detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 15 Agustus 2019, 11:20 WIB

Kolom

Enzo dan Radikalisme

Rachmanto - detikNews
Enzo dan Radikalisme Enzo Allie (Foto: Situs TNI AD)
Jakarta -
Nama Enzo Zenz Allie sontak menjadi perbincangan sejak pekan kemarin. Awalnya, muncul video di Youtube saat dia --dengan wajah bulenya-- berbincang dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam bahasa Prancis. Ya, Enzo Allie merupakan salah satu taruna akademi militer yang lolos tahun ini. Meskipun berparas Eropa, dia merupakan warga negara Indonesia. Ayahnya berasal dari Prancis, sementara ibunya asli dari Indonesia. Enzo sempat tinggal di Prancis bersama kedua orangtuanya.

Setelah ayahnya meninggal, Enzo Allie dibawa ke negara asal ibunya. Pemuda ini lantas melanjutkan pendidikan menengah dan atas di Indonesia. Selain video tersebut, Enzo banyak dibicarakan akibat posting-annya di Facebook. Beberapa orang yang kepo dengan Enzo (salah satunya akun facebook atas nama Salman Faris), lantas mencoba mencari tahu lebih detail tentang pemuda yang lahir di Prancis tersebut. Dari akun Facebook Enzo Allie, dia diketahui pernah mengunggah foto saat membawa tas ransel besar dengan bendera hitam bertuliskan lafal Laa Ilaaha Illallaah yang ditaruh di samping tasnya.

Selain akun Enzo, akun ibunya (Siti Hadiati Nahriah) pun tidak lepas dari pantauan netizen. Setelah ditelurusi, ada beberapa posting-an yang mengindikasikan sang ibu termasuk pendukung gerakan Islamis. Hasil tangkapan layar akun Facebook Enzo dan ibunya inilah yang kemudian disebarkan dan menjadi viral. Sampai Rabu, kedua akun ini masih bisa diakses. Sementara pada Kamis, kedua akun ini sudah tidak bisa dibuka.

Peristiwa di atas tidak bisa dilepaskan dari konteks narasi radikalisme yang belakangan semakin gencar didengungkan. Dua ormas Islam yang kerap dianggap radikal adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI). Khusus untuk HTI, pada 19 Juli 2017, pemerintah Indonesia (melalui Kementerian Hukum dan HAM) telah mencabut status badan hukumnya. Hal ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 yang mengubah UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Ada tiga hal yang dijadikan alasan pembubaran. Pertama, HTI tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional. Kedua, kegiatan HTI terindikasi kuat bertentangan dengan tujuan, azas, dan ciri yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ketiga, aktivitas yang dilakukan HTI dinilai menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayakan keutuhan Negara Kesatuan RI.

Karena Enzo dan ibunya pernah mem-posting foto-foto dengan kalimat tauhid (yang kerap diasosiasikan dengan HTI), dan HTI sudah dilarang, maka Enzo dianggap telah terpapar virus radikalisme. Oleh karena itu, muncul desakan agar TNI mengeluarkan Enzo sebagai taruna militer. TNI pun dianggap telah kecolongan karena berhasil meloloskan Enzo. Kehadiran pemuda blasteran ini dikhawatirkan akan berbahaya bagi Negara Kesatuan RI.

Satu hal yang tampaknya luput dari diskusi ini adalah penggunaan perspektif Enzo sebagai korban. Harus diakui, besar sekali kemungkinan seorang anak mengikuti keinginan dan aspirasi dari ibunya. Apalagi jika anak tersebut masih berada pada level pencarian jati diri. Maka ketika ibunya mendukung kelompok yang ingin menegakkan syariah Islam, dia akan mengajak anaknya untuk terlibat di dalamnya.

Apalagi Enzo merupakan anak yatim yang ditinggal oleh ayahnya. Hingga praktis lebih dekat dengan ibunya. Bisa jadi, Enzo belum paham secara menyeluruh tentang gerakan-gerakan Islam yang ada. Dia hanya melakukan itu untuk menunjukkan baktinya kepada orangtua. Jadi Enzo hanya ikut-ikutan memasang bendera tauhid tanpa ada maksud mendukung ideologi tertentu.

Perhatikan juga, posting-an Enzo Allie yang menggunakan bendera tauhid. Dia mengunggah itu pada 25 Maret 2017, sementara HTI dibubarkan pemerintah pada 19 Juli 2017. Artinya, foto itu di-upload sekitar 3 bulan sebelum HTI dinyatakan terlarang. Sekadar tambahan, Enzo memiliki latar belakang pesantren. Bagi santri, kalimat tauhid tentu menjadi hal yang biasa.

Melihat kalimat tauhid di topi, kaos, bendera, dan sebagainya dipandang sebagai hal yang justru membuat dirinya semakin bersemangat dalam beragama. Ada kebanggaan ketika menggunakannya. Artinya bendera tersebut telah menjadi simbol umum bagi sebagian Muslim (tidak hanya bagi simpatisan/anggota HTI saja). Maka, jangan terburu-buru menilai orang yang menggunakan atribut kalimat tauhid dicap radikal.

Berbagai latar belakang ini perlu dijadikan pertimbangan sebelum melontarkan tuduhan-tuduhan negatif. Perlu klarifikasi dan kejernihan dalam melihat masalah. Jika pun benar, Enzo memimpikan agenda khilafah saat masuk menjadi calon prajurit TNI, maka akan ada 3 kemungkinan yang akan dia lakukan.

Pertama, ideologinya akan ditularkan kepada taruna dan institusi TNI. Dengan mayoritas taruna adalah pendukung "NKRI harga mati" butuh upaya berdarah-darah untuk melakukannya. Ditambah lagi, TNI merupakan salah satu benteng utama tegaknya bangunan bernama Indonesia. Maka, tampaknya mustahil melakukan ini.

Kedua, ideologinya akan menghilang setelah dia menerima berbagai pemahaman tentang kebangsaan dan ke-Indonesia-an. Kemungkinan ini yang paling masuk akal. Apalagi pendidikan merupakan salah satu upaya melakukan internalisasi nilai dan norma yang disepakati.

Ketiga, ideologinya akan mengendap dan hanya merupakan potensi. Dia bisa mengeluarkan potensi tersebut kapan saja di waktu yang dirasa tepat. Bisa saat ini atau mungkin kelak ketika menjadi jenderal. Untuk poin ini, siapapun memiliki potensi baik maupun tidak baik. Tidak hanya Enzo. Orangtua kita, anak-anak kita, kerabat, tetangga, atau siapapun, semuanya memiliki potensi itu. Perlu waspada, tanpa harus paranoid.

Rachmanto pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil DIY, alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), SPs UGM


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed