ADVERTISEMENT
detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 13 Agustus 2019, 14:25 WIB

Kolom

Relevansi Simbolik Ritual Haji

Sholahuddin - detikNews
Relevansi Simbolik Ritual Haji Wukuf di Arafah (Foto: Reuters)
Jakarta -

Tanggal 11 hingga 13 Dzulhijjah dinamakan hari Tasyriq, di mana pada hari-hari tersebut umat Islam di seantero jagad diharamkan untuk berpuasa. Hari-hari itu kita juga melihat jutaan umat Islam melempar jumrah di jamarat.

Pemahaman terhadap haji tidak bisa lepas dari tokoh Ibrahim, seorang rasul Uul Azmi yang dianggap sebagai bapak para nabi dan proklamator keadilan. Apa yang ditemukan oleh Nabi Ibrahim tidak bisa disejajarkan dengan berbagai macam penemuan, seperti penemuan listrik, roda, kereta uap, dan lain sebagainya.

Seorang penyair terkenal Mahmud Abbas Al-aqqad pernah mengatakan penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang tak dapat diabaikan para ilmuwan atau sejarawan. Ia tak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom betapapun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut, yang itu dikuasai manusia. Penemuan Ibrahim menguasai jiwa dan raga manusia.

Penemuan Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk pada alam menjadi mampu menguasai alam, serta menilai baik buruknya. Penemuan yang tidak dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang, tapi kesewenang-wenangan ini tak mungkin dilakukannya selama penemuan Ibrahim itu tetap menghiasi jiwanya. Penemuan tersebut berkaitan dengan apa yang diketahui dan tak diketahuinya, berkaitan dengan kedudukannya sebagai makhluk dan hubungan makhluk dengan Tuhan, alam ray,a dan makhluk-makhluk sesamanya, yaitu "penemuan Tuhan".

Interpretasi

Ritual-ritual haji yang dilaksanakan oleh umat Islam juga merupakan ritual menapaktilasi apa yang telah dilakukan oleh Ibrahim bersama sang anak Ismail. Haji merupakan rukun Islam yang diwajibkan bagi umat Islam yang mampu menunaikannya (QS. Ali Imran: 97).

Dalam pandangan Islam, ibadah haji mengandung pesan-pesan moral dan simbolik yang bisa ditangkap dari ritus haji. Seandainya setiap muslim yang haji mampu menangkap makna dari ritual tersebut, niscaya akan mengantarkan kepada haji mabrur yang mampu mengubah sikap dan mentalitasnya menjadi orang yang lebih baik dan saleh.

Sesungguhnya haji dapat dijadikan sebagai latihan spiritual untuk menempa diri, mempertajam nurani sehingga menjadi lebih baik. Lihatlah bagaimana uniknya tawaf, sa'i, melempar jumrah dan tahallul. Dibalik ritual tersebut terdapat makna simbolik yang sangat penting untuk dimengerti oleh umat Islam.

Ada pesan-pesan religius dan moral-kemasyarakatan yang terdapat di balik ritual haji itu, pesan-pesan moral altruistik yang tidak dapat diabaikan oleh seorang muslim yang melaksanakan haji. Pesan-pesan itu tertampak dalam; pertama, pakaian ihram, yaitu dua helai pakaian putih yang tidak berjahit.

Pakaian putih tentu mengingatkan kita pada kain kafan, kain kafan mengingatkan kita pada kematian. Setiap orang tentu akan menemui ajalnya, dan harus bersiap-siap dengan memupuk amal salih sebanyak-banyaknya untuk kebahagiaan di akhirat kelak.

Kedua, makna yang terkandung di dalam tawaf, yaitu mengelilingi Kabah tujuh kali sambil membaca talbiyah, adalah simbol kehadiran Tuhan. Mereka jelas bukan menyembah kubus segi empat itu; mengelilingi Kabah menyimbolkan Tuhan menjadi sentral di dalam kehidupan mereka. Kehidupan seorang muslim harus dironai oleh nilai-nilai keagamaan.

Dengan tawaf, mereka akan mampu meminimalkan hedonisme, materialisme, dan menjernihkan spiritualitasnya. Hal ini berarti seorang yang menunaikan ibadah haji harus berniat semata karena Allah. Tidak perlu memandangnya sebagai sebuah prestise untuk meningkatkan status sosial supaya dipanggil bapak haji atau ibu hajah. Apalagi seseorang yang melakukan haji untuk pencucian dosa-dosa korupsi yang dilakukan, suatu yang tidak ikhlas akan melahirkan haji mardud.

Ketiga, makna simbolis melempar jumrah adalah peneguhan muslim akan musuh mereka yang utama yaitu setan. Ritual lempar jumrah ini merupakan napak tilas atas apa yang telah dilakukan oleh Ibrahim; ketika itu Ibrahim mau menyembelih putra tercinta, Ismail, atas perintah Allah. Ismail yang masih bocah itu menurut kepada bapaknya, di tengah jalan, mereka berdua diganggu oleh setan.

Setan dalam hal ini bisa berarti berbagai potensi negatif yang bersemayam dalam diri manusia. Potensi atau perangai negatif tersebut harus diusir dari dalam diri kita, sehingga akan berbuah perbuatan yang bijak dan menghasilkan kebaikan umum. Setan selalu mendorong manusia untuk berbuat yang jahat, durhaka kepada Tuhan dan kemaruk akan gelimang dunia. Melempar jumrah diibaratkan mencampakkan sifat-sifat tercela dari diri seseorang.

Keempat, makna simbolis dalam ritual wuquf di Arafah. Secara harfiah wuquf berarti berdiam diri di sebuah tempat. Wuquf merupakan rukun haji yang paling utama, sehingga Nabi Muhammad berkata, al-hajju al-arafatu (berhaji itu adalah wuquf di Arafah).

Ketika wuquf di Arafah semua jamaah haji seantero dunia berkumpul menjadi satu tanpa ada perbedaan etnis, warna kulit, kenegaraan, bahasa, suku, ideologi, golongan, ras dan lain sebagainya. Wuquf merupakan simbol bagaimana nilai egalitarianisme Islam dipraktikkan secara nyata.

Umat Islam yang sedang berhaji disadarkan bahwa mereka semua adalah sama dan sejajar; yang membedakan mereka hanyalah kualitas ketakwaan mereka kepada Tuhan. Dengan sikap ini umat Islam wajib melaksanakan tauhid sosial, yaitu pandangan dan sikap untuk tidak melakukan diskriminasi atas dasar apapun kepada sesama. Sikap diskriminatif hanya akan menimbulkan relasi yang tidak seimbang dan menuai konflik yang berkepanjangan.

Bila dikontekstualisasikan di dalam kehidupan keagamaan sekarang, maka praktik diskriminatif harus segera diakhiri. Praktik ini tampak dalam berbagai konflik sosial-keagamaan, misalnya kasus Sunni-Syiah di Sampang Madura, kasus penutupan gereja dan penyegelan tempat ibadah yang sudah berizin, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan berbagai kasus korupsi, suap, dan penyalahgunaan wewenang dan jabatan yang begitu marak akhir-akhir ini.

Sholahuddin, MA alumnus Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, dan Kepala Madrasah Aliyah NU Al-mustaqim, Jepara


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed