detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 12 Agustus 2019, 15:14 WIB

Kolom

Membaca Bahasa Politik Risma

Fathorrahman Hasbul - detikNews
Membaca Bahasa Politik Risma Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Ilustrasi: Edy Wayono/detikcom)
Jakarta -

Politics is the entertainment branch of industry, begitulah seorang komposer kenamaan asal Amerika Serikat, Frank Zappa (1940-1993) menggambarkan perihal wajah menghibur realitas politik di banyak tempat.

Di negeri ini, politik tampak menjelma hiburan, begitu banyak kejutan-kejutan penting yang silang sengkarut tentang proses politik itu sendiri. Tidak saja soal pertemuan Megawati dan Prabowo, pertemuan ketum parpol yang minus PDIP, maupun perjumpaan tiba-tiba Anies Baswedan dan Surya Paloh, tetapi spontan juga menyasar ke Tri Rismaharini. Pernyataan Risma soal sampah Jakarta menjadi semacam sentakan yang mencengangkan. Risma yang acapkali irit berkomentar soal pekerjaan di luar domain dan teritorinya, tiba-tiba berbicara begitu fasih perihal sampah Jakarta yang bersepah.

Dalam satu kesempatan, dengan begitu meyakinkan Risma menilai pengelolaan sampah di Jakarta dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Bagi Risma, penanganan sampah tidak akan sulit apabila suatu daerah mampu mengelolanya dengan benar. Ia juga menambahkan, untuk membangun tempat pembuangan akhir (TPA), tidak harus selalu memerlukan lahan yang cukup luas. Jepang dan Korea ia jadikan preferensi untuk meneguhkan penilaiannya.

Pernyataan tersebut hampir datang secara simultan sehingga memunculkan pelbagai spekulasi. Secara sederhana pernyataan tersebut terfragmentasi ke dalam beberapa konteks. Pertama, tentang penanganan sampah yang kurang benar. Bahwa yang hendak ia tegaskan bukan tentang narasi sampah yang menumpuk dan implikasinya terhadap masyarakat, lebih daripada itu fokus pesannya pada aktor pengelolanya yang gagal. Dalam hal ini bisa kepala dinas terkait atau hierarki struktur di atasnya, yakni gubernur.

Dalam konteks yang lain Risma hendak menunjukkan bahwa dirinya cukup berpengalaman dalam mereorganisasi proses bisnis dan tata kelola sampah di Surabaya. Titik tekan pesan ini bermuara pada satu hal, bukan sebatas "pengalaman" tetapi soal reputasi sejuta prestasinya di Surabaya. Sehingga motifnya kemudian bermakna ganda; ekspresi kepedulian, atau tentang panggung pencitraan. Terbukti dalam hitungan cepat pernyataan Risma menimbulkan reaksi yang luar biasa.

Beberapa warganet bahkan secara gamblang ingin menyeret Risma untuk "turun gunung", terlibat, dan membantu permasalahan sampah di Jakarta. Gelombang dukungan tersebut pada akhirnya menandai sebuah babak baru, bahwa sampah telah dikamuflase sebagai bahasa politik. Perhatian Risma pada akhirnya menggelinding menjadi bahasa yang sarat survivalitas. Benturannya bukan lagi soal sampah Surabaya versus sampah DKI Jakarta, melainkan citra politik Risma versus dominasi citra politik Anies.

Siasat

Menjustifikasi Risma dengan kesan positif terhadap upayanya membereskan sampah di Jakarta tentu saja tidak salah, tetapi menganggap itu murni bukan bahasa politik juga tidak sepenuhnya benar. Dalam komunikasi politik, pernyataan Risma dapat diterjemahkan sebagai sikap conversionary. Berdasarkan analisis ini, maka strategi politik Risma kemungkinan dirancang untuk menyiasati perhatian seseorang atas sikap-sikap yang diperankan oleh dirinya. Langkan ini bisa bermotif dua hal, mengubah pandangan seseorang atau satu kelompok yang pada awalnya berbeda dengan dirinya untuk berpindah haluan dengan mendukung atas apa yang ditawarkan, atau menggeser afiliasi politik dari zona yang sama ke zona yang ia inginkan, semacam motif ingin 'mengakuisisi' sebagian pendukung Jokowi yang militan.

Cara yang digunakan dalam strategi ini adalah menunjukkan data-data atau fakta yang "kuat" dan "benar" dari penutur dan kemudian membandingkannya dengan data atau fakta "lemah" dan "salah" dalam pandangan orang lain. Pandangan ini muncul dalam pelbagai spektrum peristiwa politik tertentu, atau ia muncul di luar momentum politik tetapi tidak bisa dilepaskan dari segugus agenda politik di masa depan. Sikap Risma secara simbolik telah mengkonfirmasi bahwa dirinya mengambil peran dengan meniti di atas gelanggang politik yang begitu tajam dan lantam.

Gesekan

Pesan Risma untuk membela Jakarta atau perhatiannya yang sepenuh hati pada Jakarta dapat menjadi semacam oase di tengah pekatnya polusi politik. Ia akan menjadi penanda munculnya arus politik baru dalam lanskap politik yang berlangsung hari ini. Pilgub Jakarta memang masih jauh, tetapi karena alasan politiklah pernyataan tersebut sengaja dibuat untuk mengimbangi atmosfer karisma Anies yang kian berbinar.

Pandangan Risma di satu sisi menarik sebagai iktikad baik sesama kepala daerah, terutama soal berbagi ide perihal penanganan sampah. Tetapi di sisi lain, jika tidak didasarkan pada konteks dan momentum yang tepat ia berpotensi menimbulkan sentimen dan gesekan berlebihan yang cukup dini dari orang yang merasa menjadi sasaran kritik. Reaksi ini bisa muncul dari elite, bisa juga dari kelompok yang mendukung.

Jika ini yang terjadi maka bangunan politik kembali akan ditutupi tabir gelap, keruh, dan cemar seperti yang telah terjadi selama ini. Di mana pernyataan-pernyataan sumir tentang kebencian dan sejenisnya menjadi realitas yang getas. Jangan sampai pernyataan-pernyataan politik elite dan pendukungnya kembali pada apa yang dikhawatirkan oleh penyair Habel Rajavani (2017) bahwa dalam politik kadang kala semua pernyataan bukan hanya berlari terlalu cepat, ia bahkan berlari sendiri meninggalkan sumber pikirannya sendiri.

Fathorrahman Hasbul peneliti media dan komunikasi politik, menempuh Magister Ilmu Komunikasi di UGM




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed