Kolom

Kembali pada Nasionalisme Diskursif

Fially Fallderama - detikNews
Sabtu, 17 Agu 2019 13:17 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -
Agustus dan nasionalisme adalah dua kata sakral bagi Republik Indonesia, karena nasionalisme merupakan salah satu pemicu imajinatif kemerdekaan Indonesia dalam masa perjuangan lalu mewujud pada 17 Agustus 1945. Dari situ, dapat dipahami betapa kedua kata itu menjadi sangat bermakna, karena memiliki keterkaitan historis. Oleh sebab itu, lazim pada bulan Agustus bertaburan narasi atau ungkapan bernada nasionalis di media sosial.

Bukan hanya itu, nasionalisme belakangan ini menjadi semacam bahasa sehari-hari dalam masyarakat. Tampaknya, ini dipicu oleh situasi hari-hari ini seperti meningkatnya sikap intoleransi antarwarga negara dan maraknya tindak kekerasan dengan nama agama sehingga memicu ketakutan dalam ruang publik. Menyikapi situasi itu maka nasionalisme dan Pancasila dihadirkan sebagai lawan bagi musuh-musuh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejak saat itu, banyak dari masyarakat menjadi corong negara untuk mengampanyekan nasionalisme melalui ragam ekspresi seperti narasi di media sosial atau pakaian yang identik dengan warna bendera atau budaya lokal di Indonesia guna menolak kultur dan nilai yang berpotensi memecah-belah bangsa.

Di tengah semaraknya nasionalisme Indonesia, Kemendikbud bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk berpartisipasi dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) guna memunculkan jiwa nasionalisme dalam sanubari tiap pelajar di Indonesia. Kebijakan ini menuai kontroversi dari kalangan masyarakat sipil dengan ragam alasan mendasar, tetapi bagi negara ini perlu dilakukan guna menumbuhkan rasa cinta negara sebagai anti-bodi generasi muda agar tidak dijangkiti oleh fanatisme agama dan nilai-nilai asing.

Situasi ini memberikan gambaran bahwa hari-hari ini nasionalisme lahir dari ketakutan bukan pemahaman sehingga nasionalisme itu bersifat reaksioner. Realitas ini memicu kegelisahan terhadap "nasionalisme tiba-tiba" yang sedang digandrungi sebagian masyarakat. Di tengah momen pengenangan kemerdekaan Republik Indonesia kita perlu memikirkan ulang tentang nasionalisme, jangan-jangan apa yang kita gandrungi dan gembar-gemborkan memiliki potret muram yang tak disadari. Oleh sebab itu, kita perlu menelusurinya secara historis agar dapat menjaga jarak dengan masifnya nasionalisme hari-hari ini.

Retrospektif

Akhir-akhir ini dalam ruang publik sedang berlangsung kampanye mengedepankan budaya bangsa seperti memakai kembali pakaian khas daerah (batik, kebaya, dan konde), menambah wawasan kedaerahan, menyanyikan atau mendengarkan lagu-lagu nasional, dan memakai simbol-simbol Pancasila dan merah putih di media sosial.

Salah seorang akademisi di Universitas Monash, Ariel Heryanto mengatakan dalam Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia bahwa sentimen nasionalisme yang berlebihan terus berjaya di Indonesia kini. Di tengah peperangan dan perayaan "nasionalisme tiba-tiba", ternyata nasionalisme yang diusung oleh masyarakat mengandung masalah yaitu bersifat primordial. Argumen ini menggiring kita untuk menggali kembali nasionalisme pra-kemerdekaan sebelum terisap lebih jauh ke dalam nasionalis latah di masa kini. Dalam hal ini, diperlukan upaya retrospektif guna mempertanyakan nasionalisme hari ini.

Hendrik Kraemer salah seorang misionaris dan intelektual Kristen dari Belanda yang bersimpati dengan gerakan nasionalisme di Hindia Belanda. Bahkan, pada 1930-an Kraemer sudah memakai nama "Indonesia" dalam pertemuan internasional. Selain itu, ia juga mengkritisi Agresi Militer Belanda 1947 dan 1949 yang banyak memakan korban. Ini menjadi salah satu bukti bahwa nasionalitas pada zaman Hindia Belanda tidak sebatas kaum bumiputra melainkan melibatkan kaum barat yang kerap digambarkan antagonis dalam media dan sejarah nasional.

Tentu, Hendrik Kraemer adalah salah satu tokoh non-bumiputra, selebihnya masih terdapat nama-nama lain yang melibat dalam geliat sosial-politik di Hindia Belanda. Dari sini, dapat dilihat bahwa bukan persoalan primordialisme dan etnisitas yang mendorongnya mengkritik kolonialisme dan membela warga Hindia Belanda, melainkan adanya semangat kritis-visional Kraemer guna terciptanya tatanan masyarakat imajinatifnya. Ia mendorong adanya kerja kolektif dalam kelompok pergerakan kemerdekaan di Hindia Belanda melampaui agama, etnis, dan golongan agar imajinasi Indonesia merdeka itu dapat segera menubuh dan memunculkan wajah sosial baru.

Oleh sebab itu, kita perlu mengingat bahwa Sukarno juga menyinggung soal nasionalisme dalam pidato Pancasila 1 Juni 1945. Ia menegaskan bahwa nasionalisme itu bukan nasionalisme yang menyendiri (chauvinisme), melainkan sebuah nasionalisme yang internasionalis-humanis. Sebuah nasionalisme yang menjunjung tinggi persaudaraan bangsa-bangsa yang membebaskan.

Sejarah mencatat, pada masa pra-Orde Baru konsep kebangsaan bermuatan sebuah imajinasi dan kerja kolektif untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil, egaliter, progresif dan beradab. Itu terlihat saat Indonesia menyumbangkan beras kepada India pada 1947 dan menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955 bersama negara-negara baru merdeka untuk membangun sinergitas.

Kedua narasi itu menunjukkan bahwa nasionalisme yang tumbuh di kalangan leluhur intelektual Indonesia bersifat modern, kosmopolitan, dan progresif. Tentu, narasi-narasi sejarah ini memberikan sebuah gambaran pencerahan sekaligus mematahkan masifnya logika nasionalisme sempit.

Dialogis

Semenjak Indonesia merdeka, nasionalisme malah bersifat primordial, etno-kultural, dan feodal. Seolah-olah, Indonesia adalah warisan dari nenek moyang dari zaman dahulu sehingga sebagai waris dari nenek moyang merasa memiliki hak istimewa dan tanggung jawab untuk menjaga tradisi dan nilai. Secara tak sadar, sudut pandang ini merupakan sifat konservatif dan feodal yang dulu digugat oleh Ibu dan Bapak Bangsa Indonesia.

Ironisnya, gagasan sempit ini tumbuh subur di era modern guna melawan kelompok kontra pluralisme. Alhasil, dapat disimpulkan bahwa nasionalisme yang berpijak pada primordialisme dan etnisitas merupakan nasionalisme yang buruk dan bertolak belakang dengan imajinasi dan kerja kolektif para pendiri bangsa.

Dengan demikian, kita perlu melihat kembali gagasan nasionalisme yang dipupuk oleh Ibu dan Bapak Bangsa guna menghidupi imajinasi Republik Indonesia beberapa puluh tahun lalu. Mungkin dapat dibilang nasionalisme diskursif. Sebuah nasionalitas dialogis dengan macam-macam ide guna menelurkan sebuah gagasan dinamis dalam sosial-politik.

Oleh karena itu, nasionalitas diskursif memiliki tugas membangun tatanan masyarakat modern yang deliberatif-edukatif sehingga politik kewarganegaraan dapat bergulir dalam demokrasi. Ini merupakan fokus dari nasionalisme diskursif yakni memproduksi-ulang kultur yang berorientasi pada partisipasi publik. Sebuah masyarakat partisipatif dalam sosial politik dan ekonomi tanpa dibatasi oleh agama, etnis, dan feodalisme.

Akhirnya, Indonesia memiliki tantangan untuk mengusahakan potret kebangsaan yang progresif-egaliter. Bukan feodal-primordial yang satu langkah lagi menuju otoritarianisme.

Fially Fallderama pegiat lingkungan hidup di Ruang Inkarnasi Sosial (Risol Indonesia), alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta

(mmu/mmu)