detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 12 Agustus 2019, 10:14 WIB

Kolom Kang Hasan

Pendidikan dari Ritual Kurban

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Pendidikan dari Ritual Kurban Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Hari Raya Idul Adha baru saja berlalu. Hari ini adalah Hari Tasyrik, sampai Rabu, 13 Zulhijjah nanti. Selama Hari Tasyrik penyembelihan hewan kurban masih sah dilakukan.

Ada banyak pelajaran penting dari ritual ini. Saya tidak akan membahas dimensi ilahiahnya, tapi dari sisi sosialnya. Dimensi ilahiah sudah jelas, bahwa ini ibadah. Setiap agama punya ritual yang bernilai sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan yang diimani.

Ritual kurban di masa lalu adalah persembahan kepada Tuhan, dengan anggapan bahwa Tuhan menerima kurban itu dalam bentuk darah atau dagingnya. Islam tidak mengajarkan kurban seperti itu. Kurban dalam Islam adalah latihan spiritual untuk melepaskan belenggu kecintaan yang berlebihan kepada sesuatu. Salah satunya adalah kecintaan pada harta. Untuk membebaskan diri dari belenggu itu, orang diajarkan untuk berbagi. Hewan disembelih, dagingnya dimakan bersama, dibagikan kepada yang membutuhkan.

Ada banyak aspek menarik dalam ritual ini, salah satunya adalah kebersamaan dan toleransi. Penyelenggaraan pemotongan hewan kurban dilakukan secara kolektif antarwarga. Mereka bekerja sama. Ini adalah salah satu momen di mana kita bisa berkumpul dengan tetangga. Bagi orang-orang yang hidup di kota besar, momen itu bisa jadi sudah langka.

Ada hal menarik yang dulu saya saksikan di lingkungan rumah lama saya. Setiap hari raya kurban kami mengadakan acara makan bersama, seluruh anggota kompleks perumahan. Seluruh itu artinya yang bukan muslim pun turut serta. Mereka ikut makan. Lho, tapi ini dagingnya kan untuk fakir miskin?

Ini perlu diluruskan dulu. Daging kurban itu tidak 100% untuk fakir miskin. 1/3 boleh dimakan oleh yang berkurban, 1/3 lagi boleh disimpan. Yang dibagikan adalah yang 1/3 bagian saja. Praktik di sini memang lebih banyak porsi buat dibagikan. Jadi, dimakan bersama itu bukan masalah.

Nah, tapi tetangga saya yang bukan muslim itu juga tahu diri. Mereka tidak mau mengurangi jatah orang-orang yang lebih berhak. Karena itu mereka kemudian ikut menyumbangkan beberapa ekor kambing. Mereka tidak berkurban, tapi ikut membangun keakraban, memanfaatkan momen hari raya kurban itu. Ini adalah salah satu sisi indah pelaksanaan ibadah kurban.

Dalam hal berbagi, sangat penting bagi kita untuk memuliakan orang yang kita beri bagian. Memuliakan mereka sebenarnya jauh lebih penting dari sekadar 2-3 kilo daging yang kita bagikan. Jangan perlakukan mereka seperti hamba sahaya yang hina.

Pelaksanaan pembagian kurban dengan memuliakan para penerimanya itu tidak mudah. Banyak orang yang tidak terbiasa untuk antre dengan sabar. Mereka sering berebutan. Kalau tidak dikelola dengan baik, mereka akan berebutan secara brutal. Pembagian daging kurban jadinya akan merendahkan harkat manusia.

Apa yang harus dilakukan? Lakukan analisis manajemen risiko, antisipasi kemungkinan terjadinya rebutan. Saya perhatikan di masjid dekat rumah saya kemarin cukup bagus. Selama proses pemotongan dan penyiapan daging, yang hendak meminta daging kurban tidak diperkenankan masuk. Setelah daging siap, mereka diminta masuk, dibariskan dengan rapi. Lalu dibagikan dengan tertib. Yang sudah dapat langsung pulang. Jadi tidak ada insiden.

Itu pun hanya sebagian saja dari seluruh acara pembagian. Sebagian lain sudah dibawa ke para penerima, diantarkan ke rumah mereka, atau dibagikan melalui warga yang kenal langsung dengan yang membutuhkan.

Praktik semacam ini harus diperluas, agar kurban betul-betul membangkitkan semangat kita untuk berbagi, tanpa merendahkan orang.

Isu lain adalah soal sanitasi. Daging kurban harus dikelola dengan baik agar memenuhi standar sanitasi. Jangan sampai orang sakit karena makan daging kurban. Jangan pula sampai orang sakit karena kuman yang berkembang di tepat pemotongan yang tidak dibersihkan.

Banyak masjid yang sudah menerapkan standar yang baik dalam hal pemotongan, meski belum sempurna. Tapi masih ada saja yang asal-asalan. Nah, kesempatan ini sebenarnya sangat baik kalau dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk memberi penerangan. Mulai dari sanitasi pengelolaan daging, sampai pada pengetahuan tentang daging untuk konsumsi sehari-hari.

Ada baiknya sebulan sebelum hari raya dilakukan berbagai penyuluhan tentang bagaimana pengelolaan daging kurban dengan baik. Penyuluhan dalam suatu momen seperti ini diharapkan bisa lebih kuat efeknya daripada penyuluhan formal tanpa konteks.

Ibadah pada dasarnya adalah upaya untuk menjadi manusia lebih baik. Mari lakukan berbagai upaya maksimal agar ibadah bisa menambah kebaikan pada setiap manusia.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed