detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 13 Agustus 2019, 12:20 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kurban, Kesehatan Sosial, dan Prestasi Komunal

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Kurban, Kesehatan Sosial, dan Prestasi Komunal Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Pekan lalu, seminggu penuh saya berkeliling ke enam kota di Jepang. Selama perjalanan itu, ada yang saya rasakan telah berubah di negeri ini dibanding lima tahun silam ketika saya datang ke sini pertama kali. Perubahan itu ada pada manusia-manusianya.

Yang pasti, saya merasakan orang-orang Jepang tidak seramah dulu. Ini kesimpulan kasar yang sangat mungkin salah. Tapi kalau dulu saya bisa tersenyum atau mengangguk saat berpapasan di jalan dengan orang lokal dan berbalas setimpal, kini rasanya tidak lagi. Jika dulu beberapa kali saya kebingungan mencari jalan lalu muncul tiba-tiba orang yang membantu tanpa diminta, sekarang tak lagi ada.

Saya curiga, keroposnya ruang-ruang sosial terjadi salah satunya karena perkembangan teknologi yang membuat kita (termasuk orang Jepang) semakin impersonal. Namun saya terlalu sering menulis tema itu. Nanti Anda bosan.

Yang pasti, ketika saya datang ke Rumah Sakit Tokushima untuk menengok adik saya yang melahirkan, pun tak tampak ada banyak orang membesuk tetangga dan handai taulan mereka yang sedang opname. Itu berbeda sekali dengan yang sering saya saksikan di RSUD Bantul, misalnya.

Apakah situasi masyarakat Jepang yang seperti ini terjadi sejak dulu? Saya tidak tahu. Yang saya rasakan memang cuma satu, yakni kehidupan sosial di Jepang tidak cukup sehat.

Sehatnya kehidupan sosial adalah soal pokok yang akan menentukan keberlangsungan kualitas kehidupan kita secara keseluruhan. Itu semua orang tahu. Anda juga.

Saya pernah membaca buku Malcolm Gladwell yang menggambarkan betapa para penghuni koloni-koloni pendatang dari Italia di Amerika Serikat jadi panjang umur dan sehat jasmani karena efek positif dari kehidupan bertetangga yang menyenangkan, padahal pola konsumsi mereka secara teoritis-medis jauh dari sehat.

Saat masih tinggal di Australia, saya pun berkali-kali mendengar kabar orang meninggal dunia karena depresi akibat kesepian dan nyaris tidak punya kehidupan sosial. Sampai-sampai pemerintah berkali-kali menekankan pentingnya contribution for community untuk menyemangati warganya agar menyelamatkan kehidupan sosial mereka.

Nah, pada saat saya "prihatin" melihat situasi sosial di masyarakat Jepang ini, mendadak Pak Memet, tetangga saya, mengirimkan satu foto lewat aplikasi WA.

Di foto itu, para tetangga saya tampak berkumpul di serambi masjid kampung. Sebagian mengangkat potongan-potongan besar daging kurban. Sebagian yang lain merajangnya kecil-kecil.

Saya tahu, sebagaimana berjalan di setiap tahunnya, segenap warga kampung kami bersama-sama menjalankan prosesi pemotongan hewan kurban, pembagiannya ke segenap warga, juga pengolahannya untuk makan siang bersama.

Ini memang lazim terjadi di mana-mana. Tapi kalau saya melihat ada kehangatan kehidupan sosial di sana, apa salah saya?

Tiga pekan lalu, waktu grup sohibul qurban saya mencari hewan kurban untuk tujuh kepala keluarga, kami sebenarnya mengincar sapi milik Mbah Widi. Mbah Widi memang pemilik banyak sapi, semuanya tampak gagah berisi.

Tapi, selain Mbah Widi, ada banyak pula warga kampung lainnya yang menjual ternak mereka pada momen Idul Qurban seperti sekarang ini. Ini kesempatan untuk mendapat harga bagus, setelah beberapa tahun dengan telaten mereka merawat dan membesarkan sapi-sapi sebagai penambah penghasilan di samping bertani.

Maka, beberapa bapak yang lain dalam grup saya berkata, "Ya memang sapinya Mbah Widi itu bagus. Tapi kan beliau sudah kepayon, sudah ada sapi lain punya dia yang laku. Nanti kalau tiga sapi kurban di masjid kita itu sapinya Mbah Widi semua, apa ya nggak terjadi kesenjangan rezeki to, Mas. Kan demi menjaga perasaan banyak orang kita bisa ambil sapi dari yang lain. Jadi yang ketiban rezeki dari penjualan sapi bisa agak merata."

Terus terang, awalnya saya sendiri nggak kepikiran prinsip etis seperti itu. Tapi ternyata ada kepekaan-kepekaan khusus yang tengah diterapkan oleh bapak-bapak anggota grup sohibul qurban lainnya. Saya suka.

Grup saya sendiri cuma berisi tujuh orang, sebagaimana aturan berkurban. Namun, ada grup lain yang beranggotakan lebih dari tujuh. Sistemnya, tetap ada tujuh "jatah" atau bagian, namun ada satu atau dua bagian yang diisi oleh lebih dari satu orang. Artinya, satu bagian didukung oleh beberapa orang secara patungan.

Di atas kertas, mereka yang patungan itu sebenarnya belum bisa dianggap mampu berkurban. Tapi kalau saya melihat bahwa ada semangat berbagi yang menyenangkan di sana, bahwa sesempit apa pun kondisi moneter mereka ternyata orang-orang itu tetap ingin berkontribusi konkret dalam sebuah kegiatan bersama, apa salah saya?

Keinginan untuk berbagi dan terlibat dalam sebuah ajang yang menghidupkan kebersamaan di sebuah kampung kecil, itu jadi sesuatu yang sungguh tak ternilai. Apalagi setelah di Jepang sini pada hari-hari ini saya melihat sendiri sebuah masyarakat lain yang terlalu beku dan kehilangan banyak hal dari kehidupan sosialnya, saya merasa situasi di kampung saya itu anugerah tak terkira. Wajar kan perasaan saya?

Dan, bukan cuma semangat saja yang ada pada kegiatan kurban bersama di kampung saya. Di atas itu, ada pula progres kualitatif yang bisa dipandang sebagai peningkatan mutu aktivitas, sekaligus peningkatan kesadaran dalam banyak hal.

Pertama, soal perlakuan kepada hewan kurban. Dulu kala untuk menjatuhkan sapi-sapi itu warga kampung beramai-ramai memeganginya, lalu membantingnya ke tanah sekuat-kuatnya. Belakangan, sejak di medsos tersebar video berisi teknik mengikat sapi sehingga untuk menjatuhkannya bisa dilakukan pelan-pelan tanpa efek bantingan, warga lambat laun bisa menerimanya, dan sejak dua tahun lalu sudah rutin mempraktikkannya.

Ini bukan cuma perkara belajar teknik. Ada kepekaan komunal yang dilatih bersama-sama di sana yang bersifat compassion, belas kasih, membentuk kesadaran bersama bahwa hewan juga punya rasa takut, kaget, dan sakit, sehingga sikap kepada hewan kurban yang akan dipotong pun terus diperbaiki dari hari ke hari.

"Lho kalau nggak mau hewan sakit ya nggak usah dipotong dong!"

Hehe. Nanti dulu, Mas. Perkara hewan dipotong itu kan memang kebutuhan konsumsi manusia dalam peradaban kita yang omnivora. Mau tak mau si hewan harus dipotong, kecuali sampeyan yakin bahwa kita semua wajib jadi vegan garis keras.

Poinnya, kalau dulu perlakuan menjelang penyembelihan itu cenderung mengabaikan fakta bahwa hewan punya juga rasa takut, rasa kaget, stres, dan rasa sakit di luar penyembelihan itu sendiri, sekarang pelan-pelan semuanya diperbaiki. Dan itu perkembangan kesadaran yang signifikan dalam sebuah masyarakat.

Kita masuk ke yang kedua dulu sebelum melanjutkan ngobrol isu-isu kekejaman.

Yang kedua ini baru terjadi pada Idul Qurban tahun ini. Istri saya mengirimkan foto yang menunjukkan jatah daging kurban untuk kami ditaruh di wadah kreneng (semacam kantong dari bilah-bilah bambu) yang dilapisi daun jati. Sangat eco-friendly, sumber bahan wadahnya melimpah di kampung kami, tidak membawa efek tempelan zat kimia atau aroma entah apa dari kantong plastik ke daging sapi, dan tentu saja sampah bungkus itu akan dengan mudah dibereskan oleh lingkungan secara alami.

Saya kaget. Hebat benar ini warga kampung saya. Hingga kemudian saya mengetahui bahwa seruan untuk eco-friendly itu sudah disebarkan jauh hari di media-media, entah yang paling awal siapa. Warga kampung kami mendengarnya, dan dengan gembira mewujudkannya.

Lalu apa yang lebih menyenangkan dari gerakan sadar lingkungan yang diwujudkan bersama-sama oleh keguyuban lingkungan sosial? Dan ternyata, di banyak sekali tempat lain pun bahan-bahan yang ramah lingkungan itu digunakan beramai-ramai, seiring sampah plastik yang juga ditinggalkan beramai-ramai.

Saya rasa, sebelum momen Idul Qurban kali ini, belum pernah ada satu pun gerakan sadar lingkungan di Indonesia yang semasif ini dilakukan oleh lingkup-lingkup masyarakat kecil dalam kehangatan kehidupan sosial. Ini akan jadi tonggak penting dalam perilaku kita kepada alam hingga di waktu-waktu mendatang.

Dan kalau Anda berpikir yang seperti itu bukan suatu gebrakan kolektif yang hebat dan wajib disyukuri serta dibanggakan, maka saya yakin Anda sendirilah yang terlalu hebat itu. Hehehe.

Sampai di titik ini, saya tiba-tiba bahagia sekali dengan beberapa pencapaian komunal kita pada Idul Qurban tahun ini. Ternyata kita punya sendi-sendi sosial yang masih tetap kokoh, sekaligus dalam kekokohan itu kita membangun sesuatu yang tampak ringan tapi secara jitu menjawab persoalan zaman.

Kalau sudah begini, saya jadi malas menanggapi tudingan-tudingan yang mengatakan Idul Qurban itu pesta kekejaman manusia. Toh mereka yang menuding itu paling-paling kalau makan nasi padang ambil lauknya malah dua. Satu daging rendang, satu gulai tunjang.

Nyammm....

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed