detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 07 Agustus 2019, 15:27 WIB

Kolom

Belajar dari "El Paso"

Ubaidillah - detikNews
Belajar dari El Paso Penembakan di El Paso (Foto: Mark Lambie/The El Paso Times via AP)
Jakarta -

Peristiwa penembakan massal di El Paso, Texas, Amerika Serikat, Sabtu (3/8) lalu memberi pesan kepada kita semua: jangan bermain-main dengan penebaran sentimen kebencian rasial. Pelaku penembakan secara terus terang mengatakan dalam manifesto yang ia beri judul The Inconvenient Truth bahwa ia terinspirasi dan menyetujui tindakan pelaku penembakan di Christchurch, Selandia Baru.

Kebencian yang tersiar bisa begitu menjalar dan bertransformasi menjadi tindak kekerasan yang merenggut nyawa. Peristiwa di El Paso merenggut 20 nyawa manusia dan melukai 26 orang lainnya. Peristiwa Christchurch merenggut 51 jiwa.

Kepeloporan Elite

Maraknya penembakan atau tindak kekerasan terhadap orang hanya karena ia menyandang identitas primordial tertentu --hispanic, muslim, atau negro -- di Amerika Serikat tidak terlepas dari kepeloporan Donald Trump dalam membangkitkan kembali sentimen tersebut untuk kepentingan politiknya. Gunviolencearchive.org mencatat sampai Agustus 2019 saja sudah terjadi 251 kali peristiwa penembakan massal.

Di Indonesia kepeloporan elite dalam menyemai dan memupuk kebencian rasial ini pun terjadi. Tentu saja dilakukan untuk kepentingan politik. Oleh elite, politik kontestasi politik elektoral 2019 dikodifikasi menjadi pertempuran antara yang baik dan jahat, misalnya melalui penggunaan atribusi Partai Allah dan Partai Setan. Umat agama yang terhasut bisa saja mentransformasikan klaim tersebut menjadi sebentuk tindakan kekerasan terhadap kelompok yang dilabeli dengan 'Partai Setan' karena semangat ketakwaan membela Allah dan memerangi kebatilan yang inheren dalam diri setan.

Potensi transformasi kebencian menjadi kekerasan ini, yang terjadi di level interpretasi, agaknya memang diabaikan oleh elite dalam menyampaikan wacana politiknya. Konseptualisasi wacana politik hanya mengedepankan keuntungan elektoral semata. Oleh karena itu, elite politik tidak segan memainkan terminologi yang memiliki konotasi rasial atau spesifik merujuk ke kelompok tertentu.

Pernyataan Hendropriyono yang memberi kaitan antara orang keturunan Arab dan provokasi saat kerusuhan Mei 2019 terjadi, serta pernyataan Anies Baswedan saat memberi klarifikasi atas keputusannya memasang seni instalasi bambu, adalah dua contoh wacana elite yang dapat meningkatkan sentimen rasial di Indonesia.

Pada level rujukan, kata Tiongkok memang kata yang digunakan Anies Baswedan memiliki rujukan ke RRT. Namun, kata Tiongkok bukan berarti bebas konotasi diskriminatif karena kata ini digunakan dalam konteks sosial terdapatnya sentimen rasial terhadap kelompok Tionghoa yang mewarnai kontestasi politik yang mengantarkan Anies Baswedan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Oleh karena itu, potensi misinterpretasi kata Tiongkok yang akhirnya membuat sentimen rasial justru terarah kepada kelompok Tionghoa lebih besar daripada terarah kepada Tiongkok.

Media Massa

Bukan hanya elite politik yang ambil untung dari permainan sentimen rasial ini. Media massa pun demikian. Tidak jarang media massa terutama media daring menggunakan kata-kata berkonotasi rasial dalam merangsang pembaca untuk mengklik berita. Rangsangan timbul dari kebencian rasial. Sebuah media daring menggunakan atribusi "sipit" untuk mengatribusi seorang wanita yang memaki saat ditilang polisi. Judul berita media daring tersebut: Ada Wanita Sipit Memaki Polantas, Begini Respon Kakorlantas. Berita yang diterbitkan awal Juni 2018 tersebut kemudian diubah menjadi Wanita Paruh Baya Maki Polantas, Begini Respons Kakorlantas.

Kata sipit dalam budaya Indonesia terasosiasi dengan kata Cina atau Tionghoa. Mata sipit adalah bagian yang menonjol dari kelompok Tionghoa yang dapat menjadi ciri dari kelompok ini. Dengan siasat sinekdok pars pro toto (mengatakan sebagian untuk merujuk kepada keseluruhan), media daring tersebut mencoba merepresentasikan wanita ini arogan karena kecinaannya yang diprasangkai dengan keberlimpahan harta sehingga ia berhak arogan. Alur interpretasi demikian membuat timbulnya ketergesaan mengklik berita. Klik terhadap berita adalah pundi yang terkumpul bagi media tersebut.

Belajar dari peristiwa El Paso dan peristiwa kekerasan karena sentimen rasial lainnya, sebaiknya kelompok elite dan media massa berhenti ambil untung dari permainan kebencian rasial. Permainan ini tak ubahnya tindakan merakit bom waktu yang bisa meledak dan merenggut nyawa manusia. Harmoni kebhinekaan Indonesia terlalu berharga untuk menjadi ongkos kemenangan politik elektoral atau akumulasi kapital.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed