detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 16 Agustus 2019, 16:15 WIB

Kolom

Menindaklanjuti Temuan Aysa dan Anggi Menuju Obat Kanker

Alexander Arie - detikNews
Menindaklanjuti Temuan Aysa dan Anggi Menuju Obat Kanker Aysa Aurealya Maharani dan Anggina Rafitri (Foto: dok: IYSA)
Jakarta -
Dua remaja asal Palangkaraya, Aysa Aurealya Maharani dan Anggina Rafitri sukses meraih Gold Medals pada ajang World Invention Creativity (WICO) di Seoul, Korea Selatan. Sebelumnya, mereka juga juara di level nasional dalam Youth National Science Fair 2019 (YNSF) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.

Keduanya mengangkat nama Indonesia di kancah internasional berkat ide cemerlang mengolah akar bajakah menjadi obat kanker payudara. Mengingat, istri saya adalah farmasis klinis di rumah sakit khusus kanker, cerita tentang pasien-pasien dengan Ca—demikian para tenaga kesehatan biasa menyebutnya—adalah bagian dari obrolan rumah tangga kami. Jadi, kalau ada hal baru dalam pengobatan kanker pastinya adalah harapan baru bagi banyak pasien dan penyintas kanker, terutama pasien-pasien istri saya.

Anggi dan Aysa mendapat ide untuk meneliti akar bajakah dari pengalaman empiris orang-orang di sekitarnya yang hebatnya bisa mereka garap pada level SMA yang tentunya belum dapat pelajaran tentang farmakognosi, apalagi fitokimia. Pada dua ilmu yang di perkuliahan sering dijadikan satu itulah, kita akan mempelajari saponin, flavonoid, alkaloid, dan lain-lain yang sering disebut sebagai penyembuh kanker dan semacamnya.

Meski demikian, penting kiranya kepada kita semua untuk dapat menjaga ekspektasi pada sesuatu yang disebut sebagai "obat penemuan baru". Untuk sementara, kita bisa menyebutnya sebagai alternatif. Atau khususnya pada orang luar Kalimantan yang belum mengenal akar bajakah, ya sebagai alternatif baru.

Menjaga ekspektasi ini penting karena hasil penelitian yang menang itu ketika sampai di Indonesia rumusan judul pemberitaannya jadi aneh-aneh, seperti Sah, Penemu Obat Kanker Payudara Adalah Remaja Kalimantan, atau 2 Putri Dayak Raih Emas Berkat Obat Penyembuh Kanker Payudara, maupun judul-judul ajaib lainnya khas media online.

Bahan Alam

Bahan alam di Kalimantan sejak lama dikenal memiliki khasiat obat. Pada 2006, misalnya, situs web LIPI pernah memuat informasi tentang calon obat kanker dari pohon kayu bintangor batu (Calophyllum teysmannii) yang dari getah pohonnya bisa diperoleh senyawa kalanon. Pohon ini banyak ditemukan di Kalimantan. Dalam kancah pengobatan alternatif juga dikenal nama bawang dayak yang asalnya dari Kalimantan, serta banyak contoh lainnya.

Saya pernah bekerja di sebuah laboratorium riset obat baru, sebuah entitas yang cukup langka di Indonesia. Tiga tahun lamanya saya mengelola bahan baku beragam wujud—mulai dari sekadar daun bungur kering sampai cacing Lumbricus rubellus hidup 200 kilogram sekali datang—yang akan maupun telah diteliti untuk dikembangkan ke skala produksi.

Pola kerjanya adalah menggunakan data-data empiris yang telah ditunjang dengan penelitian perihal kekayaan alam Indonesia yang punya potensi obat. Karena laboratorium itu adalah bagian dari entitas bisnis, sudah tentu pengembangan obat-obatnya ditujukan pada penyakit yang memang banyak terjadi di Indonesia. Salah satunya tentu saja kanker.

Jadi, yang masuk ke gudang kelolaan saya itu datang dari berbagai daerah di Indonesia. Teman saya yang bagian mencari barang itu bahkan keliling Indonesia hanya untuk bisa menemukan penjual akar X, daun Y, ikan Z, dan lain-lain dalam jumlah cukup untuk bisa dikembangkan produknya.

Nah, dari bahan yang ada biasanya diteliti dahulu kandungan yang berpotensi obat. Kandungan itu kemudian "ditarik" dari kompleksitas si bahan alam itu dengan menggunakan metode ekstraksi. Ibarat kata kalau bikin teh, maka komponen teh yang larut ke air itu adalah hasil ekstraksinya. Ada juga yang tidak larut air, maunya larut dengan alkohol, ya berarti ekstraksinya pakai alkohol.

Bahkan supaya lebih efektif, adalah yang namanya LLE (liquid-liquid extraction). Jadi dalam satu proses, suatu bahan dilewatkan dulu ke air untuk ngambil yang jodoh dengan air. Kemudian dilewatkan lagi ke misalnya methylene chloride, untuk mengambil yang sesuai dengan pelarut organik itu. Irit proses, tapi harga mesinnya sungguh mahal minta ampun.

Hasil ekstraksi ini kemudian diisolasi. Baik untuk diuji ke hewan hingga ke tingkat molekuler, juga untuk dikenali kandungan aktifnya. Ini untuk menjamin suatu riset obat dapat dipertanggungjawabkan.

Uji pada hewan juga tidak sembarangan. Ada pedoman etis yang mengacu pada Association for Assessment and Accreditation of Laboratory Animal Care (AAALAC) untuk menjamin bahwa setiap perlakuan pada hewan uji telah menjamin sesuatu yang sederhananya bisa disebut sebagai kesejahteraan hewan.

Adapun uji pada tingkat molekuler lebih spesifik lagi. Pada level inilah khasiat seutuhnya dari suatu bahan dapat dikenali mekanismenya langsung pada tingkat sel. Karena sebenarnya kanker itu bisa disederhanakan sebagai sel yang membelah begitu cepat. Jadi mekanisme intinya harus bisa dikenali sampai tahap ini.

Sesudah itu, kalau lancar, suatu ekstrak bisa dilanjut sampai formulasi, alias pembuatan wujud sediaan untuk diaplikasikan pada manusia. Baik itu dalam wujud tablet, sirup, maupun model lainnya. Ini juga tidak sepele karena harus dicari tepung-tepungan yang cocok untuk bisa menghantarkan suatu bahan aktif ke dalam tubuh dan memberikan dampak baik tanpa rusak duluan di luar.

Fase selanjutnya barulah pengujian produk baik pada hewan maupun pada manusia. Untuk yang terakhir ini, namanya uji klinis, dan karena biaya plus risikonya tinggi jadi hanya akan dilakukan pada produk-produk yang sudah lolos penilaian secara keamanan, potensi bisnis, hingga kemungkinan diproduksinya kelak.

Seringnya, proses panjang itu tadi tidak berjalan lancar. Dari sisi bisnis artinya adalah uang hilang. Hanya pemilik perusahaan nekat yang berani membiayai riset semacam ini. Saya sempat ditugasi menghitung harga pokok ekstrak yang meliputi harga bahan baku dan biaya produksi seperti listrik, bayar upah buruh, dan lain-lain, dan jadi tahu bahwa yang namanya riset itu dalam jangka pendek adalah proyek rugi. Soalnya, gaji periset dibayarnya sekarang, tapi manfaat yang bisa langsung jadi uang dari riset mereka bisa jadi baru muncul 5-10 tahun lagi. Kalau ruginya secara bisnis sudah dianggap berlebihan, ya risetnya bisa disetop.

Belum lagi, perkara mendasar di Indonesia itu adalah ketersediaan bahan baku. Terutama bahan baku yang sudah distandardisasi, mengingat bahwa produk semacam ini akan butuh bahan yang banyak sekali untuk hasil yang terbilang sedikit.

Rendemen sekitar 10 persen saja sudah bisa dibilang sangat bagus. Itu artinya dari 100 kilogram bahan baku hanya diperoleh 10 kilogram obat. Padahal, yang rendemennya nol koma sekian juga ada. Maka, jangan heran kalau obat dari bahan alam yang olahannya benar itu harganya memang gila-gilaan, ya salah satunya karena faktor ini.

Dalam konteks pengembangan akar bajakah dari dua remaja potensial kita, perlu dikenali betul ketersediaannya di alam pada jumlah yang cukup untuk bisa dijadikan produk obat. Dan kalau memang cukup, akan ada fase standardisasi, soalnya tingkat kekeringan sekalipun bisa mempengaruhi zat yang berkhasiat obat di dalam suatu bahan. Plus, jangan sampai pula malah menjadi eksploitasi alam hanya gara-gara bahan obat.

Pintu Masuk

Capaian Aysa dan Anggi adalah pintu masuk yang harus ditindaklanjuti dengan ciamik oleh pemerintah, bisa juga dengan kampus-kampus, hingga pada perusahaan-perusahaan yang kelak akan mampu menerjemahkan suatu hasil riset menjadi produk yang tepat mutu, tepat khasiat, dan tepat keamanan.

Lagi pula, dulu Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dilepas dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ke Kementerian Riset dan Teknologi supaya ada kesinambungan riset sampai pada level kampus. Mengingat, keberhasilan Aysa dan Anggi juga adalah keberhasilan dari tingkat SMA, yang dibawa pada lomba oleh universitas, seharusnya risetnya bisa nyambung dalam pengelolaan negara. Semoga saja demikian.

Alexander Arie apoteker, berdomisili di Tangerang Selatan


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed