detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 14 Agustus 2019, 12:38 WIB

Kolom

Dunia (Anti) Intelektual Kita

Moh. Roychan Fajar - detikNews
Dunia (Anti) Intelektual Kita Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Apa yang hari ini selalu kita sebut sebagai intelektual, ternyata sudah tak seperti yang kita bayangkan selama ini. Identitas intelektual yang sejak dulu kita bayangkan sebagai sosok yang selalu bergulat dalam persoalan-persoalan sekitar, problem-problem kerakyatan, dan selalu melahirkan gagasan-gagasan mendalam, segar, kritis serta mendidik, langka kita temui hari ini. Di balik megahnya istilah intelektual yang selama ini masih diyakini "kemasyhuran"-nya oleh sebagian orang, diam-diam mengalami sejumlah pergeseran orientasi: dari ruang-ruang sosial, dari problem rill kerakyatan, yang lebih sengit dan terbuka, ke ruang-ruang yang secara struktural relatif lebih privat dan tertutup, seperti kampus, birokrasi, atau kegiatan-kegiatan akademik lainnya.

Konsekuensi atas pergeseran ini melahirkan perwujudan identitas intelektual yang baru. Yang lahir dari cetakan-cetakan instan, sarjana-sarjana prematur, yang fasih melafalkan teori-teori rumit dan melangit, tetapi asing dengan problem-problem aktual yang kini membelit rakyat akar rumput. Sesuatu yang hilang dari intelektual dalam wujudnya yang baru ini adalah identitas intelektualnya yang "organik", suatu subjek intelektual yang-menurut Antonio Gramsci-terlibat secara aktif dalam menerjemahkan ide-idenya dalam kenyataan sehari-hari, namun pada saat yang sama juga memiliki karakter kesangsian dalam memposisikan diri di tengah-tengah realitas yang sedang ia geluti. Sosok intelektual seperti inilah yang kini lenyap di tengah-tengah kita.

Meski kini ratusan atau bahkan ribuan orang yang menggeluti berbagai disiplin keilmuan atau dunia pemikiran, tetapi hanya ada beberapa nama --yang terdiri dari para pendahulu-pendahulu kita-- yang mungkin pas dengan kriteria "intelektual organik" di atas. Kita bisa sebut satu per satu seperti Ahmad Wahib, Mahbub Djunaidi, Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, dan Muhammad Natsir. Pasca nama-nama besar tersebut, dunia intelektual kita menjadi kering. Yang justru sering kita jumpai hari ini adalah mereka, yakni para intelektual menara gading, yang hanya berlomba-lomba meraih pangkat akademik, namun tidak mampu memproyeksikan satu capaian pemikiran yang lebih jauh dibandingkan nama-nama besar tersebut.

Sehingga tidak heran, sampai hari ini arus pemikiran dan kajian-kajian keilmuan kita macet. Katakanlah misalkan dalam studi keislaman (Islamic Studies) kita. Apa yang hari ini berlangsung dalam studi keislaman kita tak lebih hanya pengulangan-pengulangan pemikiran pada masa lalu yang tak mampu melepaskan diri dari nama-nama besar di atas yang hingga detik ini telanjur menjadi ikon dalam cakrawala studi keislaman kita. Hanya saja, hari ini gagasan-gagasan tersebut hadir dalam kemasan yang lebih populer, lunak dan eksotis, yang bertolak dari tren-tren umat milenial, yang sebenarnya telah "terkondisikan" oleh budaya-budaya "narsistik" dari perkembangan teknologi digital dewasa ini.

Arus budaya "narsistik" yang sangat mementingkan "bungkus" ini, yakni satu objek yang dipoles sedemikian rupa agar terlihat indah dan memukau untuk disaksikan, telah mengubah bagaimana proyek intelektual seharusnya berlangsung. Ia dituntut menyesuaikan diri. Sehingga, dalam kondisi ini, proyek intelektual bukan lagi menjadi kerja-kerja pemikiran yang kritis, mendalam, dan otentik yang berjangkar pada keprihatinan dan pergolakan realitas sehari-hari. Sebaliknya, ia hadir dengan kemasan dan bungkus yang "sederhana" serta "menghibur", yang berisi pemikiran-pemikiran lama yang telah usang dan lapuk untuk diperdebatkan. Lihat saja saat ini bagaimana studi keislaman kita hanya berputar-putar dalam narasi-narasi klasik: Islam Nusantara, moderatisme Islam --sesuatu yang sejatinya sudah klise untuk didiskusikan.

Dengan kata lain, tak ada perubahan penting dalam khazanah pemikiran kita selama ini. Ia hanya diam di tempat. Meski berulang kali ditulis dalam bentuk karya atau riset-riset ilmiah, keadaan itu tak memberikan dampak apa-apa. Karena kajian-kajian tersebut tidak memiliki kemendalaman secara substantif dalam mengkaji atau menguji ulang pemikiran-pemikiran masa lalu secara kritis. Sehingga tidak ada yang menonjol dalam kajian-kajian keislaman kita hari ini. Ia hanya terdiri dari rongsokan-rongsokan wacana yang meriah bergema, tetapi miskin ide-ide baru dan mendalam.

Teks-teks tentang kajian Islam selama ini adalah kumpulan abjad-abjad yang bisu, terlempar jauh dari problem-problem material umat kontemporer. Dari itulah, kini kita sah mengatakan bahwa proyek intelektual hari ini, diakui atau tidak, memang sudah mengalami kebangkrutan, tidak mampu melahirkan lompatan-lompatan pemikiran yang lebih segar, melampaui dari apa yang sejak dulu telah dicapai.

***

Remuknya kajian Islam di atas ini hanya satu contoh-dari deretan fakta-fakta yang lain-akan tumbangnya dunia intelektual kita saat ini. Di situ kita bisa benar-benar melihat bahwa dunia pemikiran sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dunia intelektual ternyata kehilangan energi ideologisnya. Yang membuatnya hanya menjadi serangkaian aktivitas-aktivitas akademik yang kaku, terjebak dalam kesibukan-kesibukan formal, berorientasi ke dalam, ke ruang-ruang privat, sehingga pada akhirnya membuatnya lupa pada peran sentralnya di luar sebagai spirit pembebasan atas segala bentuk problem-problem kerakyatan yang hingga kini terus berdenyut.

Sehingga, implikasi dari keadaan tersebut, satu karya intelektual yang kini meriah terbit dan dipublikasikan bukan lagi berorientasi pada lahirnya ide-ide yang baru atau untuk merespons problem-problem material kerakyatan, tetapi malah berorientasi pragmatis: untuk prestise individual, mengejar pangkat akademik, dan seterusnya. Karya-karya intelektual seperti riset ilmiah, makalah populer, atau paper, dalam keadaan seperti ini, akan dikatakan sukses hanya ketika ia sudah dimuat di jurnal-jurnal akademik, atau dipresentasikan di konferensi-konferensi elit-nasional/internasional. Keberhasilan karya-karya tersebut tidak dilihat dari kualitas ide di dalamnya, atau seberapa jauh ide tersebut memberikan kontribusi terhadap problem sekitar, melainkan dari seberapa sering nama penulisnya tercatat dalam "daftar isi" jurnal-jurnal ternama.

Melalui penjabaran ini, kita dapat meneroka lebih jauh bahwa apa yang selama ini kita sebut intelektual, sejatinya lebih tepat disebut anti-intelektual. Betapa tidak, kerja-kerja intelektual hari ini benar-benar menjadi sesuatu yang sangat elitis, yang membuatnya terpental dari dinamika-dinamika sosial-kerakyatan, menjadi aktivitas-aktivitas yang seutuhnya didikte --untuk tidak mengatakan "terpenjara"-- oleh institusi-institusi negara dan perguruan tinggi, yang kini sedang tunduk dan bersimpuh di hadapan "pasar global" --pihak yang sejak dulu memang telah menginjak-injak kedaulatan rakyat kecil yang tinggal di kampung dan pinggir-pinggir kota.


Moh. Roychan Fajar alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, pegiat Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam



(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed