detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 07 Agustus 2019, 10:14 WIB

Kolom

Revolusi Sunyi Meretas Polusi

Jusman Dalle - detikNews
Revolusi Sunyi Meretas Polusi Foto: Toyota
Jakarta - Sorotan terhadap buruknya kualitas udara Jakarta bak lelucon. Predikat polusiterkotor di dunia melekat di tengahmegahnya perhelatan akbar otomotif terbesar di kawasan ASEAN, yakniGaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang belum lama ini sukses diselenggarakan. Ajang itu menarik ratusan ribu pengunjung. Catatan transaksi penjualan dalam bilangan triliun.

Sayangnya, predikat produk best seller di pameran itu bukan diraih kendaraan ramah lingkungan. Jualan unggulan justru diraih mobil dan sepeda motor berbahan bakar bensin. Padahal, di pameran itu, mobil ramah lingkungan dielu-elukan,. dan berada di jajaran panggung terdepan. Sederet teknologi mutakhir dunia otomotif diusung. Yang utama tentu mengurangi ketergantungan manusia pada bahan bakar berpolutan.

Regulasi. Itulah pangkal persoalan, sehingga kendaraan ramah lingkungan masih sebatas pajangan di pameran. Aturan di Indonesia belum mendukung mobil listrik dan variannya: EV, hybrid maupun PHEV sepi di jalanan. Mobil-mobil langit biru itu masih terkendala oleh ragam pajak memberatkan.

Antara lain bea impor, pajak kendaraan mewah, pajak mesin ganda bagi kendaraan hybrid dan PHEV sebab combustion engine dihitung terpisah dengan mesin listrik. Konsekuensinya, harga terkerek tinggi. Kendaraan ramah lingkungan yang mestinya didorong jadi mobil sejuta umat, malah jadi kendaraan langka.

Persiapan implementasi regulasi mobil listrik sebetulnya sudah dimulai beberapa tahun yang lalu. Bahkan sejak 2017 pemerintah telah menjanjikan bakal merilis peraturan mobil listrik. Janji senada diulang-ulang setiap tahun ketika ada momen pameran otomotif.

Baru-baru ini beberapa pejabat terkait kembali menjanjikan ihwal regulasi mobil listrik. Antara lain disampaikan oleh Wakil Presiden, Menko Maritim, Menteri ESDM, Menteri Perindustrian, dan Menteri Keuangan. Janji itu bahkan diamini oleh Gaikindo selaku asosiasi industri otomotif.

Sebelum-sebelumnya, keterangan para pejabat berwenang tersebut seolah menguap dan tak tentu. Hilang ditelan waktu. Kabar baiknya, info terbaru dari lingkaran pemerintah menjanjikan harapan yang lebih sahih. Sebab menteri-menteri yang angkat suara memang terkait kebijakan mobil listrik. Para pejabat tersebut bahkan mengaku turut menandatangani draft perpres yang kini menunggu final touch di meja Presiden Jokowi. Tinggal menunggu waktu untuk diteken Presiden, katanya.

Revolusi Senyap

Di level global, revolusi senyap mobil listrik yang tanpa asap dan suara ini memang tengah berlangsung. Bak gelombang, mewabah di berbagai belahan dunia. Amerika, Eropa, dan bahkan China berlomba jadi terdepan dalam melaju. Bukan sekadar regulasi agar mobil listrik melenggang di jalanan. Namun juga memacu mobil listrik sebagai peletup disrupsi industri otomotif.

Ada banyak misi di balik derap sunyi kendaraan elektrik. Termasuk isu lingkungan seperti yang jadi diskursus utama yang mencuat di tengah Jakarta yang polutif. Di negara sekelas Amerika Serikat yang merupakan jantung bisnis dunia sekalipun, sumber polusi utama ternyata bukan karena industri (baca: keberadaan pabrik-pabrik dan perkantoran).

Menyitir data dari United States Environmental Protection Agency (EPA), sumber utama emisi di negara industri terbesar dunia tersebut berasal dari polusi transportasi. Sebesar 29 persen polusi di AS disumbang oleh lalu lalang kendaraan sebagai instrumen mobilisasi. Sementara industri menduduki posisi ketiga dengan kontribusi 22 persen sebagai biang polusi. Di posisi kedua, sebesar 28 persen polusi bersumber dari elektrifikasi.

Data ini sengaja di ketengahkan sebagai benchmark dengan buruknya udara Jakarta. Selain masifnya industri dan kebutuhan listrik perkantoran hingga rumah tangga, kendaraan bermotor juga menjadi biang kontributor polusi di ibu kota. Gambarannya tak jauh beda dengan yang terjadi di Amerika.

Karena itu, pemerintah mesti mengambil langkah-langkah solutif. Bukan di satu sektor saja. Apalagi sekadar mengkritisi pembangkit listrik di sekitaran Jakarta. Namun dengan kebijakan terpadu. Termasuk upaya meminimalisir peredaran kendaraan bermotor di Jakarta dengan kendaraan ramah lingkungan.

Mendorong masyarakat beralih ke kendaraan bertenaga elektrik terbukti memberi banyak benefit. Menjaga langit agar tetap biru, hanya satu di antaranya. Manfaat lain dari kendaraan elektrik adalah mengurangi konsumsi bahan bakar minyak. Ini amat menolong APBN sehat dan rupiah kuat. Sebab Indonesia adalah net importir minyak.

Bagi penggunanya (masyarakat/konsumen), mobil listrik jelas lebih hemat. Sebagai komparasi, mobil bermesin bakar berkubikasi 1.500cc mengonsumsi satu liter bensin RON92 untuk jarak 12 Km. Artinya setiap km harus ditebus seharga Rp 820 per kilometer. Sementara dengan kendaraan full elektrik cuma butuh biaya Rp 300-400 per kilometer. Artinya, pengguna mobil listrik mengantongi efisiensi hingga 50%.

Itu baru biaya harian untuk bahan bakar. Belum efisiensi perawatan. Sebab komponen kendaraan elektrik tak sekompleks mesin bakar. Biaya maintenance otomatis terpangkas, jauh lebih murah.

Bila dicermati, era mobil listrik adalah bagian dari gelombang revolusi industri yang melanda dunia. Seperti e-commerce dan tekfin di sektor ekonomi, tech health care di bidang kesehatan, ride hailing, electric vehicle dan autonomous car di sektor otomotif.

Beberapa pabrikan mobil bahkan telah mengintegrasikan sistem digital terkini ke dalam produknya. Sistem virtual yang sigap diperintah oleh pengemudi atau penumpang bahkan sudah ada yang berbahasa Indonesia. Pabrikan Jerman bahkan sudah mengenalkan sistem pengisian daya secara virtual. Isi baterai mobil dapat dikontrol melalui gawai di genggaman.

Begitulah kisah revolusi sunyi kendaraan ramah lingkungan bersenyawa dengan digitalisasi. Gelombang revolusi baru ini juga mengusung efektivitas dan isu keberlanjutan. Juga menawarkan nilai berbasis efisiensi dengan bobot yang baru. Karena itu, adopsi kendaraan ramah lingkungan sudah saatnya didorong. Sebelum terlambat, dan langit semakin kelabu.

Jusman Dalle
Direktur Eksekutif Tali Foundation dan praktisi ekonomi digital


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed