detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 16 Agustus 2019, 12:30 WIB

Kolom

"Maaf, Saya Pamit"

Naldo Helmys - detikNews
Maaf, Saya Pamit Ria Ricis yang menghebohkan (Foto: Screenshot Youtube)
Jakarta -

Sedekade silam, Youtube masih asing. Tetapi, sekarang siapa yang tidak pernah menonton videonya? Laman web berbagi video tersebut menawarkan konten yang sangat luas, dari tutorial hingga analisis politik. Yang ganjil seperti berburu biawak pun ada. Kreativitas adalah batasnya, dan tiap kanal punya pasarnya, yang diistilahkan dengan "pelanggan". Kian banyak yang berlangganan, makin banyak pundi uang mengalir ke kantong youtuber.

Di Indonesia, kreator teratas didominasi kalangan muda kreatif dengan remaja sebagai pasar utamanya. Salah satu kanal terpopuler saat ini, Ricis Official, telah diikuti oleh lebih dari 16 juta akun. Asumsikan setiap akun mewakili satu identitas, walau kemungkinan akun palsu tetap ada, jumlah itu sangat luar biasa, mampu melampaui penduduk Sumatra Utara yang berkisar 14 juta jiwa.

Belakangan, kanal ini mengunggah pernyataan untuk pamit, seolah tidak akan berkarya lagi lewat Youtube. Kontroversi muncul ketika selang beberapa hari video baru pun tetap diunggah. Tak sedikit yang mencibir inkonsistensi ini.

Fenomena Ricis bisa dialami siapapun yang separuh hidupnya berada pada media sosial. Bagi pengguna pasif, Youtube mungkin sekadar mesin pencari layaknya Google. Namun, bagi kreator ia tak ubahnya media sosial seperti Facebook, Instagram, Whatsapp, atau Twitter. Hal yang lazim apabila pemilik akun ada pada titik untuk pamit yang semu.

Tak jarang terlihat pengguna akun Instagram misalnya, rehat atau pamit dari dunia maya, terutama ketika asupan di sana didominasi oleh sesat pikir, hoaks, maupun ujaran kebencian. Ada yang benar-benar menghapus akun, tetapi ada yang pamit hanya untuk mengunggah kembali konten terbaru. Tinggal menunggu waktu saja, kreator akan rehat dari Youtube.

Membentuk Eksistensi

Gejala ini dapat dipahami lewat filsafat eksistensialisme. Poin utama aliran filsafat ini adalah menemukan makna keberadaan manusia. Dalam konteks ini adalah keberadaan akun milik manusia di media sosial. Mengapa manusia memerlukan sebuah akun untuk membuat dirinya ada? Facebook bukan sekadar media untuk mencari teman lama. Instagram bukan hanya tempat berbagi foto. Whatsapp lebih dari pengganti fitur SMS pada ponsel lama.

Ada kepribadian pada sebuah akun. Unggahan foto profil hingga apa yang dibagikan memperlihatkan diri yang lain dari pemilik akun. Ada ruang dunia digital yang dapat diisi untuk membentuk sebuah keberadaan diri yang lain. Tak punya salah satu akun media sosial mungkin akan dianggap hanya setengah ada. Tak heran, formulir lamaran kerja pun, misalnya lamaran CPNS 2018 lalu, disertai dengan kolom kosong untuk diisikan nama akun media sosial.

Youtube menawarkan ruang untuk membentuk eksistensi. Keberadaan itu dibangun dengan mengalami sense unik seperti menjadi bebas, terperhatikan, fleksibel, dan berguna. Ketika seseorang konsisten mengunggah video, pengalaman-pengalaman tersebut mengikatkan diri kepada proses kreasi. Terlebih ketika masyarakat luas telah mengenal si pengunggah sebagai youtuber yang membedakan mereka dengan pemula amatiran. Akibatnya, ada keharusan untuk terus memperbarui konten.

Unggahan konten, dari sisi ekonomis, mungkin berkorelasi dengan permintaan para pelanggan maupun sponsor. Namun, Youtube lebih dari sekadar memenuhi selera pasar karena menawarkan ruang untuk eksis tadi. Selagi ada unggahan, kreator akan eksis. Meminjam filsafat Heidegger, hal ini dapat dianggap sebagai "pengalaman siap pakai", menyatu atau mengaitnya diri dengan pengalaman yang membuatnya terus-menerus hidup. Saya upload, maka saya ada.

Menyangsikan yang Ada

Dalam cerita klise, ada kalanya tokoh utama dibuat hilang, mati, atau lenyap untuk sementara. Di sana emosi penonton berkecamuk. Lalu beberapa episode kemudian, yang pamit tadi kembali. Di satu sisi ada kepuasan bagi penonton, dan di sisi lain sepertinya si tokoh utama menikmati perasaan itu; ketika kembalinya dirinya diingini. Yang ada disangsikan untuk sementara waktu, untuk membuatnya menjadi "ada" yang lain.

Para eksistensialis seperti Heidegger dan Sartre melihat manusia bukan sesuatu yang tetap. Manusia dilemparkan ke dunia, lalu menemui pengalaman yang berbeda. Apa yang ditemui, itulah yang penting baginya. Namun, manusia juga memiliki kebebasan untuk memilih sendiri perhatiannya. Orang bisa berkonsentrasi pada satu hal untuk menjadi dirinya sendiri pada hal tersebut dengan meninggalkan perhatian pada yang lain.

Seperti dalam kehidupan nyata, eksistensi youtuber juga tidak kaku. Konten terkadang ditentukan ulang, dan umumnya kreator bisa hadir dalam pengalaman yang berbeda. Ambil contoh Pras Teguh dan Mak Ipin, dua youtuber komedian bercita rasa Minang. Di kanal Youtube masing-masing, keduanya sama-sama hadir sebagai pemeran lawakan khas daerah. Namun, di luar melucu, sesekali kreator mendefinisikan ulang dirinya dengan hadir sebagai musisi seperti Pras, atau bahkan penceramah seperti Mak Ipin. Tak melulu perubahan itu dikarenakan permintaan subscriber.

Eksistensi dan pengalaman manusia berubah, baik di dunia nyata maupun media sosial. Pamitnya satu akun, lalu kemudian hadir kembali, hanya ekspresi untuk menjadi yang lain. Fenomena ini sederhana, tetapi bagaimana kiranya hal ini menimbulkan pertanyaan pamit yang lain: mungkinkah hoaks akan pamit dari grup Whatsapp, pencitraan pamit dari Instagram, dan hal yang sia-sia pamit dari Youtube? Sebelum mereka pamit, ada baiknya dipahami mengapa mereka menjadi pengalaman yang hidup.

Naldo Helmys alumni Kelas the Internet and Civil Society, University of Glasgow, UK


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed