detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 31 Juli 2019, 16:14 WIB

Kolom

Defisit Neraca Perdagangan dan Wacana Investasi

Hafidz Arfandi - detikNews
Defisit Neraca Perdagangan dan Wacana Investasi Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta - Neraca perdagangan Semester I-2019 menunjukkan peningkatan defisit (yoy) hingga 62,18% dari -1,19 miliar dolar AS menjadi -1,93 miliar dolar AS. Kemerosotan ini disebabkan adanya penurunan signifikan pada surplus non migas 1,58 miliar dolar AS ditambah terjadinya penurunan defisit perdagangan migas hingga 836 juta dolar AS.

Jika dicermati penurunan defisit migas Semester I disebabkan oleh penurunan volume impor migas (yoy) hingga 16,43%, terutama akibat menurunnya impor minyak mentah yang selama Semester I-2018 sebesar 8,9 juta ton, pada semester ini hanya 5,4 juta ton. Kementerian ESDM menyebut, kenaikan ini berkat inisiatif Pertamina untuk menyerap minyak mentah domestik yang ditargetkan hingga 116,9 MBCD pada 2019, meningkat 8 kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya 12,8 MBCD. Strategi ini meski mampu menurunkan nilai impor, tetapi ikut menekan nilai ekspor minyak mentah (yoy) hingga -68,09%, atau turun sekitar 3,7 juta ton.

Sedangkan untuk impor hasil minyak dan gas (yoy) mengalami perubahan yang tidak signifikan masing-masing -4,10% dan 3,11%. Artinya, kebutuhan domestik akan impor komoditas ini masih relatif stagnan. Sedangkan ekspor gas yang selama ini menjadi andalan penghasil surplus, Semester I (yoy) justru mengalami penurunan hingga -18,60% atau menurun sekitar 2,2 juta ton.

Di sektor non migas, meski surplusnya menurun, tetapi justru ada kenaikan volume ekspor (yoy) 10,92%, sedangkan dari sisi impor hanya meningkat 1,88% saja. Terjadinya penurunan surplus lebih disebabkan oleh tekanan terhadap harga komoditas ekspor non migas Indonesia yang jika dilihat secara agregat sepanjang Semester I 2019 rata-rata berkisar 242,9 dolar AS/ton atau turun 15,74%. Sebaliknya impor non migas Indonesia secara agregat hargannya hanya turun sebesar 6,58% atau rata-rata pada Semester I-2019 sebesar 214,3 dolar AS/ton.

Perbedaan harga agregat impor non migas yang hampir 5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan komoditas ekspor, mengindikasikan ekspor Indonesia lebih didominasi oleh komoditas bernilai tambah relatif rendah, sebaliknya impor non migas justru didominasi produk bernilai tambah tinggi. Hal ini terkonfirmasi dengan porsi impor non migas yang didominasi oleh mesin mekanik 17,65% dan mesin listrik 12,84%.

Sedangkan ekspor didominasi oleh bahan bakar mineral 15,33% dan minyak nabati 10,89%. Dua komoditas andalan ekspor Indonesia ini relatif rentan terhadap penurunan harga sekaligus punya banyak pilihan substitutifnya. World Bank mencatat harga rata-rata keduanya di Semester I (yoy) masing-masing turun sebesar -15,05% dan -16,80%.

Semakin Tertekan

Kondisi neraca perdagangan 2018 yang mencatat defisit terburuk dalam sejarah hingga 8,57 miliar dolar AS ternyata berdampak pada transaksi barang. Pada 2018 transaksi barang nilainya negatif 439 juta dolar AS atau menjadi defisit pertama sejak pascakrisis. Transaksi barang sendiri merupakan pencatatan yang dilakukan BI berdasarkan nilai Free on Board (FoB) atas ekspor dan impor yang dicatat di pelabuhan pengiriman, sehingga nilainya berbeda dengan BPS yang mencatat ekspor berdasarkan FoB, tetapi impor sudah memasukkan nilai pengangkutan dan asuransi atau Cost, Insurance, and Freight (CIF).

Hal lain yang menarik untuk disoroti, adanya peningkatan defisit sektor jasa yang pada 2018 lalu mencatatkan defisit hingga 7,07 milyar dolar AS dengan defisit terbesar disumbangkan oleh pengangkutan -8,8 miliar dolar AS, di mana 71, 5% atau -6,9 miliar dolar AS berasal dari transaksi jasa pengangkutan barang. Besarnya nilai defisit tersebut menunjukkan ketergantungan jasa pengangkutan pada pembayaran ke luar negeri. Perlu upaya untuk mengurangi ketergantungan pada jasa pengangkutan luar negeri sehingga upaya menggenjot volume ekspor akan secara optimal memberikan dampak positif pada transaksi barang maupun jasa.

Pada Januari-Maret (Q1) 2019 transaksi barang (yoy) surplusnya merosot hingga 46,12% ditambah peningkatan defisit transaksi jasa 13,27% sehingga terjadi penurunan (yoy) sebesar 1,48 miliar dolar AS dari transaksi barang dan jasa. Jika situasi terus memburuk hingga akhir tahun dapat dipastikan transaksi barang dan jasa akan menyumbangkan defisit transaksi berjalan yang lebih besar dari defisit 2018, yang sudah berada di -7,4 miliar dolar AS.

Investasi = Solusi?

Dalam menjawab kondisi ini pemerintah berulangkali mewacanakan investasi sebagai solusi tunggal, di mana investasi diharapkan akan mampu mendorong ekspansi ekspor sekaligus memperbesar ruang substitusi impor. Presiden Jokowi bahkan berulangkali menegur menteri-menteri yang bertanggung jawab soal ini untuk bisa mempercepat realisasi investasi dalam rangka memperbaiki kondisi ekspor-impor.

Namun pemerintah juga mesti berhati-hati dan semakin selektif dalam merealisasikan rencana investasi di Indonesia. Masuknya investasi juga memberikan tekanan pada transaksi berjalan di masa depan. Pada 2018, transaksi berjalan secara keseluruhan menunjukkan nilai defisit hingga -31,05 miliar dolar AS, di mana defisit terbesar dihasilkan dari primary income yang menyentuh angka -30,44 miliar dolar AS.

Defisit primary income merupakan hasil dari beban akumulatif yang harus dibayarkan atas faktor eksternal baik untuk pembayaran upah yang langsung dibayarkan ke luar negeri maupun imbal hasil investasi yang masuk ke Indonesia. Defisit pembayaran upah hanya sekitar 1,5 miliar dolar AS, sedangkan imbal hasil investasi telah mencapai 28,93 miliar dolar AS, di mana 59,2% di antaranya adalah imbal hasil Investasi langsung.

Jika orientasi pembangunan terus diarahkan untuk mendorong investasi masuk tanpa mempertimbangkan efektivitasnya dalam menggenjot nilai ekspor, maka kita seakan membiakkan sel kanker yang menggerogoti imunitas perekonomian. Tahun lalu, defisit transaksi berjalan sudah mencapai 2,98% terhadap PDB, atau terburuk dalam 5 tahun terakhir.

Besarnya defisit atas transaksi berjalan akan mengakibatkan neraca pembayaran Indonesia semakin bergantung pada transaksi finansial bahkan untuk sekadar menjaga ketersediaan cadangan devisa. Inilah yang menjadikan perekonomian Indonesia semakin rentan terhadap krisis di tengah situasi global yang tak menentu.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com