detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 28 Juli 2019, 11:30 WIB

Jeda

Jodoh dan Hal-Hal Lain tentang Pencapaian

Mumu Aloha - detikNews
Jodoh dan Hal-Hal Lain tentang Pencapaian Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Seorang teman yang baru saja dirawat di rumah sakit menyampaikan unek-uneknya dengan nada masygul di Facebook. Bukan karena pelayanan yang dibedakan gara-gara ia memakai BPJS --untuk urusan ini, ia justru mengaku puas (Terima kasih, Pak Jokowi!). Namun, sumber kekesalan itu berasal dari perawat yang berkali-kali bertanya, "Keluarganya mana?" padahal sudah dijawab "Nggak ada." Dan, ia masih terus ditanya, "Lalu, siapa yang menemani Bapak?"

Karena jengkel, teman saya yang memang lucu dan kadang sinis itu menjawab, "Tuhan."

Di kota semetropolis dan sekeren Jakarta, yang konon kini telah sejajar dengan kota-kota lain di dunia seperti London, Tokyo, dan New York setelah punya MRT (Terima kasih, Pak Anies!), orang-orang yang hidup sendiri masih dianggap aneh. Atau, lebih tepat jika dikatakan: masih ada sebagian orang yang melihat dengan tatapan aneh kepada orang-orang yang hidup sendiri.

Bagi mereka, sebagian orang itu, yang jumlahnya sangat banyak, hidup sendiri tidak pernah dianggap sebagai pilihan. Orang-orang yang hidup sendiri akan digunjingkan dengan macam-macam stigma negatif, seperti tidak laku atau "perawan tua" (jika perempuan) --anehnya (jika laki-laki) tak ada sebutan "perjaka tua", mungkin karena memang tak ada laki-laki dewasa yang (masih) perjaka hehehe.

Atau, kalau bukan itu, kemungkinan lain (yang hampir pasti) akan digosipkan sebagai homoseksual, feminis radikal, pembenci lawan jenis karena punya trauma atau pengalaman traumatis di masa lalu. Pokoknya, tidak ada cerita bahwa orang yang hidup sendiri itu bisa saja karena memang dia memilih dengan penuh kesadaran. Alasannya tentu saja macam-macam, tapi bukan itu isunya. Melainkan, bahwa kita hidup dalam budaya di mana menikah, berkeluarga, dan beranak pinak, dianggap sebagai satu-satunya pilihan dan cara, dan lebih dari itu, dianggap sebagai bentuk pencapaian dalam hidup.

Tidak, kita tidak sedang bicara soal agama. Saya bukan ahlinya. Saya hanya ingin bicara tentang fenomena sosial kota, tempat di mana para lajang, orang-orang yang hidup sendiri karena pilihan sadar, dan (mungkin) bahagia, ada di antara masyarakat, di sekeliling dan tengah-tengah kita, namun tak pernah benar-benar dilihat dengan tatapan yang wajar, proporsional, dan biasa-biasa saja.

Saya sendiri juga pernah mengalami, antara lain ditanya oleh tukang ojek langganan yang biasa mengantar pulang sehabis saya belanja di supermarket dekat rumah. "Kok yang belanja masnya terus, istrinya ke mana?"

Pertama kali mendengar pertanyaan itu perasaan saya langsung emosi, dan nyaris saja meradang dan menceramahinya bahwa di dunia yang fana ini, dalam kehidupan yang terbentang luas dan tak bertepi di atas hamparan bumi dan di bawah naungan langit ini, tidak semua hal seperti yang kamu pikirkan, dan ada hal-hal yang tidak sesederhana itu untuk dipertanyakan.

Namun, karena maqam kearifan dan kebijaksanaan saya sudah selevel sufi, atau minimal para filsuf generasi awal di Yunani, akhirnya saya pun bisa menahan diri, menarik napas panjang, dan menanggapinya hanya dengan tertawa kecil, dengan ketenangan seorang Master Zen.

***

Belakangan, terjadi pergeseran dalam tata nilai pergaulan sosial masyarakat kita. Pertanyaan seperti "kapan nikah", atau hal-hal pribadi yang dulu dianggap biasa saja, kini mulai disadari bahwa hal itu mestinya dihindari. Bukan karena masyarakat semakin sensitif, melainkan memang sudah semestinya proses pembelajaran dan pendewasaan masyarakat kita sampai pada tahap yang menghormati dan menghargai "privacy" orang lain.

Bahkan, mengomentari teman yang sudah lama tidak bertemu dengan celetukan-celetukan seperti "sekarang gemukan" atau "kok kurus banget sih" pun kini dianggap tidak pada tempatnya. Body shaming, begitulah kita menyebutnya. Celakanya, yang melakukan itu tak jarang justru orang-orang terdekat kita, semisal saudara atau bahkan orangtua kita sendiri.

Seorang teman juga pernah mengeluhkan hal ini via Facebook-nya. Ia bercerita tentang ibunya yang sejak dulu "hobi" body shaming, dan belakangan dirasakannya makin akut. "Tiap kali pulang kampung, mama pasti nyeletuk tentang penampakan saya, minimal satu kali. Kamu item banget ya, ke dokter kulit atuh, misalnya. Seakan-akan kulit item itu penyakit menular yang perlu diwaspadai."

Yang barangkali terasa agak menggelikan, tapi juga tak kalah mengganggu, belakangan bahkan muncul istilah "book shaming". Yakni, mengomentari selera orang lain berkaitan dengan buku yang dibaca, dengan nada merendahkan. "Apa? Kamu baca novel-novelnya Boy Candra? Oke, kita nggak usah berteman lagi ya..." Itu misalnya. Hehehe.

***

Barangkali kita memang perlu berpikir kembali dengan lebih serius, dan memperluas pemahaman kita, tentang toleransi. Tentu saja memang ada orang yang seleranya buruk dan payah, tapi kenapa? Tentu saja memang ada orang-orang yang lebih gemuk dibanding lainnya, atau terlihat "kurus kering" dan lebih tua dari usia sesungguhnya. Atau wajahnya tidak putih mulus berkilau selayak yang diidealkan dalam iklan-iklan kosmetik. Kenapa kita berharap kesempurnaan dari orang lain?

Dan, tentu saja akan selalu ada orang yang menonton film di bioskop sendirian, entah karena dia lajang (atau lagi jomblo), dan kalau memang lajang entah karena tak kunjung ketemu jodohnya atau oleh sebab lain, kenapa kita membiarkan prasangka kita menghakiminya dengan pernyataan-pernyataan, atau naluri primitif kita menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sepatutnya kita lontarkan, karena semua itu sebenarnya bukan urusan publik?

Kalau memang ada yang namanya "life goals", maka tentu daftar dan prioritas yang dimiliki tiap orang berbeda-beda. Dan, kalau ada yang namanya "pencapaian" dalam hidup ini, itu pun juga sesuatu yang bersifat relatif antara satu orang dengan yang lainnya. Apapun istilahnya, life goals, pencapaian, tak ada kewajiban bagi kita untuk mendikte orang lain, pun tak ada keharusan untuk sama antara satu dengan yang lain.

Jika muara dari semua itu adalah upaya untuk mencapai kebahagiaan, bukankah ukuran dan standar yang ditetapkan, atau minimal kondisi-kondisi dan momen-momen yang diciptakan, untuk membuat orang bahagia itu berbeda-beda?

"Oke, baiklah, jadi ngomong-ngomong, apa pencapaianmu pada usiamu yang sekarang ini?" mendadak seolah-olah terngiang pertanyaan bernada menantang itu.

Kalau ada pertanyaan semacam itu, bagi saya sederhana saja. Bisa bangun pagi tanpa memasang alarm, itu pencapaian. Bisa sarapan tanpa terburu-buru untuk berangkat ke kantor, itu pencapaian. Baju-baju di lemari tertata rapi, juga buku-buku di meja di sudut kamar tidak berserakan, itu pencapaian. Menemukan sepasang kaos kaki bersih, itu pencapaian. Memasak sendiri makanan kesukaan pada akhir pekan, itu pencapaian. Mulai rutin ikut kelas yoga setelah sekian lama tertunda-tunda, itu pencapaian....

"Kamu tahu nggak, teman SMA-mu baru saja mendaftarkan anak bungsunya masuk kuliah?" tiba-tiba terdengar suara.

"Minggu depan teman kita merilis novelnya yang kelima lho, kamu kapan?" terdengar suara lain entah datang dari mana.

"Sudah dengar kabar, salah satu teman kuliah kita baru saja membuka gerai restonya yang kesepuluh?" rasanya suara-suara itu semakin susul-menyusul dan sahut-menyahut, memantul di dinding-dinding dan atap, menggema ke seluruh ruangan.

"Eh, ingat teman sekelas di SMP yang dulu sering kita bully? Dia baru saja meraih gelar profesor termuda di Indonesia! Aku baca beritanya di media online."

"Nggak nyangka ya, teman SD kita yang dulu selalu juara satu dari belakang, sekarang kaya raya, jadi pengusaha dan eksportir sukses."

"Teman kita baru balik liburan dua minggu keliling Eropa. Padahal belum lama kemarin baru saja traveling ke Jepang."

"Teman kita...."

"DIAAAMMM!!!" tanpa sadar saya berteriak kencang sambil menutup telinga.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed