detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 16 Agustus 2019, 13:20 WIB

Kolom

Agar Monster Tak Masuk Rumah Kita

Romi Febriyanto Saputro - detikNews
Agar Monster Tak Masuk Rumah Kita Ilustrasi: BBC Magazine
Jakarta -

Dalam film Monster Inc kita mengenal Monstropolis, yakni kota metropolitan tempat masyarakat monster tinggal. Para monster ini mempunyai perusahaan yang diberi nama Monsters Inc. Perusahaan ini bergerak di bidang energi terbarukan. Ironisnya, sumber energi terbarukan ini adalah suara teriakan anak-anak yang ketakutan ketika bertemu monster. Energi yang dikumpulkan dengan menakuti anak-anak itu diubah menjadi berbagai energi untuk menghidupi kota monster tersebut.

Sulley dan Mike adalah dua monster yang bersahabat. Sulley bekerja di Monster Inc sebagai scarer yang bertugas mengumpulkan energi. Scarer bekerja dengan melewati daun pintu yang terhubung langsung dengan kamar tidur anak manusia yang menjadi sasaran monster untuk ditakut-takuti. Semakin tinggi rasa takut yang dimiliki anak manusia, semakin besar energi yang dikumpulkan para monster. Mike bertugas membantu Sulley mengumpulkan tabung yang sudah terisi energi.

Suatu hari terjadi peristiwa yang menggemparkan dunia monster. Ada seorang anak manusia yang bernama Boo berhasil masuk ke dunia monster melalui daun pintu yang sengaja ditinggalkan oleh Randal Bogs, seorang monster yang iri dengan prestasi Sulley. Selama ini Sulley adalah scarer yang paling banyak mengumpulkan energi. Randal sengaja meninggalkan daun pintu di lintasan yang menghubungkan dunia monster dan dunia manusia ketika jam kerja Monster Inc sudah berakhir, dengan harapan dapat mengumpulkan energi yang jauh lebih besar daripada Sulley.

Sulley dan Mike berusaha menolong Boo untuk kembali ke dunia manusia. Niat baik mereka ini dihalangi oleh Randal dan pemilik Monster Inc, Waternoose, yang berusaha menculik Boo dan semua anak manusia untuk mendapatkan energi teriakan anak manusia secara langsung. Selain itu, langkah ini diharapkan dapat menyelamatkan Monster Inc yang selalu mengalami kerugian.

Lebih Menakutkan

Di luar dunia film, perilaku monster jauh lebih menakutkan. Mereka menjelma menjadi predator anak melalui daun pintu yang disebut media sosial dan game online. Seperti diberitakan detikcom, seorang narapidana kasus pencabulan anak yang sudah dihukum 7 tahun masih punya waktu luang untuk menjadi monster dengan menyamar sebagai guru di akun media sosial. Monster ini berhasil memperdayai anak-anak untuk mengirimkan foto tanpa busana. Hasil penelusuran polisi menemukan lebih dari 1.300 foto dan video dalam akun email-nya, semua anak tanpa busana. Yang sudah teridentifikasi ada 50 anak dengan identitas berbeda.

Perilaku monster ini sering disebut dengan istilah grooming, yakni proses di mana pelaku membujuk korban ke dalam hubungan seksual dan menjaga hubungan tersebut secara diam-diam. Hubungan ini merupakan balutan terluar dari grooming. Pelaku juga berusaha untuk memisahkan korban dari teman dan keluarganya dengan menggambarkan diri mereka sebagai orang yang istimewa bagi korbannya.

Monster yang melakukan praktik grooming juga muncul dari game online. Lagi-lagi seperti yang diberitakan, seorang sopir taksi daring menyamar sebagai remaja 15 tahun dalam game online Hago. Monster ini mencari korban melalui aplikasi game online lewat fitur "discovery people". Korban yang diincar rata-rata perempuan berusia belasan tahun. Tersangka berkenalan dengan korban lewat fitur chat dalam aplikasi tersebut. Setelah itu, tersangka memperdayai korban melakukan video seks.

Membangun Komunikasi

Agar monster tidak masuk rumah, orangtua perlu berperan seperti Sulley dan Mike dalam film Monster Inc dengan membangun budaya literasi keluarga dengan cara; pertama, membangun komunikasi yang hangat dengan anak. Teknologi informasi yang berkembang pesat seharusnya memudahkan orangtua dan anak untuk menjalin komunikasi yang hangat melalui dunia nyata maupun dunia maya. Dengan kehangatan komunikasi ini diharapkan orangtua mengetahui aktivitas online putra-putrinya di dunia maya. Ironisnya, banyak orangtua yang buta terhadap aktivitas sang anak di dunia digital.

Kaspersky Lab, sebuah perusahaan riset asal Rusia yang memproduksi perangkat lunak komputer, dan IconKids & Youth, lembaga survei yang berbasis di Munich, Jerman meluncurkan hasil survei mereka atas ribuan remaja di beberapa kota besar di Indonesia. Dalam rilisnya yang dikutip Antara (2016), kedua lembaga tersebut menyebutkan, hampir separuh atau sekitar 44% anak remaja di Indonesia menyembunyikan aktivitas online-nya dari orangtuanya.

Hanya ada sekitar 33% anak-anak berusia 8-10 tahun yang memberitahukan aktivitas online mereka kepada orangtuanya. Namun, ketika anak-anak itu sudah memasuki usia remaja antara 14-16 tahun, maka aktivitas online-nya tersebut semakin disembunyikan rapat-rapat dari orangtuanya. Sekitar 30 persen dari anak remaja berusia 14-16 tahun ini mengaku seringkali secara sengaja mengambil langkah-langkah tertentu agar dapat terlepas dari kontrol orangtua dalam mengakses internet melalui smartphone-nya.

Salah satu caranya adalah dengan cara menggunakan sandi pada perangkat smartphone mereka dan menghapus riwayat aktivitas online-nya agar tidak diketahui oleh orangtua. Selain itu, sekitar 14% anak remaja juga telah menggunakan aplikasi khusus yang diunduh dari Google Play Store untuk menyembunyikan sejumlah file yang mereka unduh dari internet agar tidak diketahui oleh orangtuanya. Parahnya, menurut survei tersebut, 56% orangtua tidak mengetahui apa-apa mengenai jumlah aktual waktu yang dihabiskan anak-anak mereka untuk mengakses internet, sementara hampir 70% juga tidak mengetahui tentang unduhan ilegal ataupun cyberbullying.

Literasi Informasi

Kedua, mengenalkan literasi informasi kepada anak. Anak-anak perlu mengenal dan memahami dengan baik informasi yang tersimpan di buku, media cetak, media online dan media sosial. Sehingga mereka dapat melakukan proses pengolahan informasi, memilih, memilah, dan menyerap manfaat dari informasi yang diperoleh. Bukan menelan mentah-mentah informasi yang diterima. Kemampuan mencerna informasi sangat diperlukan untuk melawan bujuk rayu monster sehingga anak akan terhindar dari pelecehan seksual via online.

Literasi informasi ini memerlukan keteladanan orangtua dan guru di sekolah. Orangtua yang sangat sibuk menggunakan ujung jari untuk menyentuh layar HP di hadapan anak-anak tentu akan memicu tingkah laku imitasi dari buah hati. Anak tentu akan penasaran dengan menu-menu yang tersedia di telepon pintar. Guru di sekolah diharapkan juga tidak sering menyuruh anak untuk mencari informasi melalui internet. Alangkah indahnya jika aktivitas mencari informasi dilakukan melalui perpustakaan sekolah atau perpustakaan umum.

Ketiga, mendidik anak untuk belajar mandiri sejak kecil. Artinya, anak-anak perlu dibiasakan untuk mengatur kehidupan sendiri dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan pilihan hati nurani. Orangtua dapat mengajak anak untuk belajar merapikan mainan, menyapu, mencuci piring, dan mencuci baju secara bertahap. Pekerjaan rumah tangga seperti ini akan meningkatkan komunikasi anak dengan orangtua. Kehangatan hubungan orangtua dan anak pun dapat tercipta. Anak akan memiliki benteng pertahanan diri yang kokoh seperti tokoh Boo dalam film Monster Inc. Tidak mengenal takut terhadap serangan monster, karena selalu berbagi cerita kepada orangtua.

Romi Febriyanto Saputro Kasi Pembinaan Arsip dan Perpustakaan pada Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sragen


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed