Kolom

Mengelola Destinasi Wisata Minat Khusus

Osi Pratiwi Sasmita - detikNews
Rabu, 31 Jul 2019 11:08 WIB
Kampung warna-warni Magelang (Foto: Eko Susanto)
Jakarta -

Special Interest Tourism atau dalam bahasa Indonesia umum dikenal dengan sebutan pariwisata minat khusus merupakan jenis pariwisata di mana wisatawan melaksanakan perjalanan untuk belajar dan berupaya mendapat pengalaman baru tentang sesuatu hal di daerah yang dikunjungi. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa tipologi dari wisata jenis ini tidak biasa, antimainstream, atau bahkan aneh. Mengapa? Karena biasanya wisata minat khusus sangat berhubungan dengan hobi seseorang, komunitas, atau didasari rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

Sesuai dengan namanya, orang-orang yang melakukan wisata minat khusus biasanya berkeinginan untuk mewujudkan minat dan ketertarikannya terhadap suatu objek atau hal yang lain. Oleh karena itu, umumnya wisata ini hanya diikuti oleh satu, dua, atau sekelompok kecil pelancong. Wisata minat khusus biasanya membutuhkan biaya yang relatif lebih mahal dari wisata yang biasa saja. Berbiaya mahal karena biasanya kunjungan mengarah ke suatu negara yang jauh atau daerah terpencil. Tapi terkadang secara teknis di lapangan juga ada saat-saat ketika wisata minat khusus tidak membutuhkan banyak biaya, seperti hanya menyusuri hutan, berburu, atau memancing.

Ada beberapa prinsip yang mendasari wisata minat khusus di antaranya adanya motivasi untuk mencari sesuatu yang baru (antimainstream), atau adanya unsur kepuasan dalam melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain, atau pula mencari pengalaman baru. Selain soal prinsip, wisata minat khusus juga didasari beberapa tujuan. Yakni, rewarding, penghargaan terhadap objek yang dikunjungi; enriching, misal pengayaan diri atau dapat juga dalam rangka bisnis; adventure, tujuan untuk memenuhi minat bertualang yang tinggi; dan terakhir learning, keinginan untuk mempelajari hal-hal yang baru.

Perkembangan pariwisata minat khusus sebenarnya juga sejalan dengan perkembangan gaya hidup manusia sehingga muncul istilah-istilah baru seperti culinary tourism, halal tourism, dark tourism, Tolkien tourism (mengunjungi lokasi film Lord of The Rings), drug tourism, getto tourism, dan masih banyak lagi. Bahkan ditengarai telah terjadi pergeseran orientasi pariwisata pada 2017, dari wisata massal menuju wisata alternatif atau wisata minat khusus dengan pola wisata yang menekankan kepada aspek penghayatan dan penghargaan lebih terhadap aspek kelestarian alam, lingkungan, dan budaya (enviromentally and cultural sensitives).

Kesadaran terhadap pesona Indonesia oleh komunitas-komunitas masyarakat di sekitar destinasi wisata berupa keindahan lanskap alam, keanekaragaman seni, budaya, dan adat istiadat masyarakat yang dikelola secara ramah dengan menawarkan perjalanan-perjalanan wisata minat khusus terhadap pasar pariwisata merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran orientasi pariwisata. Selain itu, ada faktor kejenuhan wisatawan itu sendiri terhadap wisata buatan yang menjadi ciri wisata massal.

Dampak dari pembangunan pariwisata massal dan aktivitasnya terhadap sumber daya manusia dapat mengakibatkan degradasi nilai-nilai sosial budaya, nilai-nilai moral, ataupun komersialisasi tradisi. Begitupun pengaruhnya terhadap sumber daya alam, pembangunan wisata massal akan berdampak pada alih fungsi lahan dari sektor pertanian ke sektor pariwisata, terjadinya pencemaran lingkungan, serta terjadinya kerusakan lingkungan dan ekosistem.

Dampak negatif tersebut disebabkan karena "pengembangan pariwisata massal yang semata-mata dilakukan dengan pendekatan ekonomi, dan pariwisata dipersiapkan sebagai instrumen untuk meningkatkan pendapatan keuangan sebuah lembaga semata." Berbeda dengan itu, dalam wisata minat khusus pembangunan pariwisata harus berdasarkan pada kriteria keberlanjutan, dapat didukung secara ekologis dalam waktu yang lama, layak secara ekonomi, serta adil secara etika dan sosial bagi masyarakat setempat.

Pembangunan berkelanjutan dalam wisata khusus diintegrasikan dengan lingkungan alam, budaya dan manusia, dengan tujuan agar sektor pariwisata mampu memberikan keberkahannya terhadap alam, lingkungan sosial, dan pelaku wisata itu sendiri. Salah satu program wisata besutan pemerintah yang mengarah pada pengembangan wisata minat khusus dan ramah yaitu dengan dipopulerkannya konsep desa wisata dan wisata di perdesaan. Konsep desa wisata mengedepankan autentisitas keseharian desa yang dikemas menjadi destinasi-destinasi unik dengan pemberian prioritas pada penyajian pengalaman yang berbeda dengan kehidupan nyata para wisatawan.

Pada dasarnya, desa wisata menawarkan pengalaman tentang bagaimana hidup di desa bersama masyarakat setempat, ikut terlibat dalam berbagai jenis aktivitas masyarakat perdesaan, yang secara fundamental maupun teknikal tentulah berbeda dengan kehidupan sehari-sehari para wisatawan. Turunan teknis dari konsep wisata perdesaan adalah hadirnya bisnis homestay, acara-acara perdesaan, dan peluang produk-produk perdesaan untuk berkembang, seperti kerajinan desa dan kuliner desa.

Sampai di sini, bisa kita ambil kesimpulan bahwa wisata desa pada khususnya, dan wisata minat khusus pada umumnya, bisa menjadi salah satu konsep yang akan membawa pemerataan di sektor pariwisata di mana masyarakat desa beserta pelaku UMKM desa bisa ikut menikmati kue ekonomi pariwisata yang sedang mekar sebagaimana kita saksikan hari ini. Untuk itu, pemerintah sejatinya perlu segera melakukan pengidentifikasian perkembangan pariwisata minat khusus ini, lalu memetakan keunggulan dan dampak positif pengembangan destinasi wisata khusus yang ada.

Selanjutnya, pemerintah bisa mendapatkan informasi komprehensif tentang praktik-praktik terbaik dalam pengelolaan destinasi wisata khusus untuk kemudian dijadikan guidelines dan parameter bagi calon-calon destinasi wisata khusus di tempat lain. Dan, yang lebih penting, dengan hasil identifikasi tersebut pemerintah pun bisa mengidentifikasi peluang-peluang intervensi kebijakan untuk pengembangan lebih lanjut dari wisata minat khusus secara masif (nasional).

Osi Pratiwi Sasmita kandidat Master di School of Government and Public Policy, Cileungsi

(mmu/mmu)