Kolom

Wacana "Rektor Impor" yang Tidak Perlu

Bimo Ario Tejo - detikNews
Jumat, 02 Agu 2019 13:47 WIB
Ilustrasi: Andhika Akbarayansyah
Jakarta -

Dunia pendidikan tinggi Indonesia dihebohkan dengan usulan Menristekdikti Mohamad Nasir untuk mendatangkan "rektor impor" agar perguruan tinggi nasional (PTN) Indonesia bisa menembus 100 besar peringkat dunia.

Menristekdikti mengambil contoh Nanyang Technological University (NTU) Singapura yang baru berdiri pada tahun 1981, tetapi saat ini mampu menembus peringkat 50 besar QS World University Rankings. Rahasianya, menurut dia, karena NTU mengundang rektor asing.

Sayangnya Menristekdikti tidak (atau lupa) mengambil contoh tetangga NTU, National University of Singapore (NUS) yang kini bertengger di peringkat 11 dunia dengan mengandalkan rektor-rektor orang Singapura sendiri.

Menristekdikti juga tidak (atau lupa) berkaca pada Malaysia yang lima universitas negerinya mengalahkan Universitas Indonesia (UI) dalam QS World University Rankings 2020 padahal kelima-limanya tidak pernah mendatangkan "rektor impor". Dan dari segi usia, kelima PTN Malaysia itu jauh lebih muda daripada UI.

Mungkin Menristekdikti sudah tidak percaya dengan kemampuan rektor-rektor warga negara Indonesia. Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Jika target Menristekdikti hanya ingin membawa PTN kita menembus 100 besar peringkat dunia, ini hal yang mudah. Tidak perlu sampai membuat heboh dengan wacana mendatangkan "rektor impor" yang kemungkinan besar justru akan kontraproduktif.

Untuk menembus 100 besar QS World University Rankings, kita hanya perlu memahami kriteria yang digunakan oleh QS. Dalam penilaian pemeringkatan, QS menggunakan kriteria reputasi akademik (40%), reputasi majikan (10%), rasio dosen/mahasiswa (20%), sitasi publikasi riset per dosen (20%), rasio dosen internasional (5%), dan rasio mahasiswa internasional (5%).

Mari kita lihat Universitas Indonesia yang saat ini berada di peringkat 296. Menurut data QS, UI sangat lemah di kriteria publikasi dosen dengan skor 1,9 dan rasio mahasiswa internasional dengan skor 5 dari maksimum skor 100. Sedangkan untuk kriteria lain, UI membukukan skor cukup lumayan seperti reputasi akademik (39,5), reputasi majikan (47,3), rasio dosen/mahasiswa (43,4), dan rasio dosen internasional (94,5).

Untuk membawa UI masuk ke 100 besar peringkat dunia, karena skor sitasi publikasi UI sangat rendah, reaksi panik dan spontan adalah: "Oh, kita harus meningkatkan kualitas riset. Oleh sebab itu, kita harus impor dosen dan rektor asing!" Tidak secepat itu.

Universidad de Buones Aires (UBA) menempati peringkat 74 padahal skor sitasi publikasinya cukup rendah (2,4). Tidak berbeda jauh dengan skor UI (1,9). Rahasia UBA untuk masuk ke peringkat 100 besar adalah dengan memaksimalkan skor kriteria-kriteria lain selain publikasi dosen. Karena skor penilaian terbesar berasal dari reputasi akademik (40%), UBA memaksimalkan kriteria ini sehingga mendapat skor 87,2.

Reputasi akademik adalah bagaimana universitas kita dikenal oleh 94 ribu responden survei yang dilakukan oleh QS. Ada banyak cara untuk membuat universitas kita dikenal secara internasional, dan saya yakin kita tidak memerlukan rektor asing untuk melakukannya.

Jika UI dapat memaksimalkan reputasi akademiknya, mengundang lebih banyak mahasiswa asing untuk mengikuti program pertukaran pelajar atau kelas internasional, dan menjaga hubungan baik dengan perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan lulusan UI, saya percaya UI dapat meraih skor yang cukup baik untuk menembus peringkat 100 dunia.

Rektor warga negara Indonesia bisa melakukannya. Mereka hanya perlu diberi tahu bagaimana cara melakukannya.

Bimo Ario Tejo associate professor dan dekan Faculty of Applied Sciences (2016-2019) UCSI University, Malaysia. UCSI University mendapat predikat Asia's Fastest Rising University oleh QS University Rankings Asia 2018

(mmu/mmu)