detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 26 Juli 2019, 14:50 WIB

Kolom

Aplikasi untuk Menjadi Orang Lain

Candra Malik - detikNews
Aplikasi untuk Menjadi Orang Lain Candra Malik (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Dunia memang sedang bersalin rupa. Sejak puluhan tahun silam, bahkan lebih, manusia melakukan hampir segala cara menyangkal dan menangkal penuaan dini. Mulai rambut disemir demi menyiasati uban, keriput tidak boleh menyeruak, kantong mata tebal juga harus dikompres, hingga pertanyaan soal umur pun ditabukan. Tapi, entah mengapa, tiba-tiba kita ingin melihat wajah tua kelak.

Bukan teknologi yang sesungguhnya telah merangsang ketidaksanggupan kita untuk menahan diri mengikuti tren. Namun justru ketidaksanggupan kita menahan diri itulah yang menjadikan tren teknologi. Bukan lagi data pribadi kita sebenarnya yang mungkin saja dicuri, melainkan bahkan kepribadian kita. Hari-hari ini, potret wajah-wajah tua seolah jadi teropong melihat masa depan.

Face App, nama aplikasi yang lekas tenar tersebut. Beberapa pengguna aplikasi pop itu memunculkan potret mereka yang jauh lebih sepuh melampaui usianya kini. Seperti berhenti mengandalkan aplikasi edit foto yang sebelumnya lihai menyulap tampang menjadi imut, mereka bisa ketawa-ketiwi demi menyaksikan roman senior yang boleh jadi mereka sendiri tak lagi mengenalinya.

Sebagian penutur bijak bestari berpetuah, aplikasi wajah tua ini tak baik terutama atas dasar satu alasan, yakni mendahului takdir. Belum tentu kita sampai umur itu, katanya. Ada pula yang sampai mengutip ayat suci, dan mulai berceramah di media sosial atau grup perbincangan. Tapi, ada pula yang tak mau menanggapi serius. Juga muncul saja kelakar satir tentang kegagalan aplikasi ini.

Kelakar itu terutama ditujukan pada orang-orang yang sudah tua yang tidak bisa lebih dituakan lagi oleh aplikasi ini. Jika dipaksa, yang nongol justru gambar kuburan. Entah ini anekdot kita menertawakan hidup atau memang ini kenyataannya: pada akhirnya pilihan aplikasi kita adalah bagaimana kita kelak kita ingin diwafatkan-Nya, dikuburkan, didoakan, dan dikenang. Adalah aplikasi itu?

Saya masih ingat cerita seorang kawan di Tasikmalaya tentang seorang tua di Cianjur yang memandikannya, "Dan, lihatlah, wajah saya tampak muda, tidak seumuran dengan saya." Ia tak diberi doa apa pun untuk rajin ditengadahkan tiap hari. Pun tak dipasangi susuk atau azimat lain. Hanya dimandikan. Sampai saat ini, saya lihat, ia belum pasang potret penuaan wajah di akun media sosial.

Malam tadi, kala menyesap secangkir kopi, saya disodori foto perempuan ayu dengan senyum yang memamerkan sepasang gigi kelinci. "Ini juga sedang tren. Orang-orang sampai pasang gigi buatan," ujarnya. Tak ada komentar saya selain, "Bagaimana nanti kalau tren berubah? Dari gigi besar ke gigi kecil. Hendak dibuang ke mana sepasang gigi kelinci itu?" Teman saya menyeringai.

Saya duga, keinginan meluruskan hidung bengkok, atau memancungkannya, masih hidup dalam impian banyak orang. Seperti pula keinginan memilih lensa kontak warna-warna tertentu sesuai selera. Mengoperasi dagu juga dilakukan demi lebih tampan. Bikin pipi tirus? Aneka kosmetik bisa dipilih. Tapi, menuakan wajah? Walau pun sekadar aplikasi untuk edit foto, seriuskah Anda?

Tentu saja serius. Ikut memakai aplikasi penuaan wajah atau bersikap tegar tidak terbawa arus, sama belaka: kita menua. Bedanya, ada yang cepat, ada pula yang lambat, menyadari penuaan itu hingga kita tidak lagi memiliki waktu untuk menyesali betapa teramat banyak hal yang belum dilakukan sepanjang hidup. Atau, betapa banyak hal telah kita lakukan dengan buruk.

Tak ada orang tua yang benar-benar ingin menghabiskan segala sesuatu untuk dirinya sendiri selama masih hidup. Seburuk apa pun, ia akan tetap memikirkan anak cucunya, generasi berikutnya. Ia ingin mewariskan sesuatu. Menjadi tua adalah menjadi tuan bagi perjalanan hidup kita sendiri, merdeka dalam menentukan sikap terbaik hendak mewariskan apa untuk anak-anak kita kelak.

Segala yang hidup, tumbuh. Juga kita. Tapi pertumbuhan usia ternyata tak selalu diikuti pertumbuhan jiwa. Kita menua, tapi belum tentu mendewasa. Di zaman ini, kita alami betapa jarak dilipat, durasi disingkat, dan urusan diringkas. Tapi, itu semua tak lantas membikin kita semakin tenang. Justru kita semakin gelisah bahkan tentang bagaimana wajah harus diubah. Menjadi orang lain.

Candra Malik budayawan sufi


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed