detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 08 Agustus 2019, 15:20 WIB

Kolom

Senjakala Sebuah Perpustakaan

Miguel AJ - detikNews
Senjakala Sebuah Perpustakaan Perpustakaan Japan Foundation sebelum ditutup
Jakarta -

Perpustakaan Japan Foundation (JF) dikenal luas di kalangan mahasiswa Jurusan Sastra/Pendidikan Bahasa Jepang universitas-universitas di Indonesia, maupun oleh para peminat kebudayaan dan sejarah Jepang. Tak sedikit mahasiswa tingkat akhir yang terbantu dengan adanya perpustakaan itu, sebab perpustakaan JF memiliki koleksi pustaka berkualitas yang terdiri dari bahasa Jepang, Inggris, juga Indonesia yang sangat diperlukan sebagai bahan rujukan penelitian. Namun semuanya kini tinggal kenangan. Perpustakaan JF telah ditutup selamanya.

Pada 27 Juni silam, perpustakaan yang terletak di Gedung Summitmas 2, Jl Jend Sudirman, Jakarta Selatan itu tampak kosong melompong. Tak ada lagi buku dan majalah yang biasanya memenuhi perpustakaan tersebut. Ruangan hanya diisi rak-rak tanpa buku dan kardus-kardus cokelat di lantai. Perpustakaan sedang dalam tahap pengosongan. Beberapa orang tampak lalu lalang. Mereka terlihat sibuk mengurusi kardus-kardus yang berisikan koleksi buku.

Salah satu di antara mereka adalah Sushanty Chandradewi, penanggung jawab sekaligus pustakawan perpustakaan JF. Perempuan yang lahir di Subang, Jawa Barat pada 1968 itu telah bekerja di perpustakaan JF selama 19 tahun. Dengan ditutupnya perpustakaan, kini posisinya adalah Senior Communication Officer di Divisi Communication Center Japan Foundation.

Berdasarkan penuturan Sushanty, JF sudah tidak menerima pendaftaran anggota perpustakaan sejak Januari 2019. Lalu, sejak April 2019 semua anggota sudah tidak dapat meminjam buku untuk dibawa pulang, tetapi masih diperbolehkan membaca di tempat. Tanggal 28 Mei menjadi hari terakhir perpustakaan dibuka untuk umum.

Disumbangkan

Perpustakaan JF telah berdiri bersamaan dengan berdirinya Japan Foundation Indonesia di Jakarta pada 1974. Pendirian perpustakaan JF didasari sebagai pendukung tujuan berdirinya The Japan Foundation Jakarta, yaitu untuk memperkenalkan kebudayaan Jepang kepada bangsa Indonesia dan menunjang studi Jepang kepada para peminat sosial budaya bangsa Jepang. Perpustakaan JF mewujudkannya dengan menyebarluaskan informasi melalui media cetak dan elektronik dan mewujudkan penyajian informasi yang aktual baik bahasa maupun sosial budaya Jepang.

Koleksi perpustakaan JF tak hanya berisikan pustaka-pustaka cetak saja seperti buku dan majalah. Dalam hal media cetak, koleksi terdiri atas buku, majalah, koran, buletin, dan poster. Untuk koleksi non-cetak terdapat permainan papan, rekaman, dan video kaset: CD, DVD, dan CD-ROM.

Semua koleksi yang beragam itu sudah tak dapat dinikmati lagi. Sebagian besar disumbangkan ke berbagai lembaga pendidikan tinggi di wilayah berbeda, universitas, dan juga SMA yang memiliki mata pelajaran bahasa Jepang. Sebagian kecil tetap dikoleksi. Ada beberapa koleksi yang dibuang, yakni koleksi yang hanya periodikal dan isinya sudah out of date, brosur-brosur, dan poster yang --mengikuti perkataan Sushanty-- "sudah tidak relevan dengan zaman sekarang."

Untuk menggantikan keberadaan perpustakaan yang telah ditutup, pihak JF berencana membentuk semacam reading corner yang lebih kecil. Tujuan didirikannya reading corner tersebut adalah agar JF (masih) dapat menunjang kegiatan lembaga induk, terutama dalam bidang pendidikan bahasa Jepang, pertukaran seni dan budaya, serta studi Jepang dan pertukaran intelektual, yang merupakan tiga bidang utama kegiatan Japan Foundation.

Tentu jadi muncul pertanyaan, jikalau masih hendak menunjang kegiatan utama JF dalam bidang pendidikan, budaya, dan pengembangan intelektual, kenapa perpustakaan JF ditutup dan malah mendirikan reading corner yang kecil? Mengenai penyebab utama ditutupnya perpustakaan, Sushanty tak bisa menjawab secara detail. Ia hanya mengatakan bahwa alasan atau keputusan yang mendasarinya adalah kebijakan dari kantor pusat The Japan Foundation di Tokyo yang harus ditaati.

Kita jadi hanya mampu menerka-nerka. Mungkin banyak peminjam yang tak mengembalikan buku setelah meminjam, atau tak sedikit pula yang mengembalikan buku tetapi dalam keadaan rusak, sehingga pihak JF menjadi berang. Bisa jadi masalah muncul karena kendala dalam urusan dana, atau ada suatu konflik internal dalam tubuh pimpinan JF. Tak ada jawaban yang pasti.

Optimis

Seperti yang sudah disebutkan, seluruh koleksi buku JF telah disumbangkan kepada banyak lembaga pendidikan berbeda di Indonesia. Tak sembarang lembaga boleh meminta. Pihak JF hanya menyumbang kepada lembaga yang dirasa cocok dengan koleksi milik JF, terutama yang memang memiliki pelajaran bidang bahasa Jepang.

Disumbangkannya koleksi buku JF bukan berarti tak menyisakan suatu permasalahan. Pada banyak kasus, perpustakaan sekolah dan beberapa universitas tidak banyak dilirik dan bukunya pun tidak terawat dengan baik. Bahkan cukup banyak kasus hilangnya koleksi perpustakaan, entah karena tidak dikembalikannya buku pinjaman, maupun pencurian buku yang disengaja. Kini buku-buku JF yang mulanya terawat dan tertata rapi berada di perpustakaan sekolah serta universitas yang belum tentu akan mengurus buku-buku peninggalan JF dengan baik.

Menanggapi hal ini, Sushanty melihatnya dengan cara yang positif. "Saya sebenarnya lebih optimis dengan penyebaran koleksi yang disumbangkan ke berbagai universitas (dan lembaga pendidikan lainnya). Artinya, masyarakat di luar Jakarta/Jawa pun dapat menikmati informasi yang selama ini hanya dinikmati masyarakat ibu kota saja." Meski begitu, Sushanty juga berharap pihak-pihak yang mendapat sumbangan buku JF bisa merawatnya dengan baik.

Sebagai orang yang telah hampir bekerja selama 20 tahun di perpustakaan JF, Sushanty tentu memiliki rasa kecewa dan sedih. Dalam pandangan pribadinya, perpustakaan JF selama ini telah menjadi salah satu perpustakaan rujukan yang terkemuka di Indonesia, baik dalam hal manajemen, layanan, koleksi, maupun kegiatan. Itu terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang menjadikan perpustakaan JF sebagai tempat PKL atau objek penelitian. Di samping itu banyak pula berbagai lembaga yang mengajukan permohonan kunjungan, kerja sama, konsultasi, serta menjadi contoh salah satu tempat berkegiatan di bidang perpustakaan.

Selamat Tinggal

Sushanty tidak memandang penutupan perpustakaan JF sebagai suatu kerugian masyarakat luas yang teramat sangat. Ia bahkan mengatakan, "Penyebaran budaya dan sejarah Jepang melalui buku atau hal lainnya tidak melulu harus dilakukan oleh lembaga kami." Lebih jauh lagi, ia juga menyebutkan bahwa dalam pemaparan salah seorang staf ahli JF, masyarakat Indonesia terutama di kota besar telah mengenal budaya Jepang dan telah dapat mengakses serta mengadakan kegiatan pengenalan budaya Jepang bahkan tanpa bantuan lembaga JF. Pusat Studi Jepang juga telah berdiri di beberapa universitas di berbagai kota besar, bahkan di luar Pulau Jawa.

"Jadi sebenarnya kita sendiri harus mengubah pemikiran kita bahwa pengenalan terhadap Jepang tidak harus tergantung pada The Japan Foundation Jakarta. Apalagi dengan adanya internet, hal-hal terkini lebih cepat diketahui daripada melalui bahan cetakan (buku/majalah)."

Revolusi Industri 4.0 tampaknya telah memunculkan perasaan positif dalam memandang masa depan, terutama dalam bidang pendidikan, di mana pelajaran tak perlu lagi berfokus pada yang cetak, tetapi yang elektronik. Ya, itu bisa jadi positif, tapi bisa pula jadi kerugian besar bagi para penikmat buku bacaan, sebab tak semua buku bisa dibaca dari internet, tak semua bacaan baik bisa didapat cuma-cuma alias gratis. Kita, lagi-lagi, hanya bisa berharap yang terbaik. Bahwa buku-buku yang telah menyebar luas di berbagai lembaga pendidikan itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Selamat tinggal, Perpustakaan JF! Kamu tak akan dilupakan oleh para mahasiswa yang terbantu dengan kehadiranmu sewaktu mengerjakan skripsi, yang pada akhirnya berhasil lulus.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed