Kolom

Filosofi Kemerdekaan Indonesia dan DNA Pancasila

Mardiyanto - detikNews
Sabtu, 17 Agu 2019 11:15 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -
Kemerdekaan adalah kebahagiaan (independence is happiness). Kredo usang namun masih relevan dengan konteks sekarang. Semua orang bertemu pada titik universal yang sama bahwa hanya predikat kemerdekaan yang mampu melepaskan penindasan, penghisapan, pemerasan, eksploitasi, dan penjajahan terhadap suatu bangsa.

Tentunya transformasi status sebuah negara dari belum merdeka menjadi merdeka adalah sebuah kebahagiaan yang pastinya disambut baik oleh setiap warga negara. Terlepas masih ada individu yang mengkritik atau mempertanyakan kemerdekaan negaranya, sadar atau tidak sadar kritik atau pertanyaan tadi setidaknya baru bisa hadir pada realitas negara yang telah merdeka. Selama masih dalam koridor yang wajar, maka kritik atau pertanyaan tadi merupakan bagian dari proses untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Di Indonesia, 17 Agustus 1945 adalah momen paling bersejarah dalam proses untuk mencapai negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Sebuah pendeklarasian untuk terbebas dari imperialisme dan bentuk penentangan nyata terhadap exploitation de I'homme par I'homme. Proklamasi Kemerdekaan merupakan pernyataan formal negara Indonesia kepada bangsanya dan dunia internasional bahwa sejak detik itu negara Indonesia adalah negara merdeka. Pengungkapan secara lantang selantang-lantangnya kepada dunia bahwa negara Indonesia adalah negara independen yang berhak dan berwenang untuk menentukan nasib dan arah bangsa serta tanah airnya sendiri.

Penegasan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah sebatas pemberian belaka, melainkan pencapaian atas proses perjuangan dan pengorbanan yang panjang serta penuh duka dan lara di Tanah Air beta. Ibu Pertiwi menjadi saksi atas bersimbahnya darah demi perjuangan atas nama nusa dan bangsa. Sehingga sudah semestinya generasi hari ini bersyukur untuk setiap nikmat kemerdekaan yang mereka alami dan rasakan semenjak ia terlahir ke dunia.

Secara filosofis kemerdekaan Indonesia dapat dibedah dari tiga aspek, yakni ontologi (eksistensi realitas), epistemologi (esensi realitas), dan aksiologi (nilai realitas). Secara ontologi, kemerdekaan Indonesia adalah realitas nyata perwujudan dari kehendak masyarakat Indonesia untuk hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagai bangsa yang merdeka. Secara epistemologi, kemerdekaan Indonesia adalah konstruksi berpikir para founding fathers tentang desain negara yang merdeka dengan segenap cita-cita kemerdekaannya. Secara aksiologi, kemerdekaan Indonesia adalah perjuangan untuk memperjuangkan sebuah nilai (value). Nilai yang secara tegas menentang setiap bentuk kolonialisme di atas dunia.

Dalam perspektif yang lebih filosofis, setiap negara yang telah memperoleh kemerdekaan dan kedaulatannya, seketika itu pula melekat kewajiban untuk memberikan keadilan untuk setiap rakyatnya. Konsep keadilan tiap-tiap negara sangatlah beragam dan bergantung pada basis epistemologi yang dianut masing-masing negara tersebut.

Di Indonesia sendiri konsep keadilan yang diperkenalkan Sukarno adalah keadilan sosial. Suatu masyarakat atau sifat suatu masyarakat adil dan makmur, berbahagia buat semua orang, tidak ada penghinaan, tidak ada penindasan, dan tidak ada penghisapan. Nilai keadilan sosial tersebut kemudian termanifestasi dalam Pancasila dan menjadi tujuan kebangsaan.

DNA Pancasila

Berpuluh-puluh tahun yang lalu seorang cendekiawan dan politisi Amerika Serikat John Gardner (1933-1922) pernah mengatakan, "No nation can achieve greatness unless it believes in something, and unless that something has moral dimensions to sustain a great civilization." Selaras dengan hal itu, bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar karena bangsa Indonesia mempercayai sesuatu yang memiliki dimensi-dimensi moral yang menopang peradaban besar.

Pancasila adalah sesuatu itu, sesuatu yang bangsa Indonesia percayai dan mempunyai dimensi-dimensi moral yang kemudian terejawantahkan dalam setiap sikap dari yang paling sederhana sampai pada sikap tindak yang paling kompleks. Pancasila adalah cahaya penuntun bagi bangsa ini untuk menggapai peradaban agungnya. Bangsa ini adalah bangsa yang besar karena pada dirinya telah terwariskan DNA Pancasila dari leluhurnya.

DNA Pancasila itulah yang kemudian menjadi nilai dasar dalam perumusan dan pengembangan karakter dan jati diri bangsa Indonesia. Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai spirit/ruh kebangsaan; Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sebagai watak, karakter, dan kepribadian bangsa; Persatuan Indonesia sebagai ikatan kebangsaan; Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan sebagai media/wadah dan alat kebangsaan; dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia sebagai tujuan kebangsaan.

Pada 17 Agustus 2019, mereka yang ber-DNA Pancasila masih di sini menyaksikan negara yang mereka cintai masih berdiri kokoh dan tegak dalam 74 tahun kemerdekaannya. Negara yang akan terus mampu menghadapi badai di setiap lipatan-lipatan waktu perkembangan zaman. Mereka yang ber-DNA Pancasila akan selalu setia untuk Nusantara selama-lamanya. Mereka adalah kenyataan sosial bangsa Indonesia berikut ini:

Sebanyak 99,8 persen publik menganggap Pancasila sudah sesuai dan cocok dijadikan sebagai dasar dan ideologi NKRI. Sebanyak 99,5% publik menyatakan tidak ragu tentang sikapnya bahwa setiap warga negara wajib memiliki kesadaran melaksanakan ketentuan UUD 1945. Sebanyak 98,6% NKRI adalah kesepakatan nasional sebagai bentuk negara yang sudah final sehingga tidak boleh lagi diubah. Sebanyak 99,8% setuju ungkapan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia (Hasil Survei Opini Publik MPR 2019).

Mereka di atas adalah putra-putri yang ber-DNA Pancasila. Putra-putri yang terlahir dari rahim sang Ibu Pertiwi. Menjaga nama baik Sang Ibu adalah kewajiban baginya. Mendurhakai dan membangkang kepada Sang Ibu adalah keharaman baginya. Putra-putri yang bangga terlahir di Indonesia, yang bangga dibesarkan di Indonesia, dan yang bangga menjadikan Indonesia sebagai tempat berlindung sampai akhir menutup mata.

Mereka adalah pemuda-pemudi yang ber-DNA Pancasila. Yang di dalamnya mengalir deras merah darah semangat untuk mewujudkan perlindungan kepada segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Mereka adalah bangsa yang ber-DNA Pancasila. Yang di dalamnya tertanam kokok putih tulang untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Dengan semangat kemerdekaan yang menggelegar di dada, kita semua dari ujung barat Sabang sampai ujung timur Merauke adalah Indonesia. Merah adalah darah kita, putih adalah tulang kita, dan Pancasila adalah DNA kita. Kitalah SDM unggul menuju Indonesia maju itu serta wajah nyata sinergi, kolaborasi, inspirasi, dan semangat bekerja tiada henti untuk membangun negeri. Semoga Tuhan yang Maha Esa merahmati dan mencerahkan hati dan pikiran kita semua.

Mardiyanto, S.H Ketua Umum Human Illumination DKI Jakarta, peneliti muda Kolegium Jurist Institute
(mmu/mmu)