Kolom

(Tetap) Mendongeng di Era Digital

Nurul Yaqin, - detikNews
Minggu, 28 Jul 2019 10:16 WIB
Foto: iStock
Jakarta -

Ketika menghadiri Roadshow Bus KPK Jelajah Negeri Bangun Antikorupsi pada 13 Juli 2019 lalu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyampaikan dongeng di depan siswa-siswi PAUD, TK, SD, dan SMP di Gedung Siola, Surabaya. Dongeng yang disajikan kepada murid tersebut berisi pelajaran tentang kejujuran. Tidak hanya itu, wanita berusia 57 tahun ini memberikan hadiah kepada siswa yang berani tampil ke depan untuk menyampaikan cerita kejujuran yang pernah dialaminya.

Dongeng atau cerita yang disampaikan oleh aparatur pemerintah merupakan sesuatu yang sangat jarang terjadi. Namun, Bu Risma telah membuktikan bahwa dongeng bukanlah metode yang hanya dipandang sebelah mata. Memupuk nilai-nilai kebaikan dengan mendongeng akan lebih mudah diterima dari pada hanya dengan narasi-narasi ceramah yang terkesan menghakimi.

Dongeng memang merupakan media konservatif yang unik untuk menstimulus generasi muda di tengah terpaan teknologi yang sukar dibendung. Dengan bahasa yang sederhana tapi menarik, pesan yang disampaikan dalam dongeng dapat dicerna dan diterima dengan mudah, tanpa terkesan menasihati dan memaksakan. Inilah salah satu indikator dongeng masih eksis dan digemari hingga saat ini, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

Dongeng didefinisikan sebagai suatu cerita prosa hasil seni rakyat yang hidup subur dalam masyarakat, impian, dan sebuah kenyataan bercampur menjadi satu dalam dunia angan-angan. Meskipun dongeng hanya berupa ilusi (khayalan) yang tidak benar-benar terjadi, namun fungsinya adalah menghibur dan menyampaikan ajaran moral.

Perlahan Pudar

Laju perkembangan zaman berbasis digital bersifat instan. Segala sesuatu didapat dengan mudah tanpa melalui proses panjang. Lebih sadis lagi digitalisasi seringkali menghanguskan segala yang berbau konvensional; metode lama dianggap usang dan ketinggalan zaman. Begitu pun dalam konteks pendidikan anak (parenting), tradisi dongeng yang merupakan cara paling efektif dalam menanamkan moral perlahan pudar.

Penetrasi serangan gadget begitu masif dengan sasaran utamanya generasi digital native, generasi yang lahir ketika teknologi sudah berada di lingkungannya. Mereka sangat mahir mengoperasikan gadget. Layanan gadget yang menggiurkan membuat mereka candu karena selalu menawarkan hal-hal baru. Fitur game menjadi media yang paling diminati oleh anak, padahal efek negatifnya sangat besar bagi tumbuh kembangnya.

Anehnya, menyikapi kondisi demikian orangtua sebagai pendidik utama masih belum responsif. Alih-alih menjauhkan anak dari gadget, mereka justru menjadi pihak pertama yang mengenalkan anak pada alat canggih tersebut. Belum lagi kesibukan orangtua milenial yang multiperan membuat mereka jaga jarak dengan anaknya. Jangankan mendongeng, tatap muka saja sangatlah sukar. Saat ini sangat jarang ditemukan orangtua bercerita atau berdongeng kepada anaknya menjelang tidur.

Jadi, jangan heran jika anak kita lebih doyan main gadget daripada mendengarkan cerita atau dongeng. Permasalahan lain, orangtua masa kini terlalu tergesa-gesa dalam memberikan pola pendidikan kepada anak. Mayoritas dari mereka menginginkan anaknya cepat mahir dalam menulis dan membaca. Anak dipaksa belajar sejak dini dengan mendatangkan guru privat. Anak yang secara usia belum matang dalam belajar membaca atau menulis kelak akan mencapai titik jenuh di masa yang akan datang.

Memaksa anak membaca pada usia tertentu, seperti usia TK dan PAUD, bisa menimbulkan ketidaksukaan anak untuk membaca di masa depan. Anak usia dini bukan dilatih agar bisa "cepat" menulis dan membaca, tetapi agar mereka "cinta" menulis dan membaca. Spirit literasi dibangun bukan atas dasar paksaan, tapi dengan fondasi cinta. Dan fondasi dasar kecintaan anak kepada literasi bisa melalui budaya dongeng oleh orangtua. Penyajian dongeng yang baik oleh orangtua semakin mudah menanamkan semangat cinta literasi kepada anak sejak dini.

Dongeng dapat mengembangkan daya imajinasi anak, memperkaya kosa kata, dan meningkatkan keterampilan bahasa, kemampuan mendengarkan, serta merangsang kreativitas. Dongeng dengan kedekatan sentuhan fisik juga akan menjalin kerekatan antara ibu dan anak.

Unik dan Menyenangkan

Budaya mendongeng dalam keluarga dapat dilakukan dengan menerapkan gerakan 1821 yang sudah cukup familiar di masyarakat. Yaitu sebuah terobosan yang digagas oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Direktur Auladi Parenting School Bandung yang mengimbau para orangtua untuk berpuasa gadget dari jam 18.00 sampai dengan jam 21.00. Durasi tiga jam ini dapat dimanfaatkan orangtua untuk menyisipi kegiatan dongeng secara konsisten.

Namun, tradisi dongeng dalam keluarga juga harus unik dan menyenangkan agar dapat diterima dengan baik dan tepat sasaran. Maka dari itu menjadi pendongeng yang baik bagi anak adalah sebuah keniscayaan. Para orangtua dapat menerapkan cara-cara berikut. Pertama, menguasai materi. Penguasaan materi yang baik akan lebih mudah melakukan improvisasi. Titik beratnya pada unsur-unsur pembangunan dalam cerita, seperti tokoh, alur, setting, dan konflik. Tujuannya, agar anak lebih tertarik dan antusias dalam mendengarkan cerita atau dongeng.

Kedua, memberi sifat kepada kata. Maksudnya, setiap kata yang disampaikan sebisa mungkin memiliki roh yang membedakan dengan kata-kata yang lain. Penyajian kata-kata yang datar menyebabkan dongeng yang disampaikan terasa hambar dan cenderung menyebabkan anak cepat bosan.

Ketiga, menghidupkan tokoh. Yaitu dengan mengekspresikan penyampaian dongeng secara maksimal agar anak dapat mengimajinasikan setiap tokoh dalam cerita. Sehingga dapat membedakan sikap tokoh ketika sedang bahagia, sedih, marah, dan lain-lain.

Keempat, tulus dalam mendongeng. Dongeng yang baik biasanya disampaikan dengan hati yang jernih. Sebaliknya, hati yang kalut dan stres dapat menyebabkan penyajian dongeng kurang optimal. Ketulusan hati dapat dengan mudah memantik jiwa anak untuk menanamkan hal-hal positif.

Akhirnya, di tengah kondisi era digital yang menyelinap ke dalam ruang gerak generasi muda, dongeng dapat menjadi benteng dalam menangkal pengaruh negatif kemajuan teknologi. Secanggih apapun teknologi tidak dapat menandingi kehebatan budaya dongeng baik dalam penanaman budaya literasi maupun pengembangan diri (afeksi dan kognisi). Jadi, mari kita luangkan waktu berdongeng sebagai pengganti fitur-fitur gadget yang selalu menghantui.

Nurul Yaqin pendidik di SMPIT Annur Cikarang Timur Bekasi, anggota Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya (KGPBR).

(mmu/mmu)