detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 10 Agustus 2019, 13:50 WIB

Kolom

Ini Tren Lord Didi, Bukan Kebangkitan Campursari

Ariyanto Mahardika - detikNews
Ini Tren Lord Didi, Bukan Kebangkitan Campursari Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Emak saya yang pemalu tiba-tiba memberanikan diri phone live ke stasiun radio kesayangannya. Dengan nada sedikit bergetar, tak sekadar berkirim salam, Emak juga meminta lagu dalam program yang bertajuk Telagapuri alias Tembang Lagu Langgam dan Campursari. Lagu yang diminta Cintaku Sekonyong-Konyong Koder yang dilantunkan Didi Kempot. Sebuah lagu dengan lirik jenaka dan berkisah tentang seorang pria yang jatuh cinta kepada gadis penjual kue lemper.

Bagi penggemar radio di Lereng Sumbing dan Sindoro, Jawa Tengah pada awal 2000-an program itu begitu populer. Ada paguyuban pendengar yang bertemu secara berkala. Tak berhenti di situ, suatu kali kelompok yang sebagian besar bapak-bapak dan ibu-ibu bertandang ke rumah musisi Manthous di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat dikunjungi, musisi yang bernama asli Anto Sugianto itu tengah sakit. Ia meninggal dunia pada 2012.

Manthous dan Didi Kempot menjadi sosok yang dikenal luas penggemar campursari, genre musik yang memadukan pop modern dengan elemen-elemen musik tradisional Jawa. Nama lain yang tenar antara lain Cak Diqin dan Yan Vellia yang tak lain istri Didit Kempot. Sebelum beralih ke jalur campursari, Manthous merupakan penata musik lagu pop dan pernah bekerja sama dengan sejumlah penyanyi terkenal seperti Hetty Koes Endang dan Nurafni Octavia.

Bagi Didi Kempot, musik tradisional Jawa tentu tak asing. Maklum saja, Didi Kempot anak dari seniman Ranto Edi Gudel, penggubah lagu yang begitu fenomenal, Anoman Obong. Lagu ini mencapai puncak ketenaran menjelang Reformasi yang diwarnai kerusuhan dan kebakaran di sejumlah kota. Sebelum masuk dapur rekaman, Didi mengawali karier sebagai pengamen, dan dia menyematkan nama grup mengamennya Kelompok Pengamen Trotoar (Kempot) di belakang namanya.

Nama itu juga dipakai saat masuk dapur rekaman. Seingat saya, saya pernah melihat video klip Didi Kempot dengan lagu berbahasa Indonesia. Video lagu yang menyertakan instrumen kendang dan suling itu tayang di TVRI pada 1990-an. Setelah saya telusuri, lagu yang dinyanyikan bersama Viara tersebut berjudul Bungkus Saja. Dalam video ini Didi Kempot memakai topi dan berambut pendek. Lagu itu berkisah tentang asmara rakyat jelata, sebagaimana lirik pada lagu itu yang menggambarkan pria "bermodal dengkul" dan kumis sedangkan yang perempuan mengandalkan pipi sama betis.

Namun, di jagat campursari-lah kemudian nama Didi Kempot melesat. Lagu-lagunya yang bertema jatuh cinta, perpisahan, dan patah hati tak terbendung. Uniknya di sebagian lagu yang kemudian kondang kawentar ditautkan dengan nama-nama tempat seperti Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Pelabuhan Tanjung Emas, Taman Satwa Taru Jurug, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Berbagai stasiun radio, terutama jaringan CPP Radio Net, mempunyai program Dot Ai Di atau Didi Kempot Idolaku. Popularitas Didi Kempot juga mengantarnya ke panggung lebih luas, televisi. Pada 2002 meluncurlah program Es Campur Es yang berisi kisah dan lagu Didi Kempot. Acara ini bertahan tiga tahun. Seperti penyanyi lain, popularitas Didi juga melahirkan penggemar fanatik yang kemudian berhimpun dalam komunitas bernama Kempoter.

Bagi Mas Kamto, menantu bapak tempat saya indekos di Solo sewaktu kuliah, kala itu juga menjadi masa yang sibuk. Dia salah satu penabuh dalam kelompok musik pengiring Didi Kempot. Tak hanya di stasiun televisi, Mas Kamto ikut mengiringinya berpentas di Suriname dan tampil juga di Garuda TV, stasiun televisi lokal untuk komunitas Jawa. Setelah tiga tahun sibuk ikut mengiringi di stasiun televisi, aktivitasnya menurun. Saat itu Didi Kempot terus manggung di komunitas-komunitas Jawa di berbagai pulau, meski dengan jumlah kru tak selengkap sebelumnya.

Kisahnya kemudian bergulir sampai saat Lebaran lalu. Menjelang acara Bakdan Ing Balekambang, sebuah acara rutin dalam rangkaian memeriahkan musim libur Lebaran di Solo, sebuah flyer berseliweran di media sosial. Acara tersebut akan menampilkan Didi Kempot sebagai bintang tamu. Bagi saya itu hal biasa. Tapi beberapa saat setelah itu, saya agak terhenyak manakala ada video sekelompok anak muda ikut bernyanyi lagu-lagu Didi Kempot yang kemudian viral. Ini peristiwa langka. Nama Sad Boys Club lalu Sad Girls Club pun mengemuka seiring ditambahkan kata Lord di depan nama Didi serta julukan barunya sebagai God Father Of Broken Heart. Ada pula yang menyebutnya dengan Bapak Patah Hati Nasional.

Sejurus kemudian, mereka bertemu di Rumah Blogger Indonesia (RBI) di kawasan Jajar, Solo. Tak lama berselang, bincang-bincang dan lagu bersama Didi Kempot pun digelar di sebuah kafe wedangan di bilangan Kartasura. Keriuhan acara ini membuncah dan pecah di luar ekspektasi. Para muda larut berjoget dan bernyanyi lagu-lagu patah hati. Lagu-lagu Didi Kempot di situs berbagi video Youtube menjadi buruan. Lagu-lagu ini muncul dalam rekomendasi Youtube setelah pengakses melihat video unggahan Gofar Hilmar, empunya kanal dengan programnya Ngobrol Bersama Musisi (Ngobam) atau unggahan video pentolan RBI, Blontank Poer.

Sistem logaritma di situs itu pula yang mengantarkan saya melihat video yang diunggah akun Joshua Suherman, sebuah nama yang tak asing karena sebelumnya dikenal sebagai penyanyi cilik dan bintang iklan. Ia menyanyikan lagu yang sungguh tak terduga, yakni Pamer Bojo-nya Didi Kempot dan Ditinggal Rabi yang dipopulerkan Via Vallen. Saya tertegun karena penonton di konser itu dengan lantang ikut bernyanyi. Dalam video ini tampak Joshua hanya mengawali lagu dengan menyanyikan baris pertama, selanjutnya penonton yang jelas bukan generasi Kempoter meneruskan lagunya.

Tak disangkal, lagu patah hati tengah berkibar. Seolah melanjutkan kepopuleran lagu-lagu Via Vallen yang dinyanyikan di panggung-panggung musik koplo terutama Jawa Timur dan Pantura Jawa. Di situs Youtube lagu Sayang dengan aransemen baru dan tata panggung yang megah yang dibawakan pada perhelatan Indonesia Choice Award 5.0 Net TV hingga saat ini ditonton 26 juta kali.

Bedanya, tren lagu-lagu Didi Kempot ini bisa berjenjang dan melahirkan generasi baru penggemar. Paling mudah bisa dilihat dari penamaan kelompok penggemarnya. Sad Boys Club dan Sad Girls Club lahir dari generasi yang lekat dengan internet dan smartphone, sementara Kempoter muncul saat penyanyi yang merupakan adik pelawak Mamik Prakoso (almarhum) itu berada di puncak kejayaan musik campursari.

Bagi saya hal itu hanya tren, bukan penanda atau katakanlah awal kebangkitan musik campursari. Hal ini karena "kelahiran kembali", begitu Didi Kempot menyebut, tidak diikuti lahirnya penyanyi baru atau kembali populernya pencipta dan pendendang lagu-lagu campursari yang lain, seperti Cak Diqin misalnya.

Pada era 2000-an nama Cak Diqin dengan lagunya seperti Mendhem Wedhokan atau Tragedi Tali Kutang begitu populer. Bahkan, lagu-lagunya yang jenaka, agak vulgar, sekaligus nestapa, seperti yang pernah saya lihat menjadi semacam "lagu wajib" pengamen bus kota Semarang-Solo. Saya pun pernah mengundang Cak Diqin ke stasiun radio tempat saya pernah bekerja sebagai editor program, walau radio yang bernuang di grup media terbesar di Soloraya itu tidak memutar lagu campursari. Dia datang bersama Nunung 'Srimulat' ke studio. Ketika itu lagu-lagu Cak Diqin sering diputar di banyak radio.

Tren Lord Didi dengan lagu lara branta nandhang asmara (sakit hati karena cinta) ini seolah mengulang kisah lama era paruh waktu 1980-an. Kalau itu lagu berkisah duka nestapa akibat hubungan kasih asmara atau konflik rumah tangga menggema di mana-mana. Lagu cengeng, istilah yang dipakai saat itu, diputar di radio dan televisi. Lagu Tak Ingin Sendiri yang dinyanyikan Dian Piesesha laku terjual hingga dua juta kopi, belum termasuk bajakannya yang tak terhitung jumlahnya. Betharia Sonata, Ratih Purwasih, dengan pencipta lagu seperti Pance Pondaag, Obbie Messakh, Judie Kristianto, dan beberapa nama lain naik daun atau ngehits.

Namun kepupoleran lagu-lagu cengeng ini menimbulkan kekhawatiran penguasa Orde Baru. Lagu-lagu itu dinilai dapat melemahkan mental masyarakat. Imbauan dari Kementerian Penerangan pun dikeluarkan dan meminta lagu-lagu genre tersebut tak lagi diputar di media elektronik. Zaman memang berubah, eranya pun berbeda. Lagu-lagu God Father of Broken Heart kini begitu membahana. Tak ada larangan untuk memutar atau mendengarnya, bahkan pria penyandang nama asli Didi Prasetyo itu diundang ke Istana.

Ariyanto Mahardika pernah bekerja di stasiun radio berita, alumnus UNS Solo




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed