipilih Minke saat membuka kisah hidupnya, selaras dengan penampakan Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Bagi sang tokoh, 'modern' adalah kata yang tepat untuk menggambarkan tanah jajahan yang mulai menikmati keajaiban teknologi. Moda transportasi macam kapal laut (dalam kemasan CGI yang agak 'mentah'), kereta api, trem, hingga mesin ketik menandai era baru tanah jajahan.

Sekilas, kita serasa terseret dalam lintasan mesin waktu menuju alam Hindia dan kehidupan pribuminya seabad lampau. Sayang kegairahan itu tak berlangsung lama. Begitu adegan pertama menampilkan Minke di rumah kos, dengan warna furnitur dan bangunan rumah yang berkilap, seketika hasrat akan tersajinya 'keindahan' Hindia pun memudar.

Yang tampak di layar adalah suasana tempo dulu yang dipaksa hadir dengan bungkus warna-warna gemilang. Sebuah era kolonial dalam kemewahan lanskap artifisial. Penampakan Surabaya dari udara sebagai salah satu kota besar Hindia tak tervisualisasi dengan 'layak'.

Bumi Manusia adalah film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer, sastrawan ternama dengan karya-karya khas berlatar sejarah. Bagi Anda pembaca buku atau penggemar Pram, jangan berharap film ini dapat memuaskan imaji Anda tentang mimpi besar Minke. Kiprah 'Sang Pemula' itu dalam menggedor dinding tebal kolonialisme dan sekat-sekat feodalisme minim visualisasi.

Narasi-narasi besar tentang persamaan hak, kesetaraan derajat, tak terlihat di layar. Yang dominan adalah kisah cinta Minke-Annelies dengan segala gelak dan tangis di rumah gedong Boerderij Buitenzorg. Ini kisah cinta dalam balut perjuangan, bukan perjuangan yang digarami kisah cinta.

Sang sutradara, Hanung Bramantyo, tak peduli filmnya dianggap tak sesuai dengan buku, latar waktu, dan tempat. Bagi dia, yang terpenting adalah membuat kaum milenial menikmati karya Pram. Hanung enggan mengejar pujian sesuai pembaca novelnya. "Saya enggak mau... Itu bikin saya stres," ujarnya sebagaimana dilansir media.

"Yang saya kejar adalah saya harus melihat bahwa karya Pak Pram, yang saya baca sembunyi-sembunyi saat itu, harus dibaca dengan perasaan gembira oleh anak-anak ini," tegas Hanung.

Saya masih mau menerima bahwa Hanung kesulitan --entah memang sengaja atau tidak-- mengadopsi narasi besar Minke tentang perjuangan dan pembebasan. Kesulitan menentukan lokasi yang tepat maupun mahalnya biaya CGI bisa jadi kendala dalam menampilkan kemegahan Surabaya masa itu.

Namun, jangan lupa. Pembuat film ini adalah adalah salah satu sutradara terbaik Tanah Air. Ia membuktikannya lewat dua penghargaan pada 2005 dan 2007. Kolaborasinya dengan sang penulis skenario, Salman Aristo, adalah 'jaminan mutu' bahwa film ini layak dibuat sesuai kebesaran novelnya. Apalagi Hanung dan timnya melibatkan sekitar 60 persen pemain keturunan Belanda.

Kekalahan

Kisah cinta ini bermula ketika tangan lentik Annelies (Mawar Eva de Jongh) meletakkan sekuntum mawar merah di sebuah vas bunga yang berdiri tegak di atas meja. Sang 'putri' Buitenzorg lantas melangkah keluar ruangan dengan anggun ketika kakaknya, Robert Mellema (Giorgino Abraham), menemui dua orang tamu di teras rumah. Mereka adalah Robert Suurhorf (Jerome Kurnia) dan kawannya, Minke (Iqbaal Ramadhan). Annelies menyapa Minke-si pribumi-yang tersisih dan duduk di kursi berbeda dengan Robert dan Suurhorf.

Dari awal, Robert tak suka melihat Minke. Apalagi ketika melihat adiknya berbincang dan tampak akrab dengan siswa HBS (Hoogere Burgerschool) tersebut. Ego ke-indo-annya bergelegak melihat pribumi 'bermesraan' dengan sang adik.

Perasaan yang sama juga menular pada Suurhorf. Ia yang seharusnya berupaya mendapatkan perhatian Annelies malah tercampak. Suurhorf harus mengikuti kemauan Robert pergi berburu, meninggalkan Annelies-Minke berduaan dalam percakapan intens hingga senja menjelang.

Dan di sanalah, di rumah gedong itu, Minke mendapatkan pengalaman yang mengubah total perjalanan hidupnya. Ia bertemu Sanikem alias Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), ibunda Robert dan Annelies, yang minta dipanggil Mama. Ontosoroh adalah perempuan pribumi yang menjadi gundik, sebuah label yang mengundang cibir sebagian besar orang.

Namun gambaran gundik yang selama ini terpatri dalam benak Minke akibat persepsi yang dijejalkan omongan orang, tak tampak pada sosok Mama. Si Nyai justru jauh lebih 'Eropa' ketimbang orang Eropa sendiri, bahkan kaum peranakan lainnya. Hal ini terpancar dari pengetahuannya, caranya berkomunikasi, keberhasilan membesarkan anak, hingga keuletannya mengelola perusahaan.

Nyai Ontosoroh harus berjibaku mengurus rumah tangga dan bisnis yang diabaikan tuannya, Herman Mellema (Peter Sterk). Herman yang terperangkap dalam jerat candu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Baba Ah Tjong (Chew Kin Wah) hingga maut menjemputnya.

Di mata Minke, Ontosoroh adalah perwujudan nyata manusia 'modern' yang lahir dari rahim Bumiputera tanpa memandang statusnya yang 'hina'. Gambaran ideal Nyai itu begitu sempurna melambangkan kebebasan dan perlawanan. Dan justru 'keanggunan' dan 'kebesaran' si Nyai inilah yang paling menonjol dalam film.

Iqbaal dan de Jongh terlihat berusaha keras 'unjuk diri', walau tak terlalu maksimal. Namun bagi penonton milenial dan non-pembaca buku, Iqbaal dan de Jongh jelas merupakan pelakon ideal yang pantas menjadi Minke dan Annelies. De Jongh bisa dikatakan cukup berhasil menampilkan kepribadian Annelies yang rapuh, 'kolot', kurang gaul, bahkan sakit-sakitan.

Kisah cinta Minke-Annelies seolah terbenam di balik pesona Mama yang diperankan hampir sempurna oleh Sha Ine Febriyanti. Perwatakan Ontosoroh yang keras, teguh, kokoh, dan pemegang kendali begitu hidup dalam lakon yang diperankan Ine. Sanikem, si wanita pejuang itu, tetap tegar walau kerap didera kekalahan.

Kekalahan pertama Sanikem adalah ketika harus terusir dari rumah demi kelangsungan hidup keluarga besarnya. Sang ayah tega menjualnya kepada seorang 'Londo' pejabat pabrik. Jerit tangis dan protesnya tak cukup ampuh hentikan kereta kuda yang membawanya pergi. Koper butut berwarna cokelat, satu-satunya harta pusaka yang ia bawa, jadi landasan Sanikem melepas segala getir.

Koper butut itu jadi penegas, bahwa ia telah kehilangan puncak segala kepemilikan; cinta dan kasih sayang keluarga. Bahkan, harga dirinya! Ya, Sanikem hanya ditebus seharga 25 Gulden (sekitar Rp 200 ribu saat ini). Untuk ukuran tempo dulu, angka 25 Gulden itu mungkin lumayan mahal.

Kekalahan kedua Sanikem adalah ketika ia harus rela kehilangan hak asuh atas putri tercinta dan seluruh harta benda yang selama ini ia pertahankan. Keputusan pengadilan kolonial yang tak mungkin berpihak pada pribumi-apalagi gundik-menghancurkan kecintaan terbesar di hati manusia; cinta seorang ibu pada anak kandungnya.

Di ruang pengadilan yang 'angker' itu, di mana hukum tak bakal menawarkan keadilan, Ontosoroh melepas sandal, sebelum duduk terkulai di muka hakim. Ia harus berjalan sambil jongkok, dipaksa merendahkan diri, di samping putrinya yang berjalan tegak.

Ah, gambaran 'penindasan' kelas itu teramat kuat membetot emosi. Ine benar-benar 'menghidupkan' Ontosoroh ke dunia nyata. Tegar, perkasa, kuat, namun dipaksa merendah akibat kejamnya pembedaan kelas manusia. Sorot mata, gerak bibir, mimik, bahkan raung Ontosoroh dalam adegan sidang itu-menurut saya-jadi adegan terbaik di sepanjang film.

Hanung berhasil menampilkan adegan ini sedramatis mungkin. Bagaimana pesakitan pribumi harus direndahkan, serendah-rendahnya hingga kerak bumi. Bumi di mana manusia mestinya hidup dalam kesetaraan tanpa memandang predikat -hamba atau kawula, ambtenaar atau proletar.

Namun di kolong langit kolonial, hidup tak seindah impian Minke. Ia dan Mama harus rela berpisah dengan orang yang paling dikasihi. Dan ketika tiba waktunya pergi, Annelies yang rapuh dan sakit-sakitan itu mendadak jadi pribadi yang tegar. Berbanding terbalik dengan sikapnya selama ini yang selalu bergantung pada Mama dan Minke. Hal sebaliknya justru dialami Minke dan Mama.

Annelies meminta koper butut milik bundanya. "Dengan membawa koper ini, aku tak akan kembali ke rumah ini," adalah kata perpisahan yang keluar dari mulut Bunga Akhir Abad itu.

Annelies pergi dengan senyum ketegaran, meninggalkan kekalahan nan tragis pada Mama dan Minke. Sekuntum mawar merah ia letakkan di dalam vas, lantas keluar rumah, naik kereta tanpa menoleh ke belakang lagi. Cinta Annelies dan Minke berakhir pada kuntum mawar merah di dalam vas. Sementara cintanya pada sang Mama lenyap di dasar koper butut berwarna cokelat.

Dan kata-kata magis sang Nyai kepada Minke sebagaimana tertulis dalam novel, "Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya," menutup adegan film sepanjang tiga jam, seiring peluk getir dua manusia yang kalah dan terempas. Ya, mereka kalah --kehilangan Annelies. Sebuah kekalahan bermartabat dalam 'perang' yang tak mungkin mereka menangkan.

Kulihat ibu pertiwi. Sedang bersusah hati. Air matanya berlinang... kembali mengalun lembut, diiringi gerak lambat kamera yang menjauh, lantas menyisakan gelap.

Chairul Akhmad jurnalis CNN Indonesia TV


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com