Kolom

Trump, Boris Johnson, dan Salmafina

Irfan L. Sarhindi - detikNews
Jumat, 26 Jul 2019 11:00 WIB
Drama Salmafina (Ilustrasi: Zaki A/detikcom)
Jakarta - Pada 14 Juli 2019, Donald Trump sekali lagi bikin keriuhan melalui tweet-nya. Trump menyerang empat anggota Kongres: Ayanna Pressley, Ilhan Omar, Alexandria Ocasio-Cortez, dan Rashida Tlaib. Dalam tweet-nya, Trump menyuruh keempat anggota Kongres tersebut untuk "kembali ke negara asal mereka yang korup dan terbelakang" dan "berhenti memberitahu Amerika Serikat (negara paling hebat di dunia) ihwal apa yang harus dilakukan."

Tweet itu memicu polemik dan reaksi keras tidak hanya dari para anggota Kongres, tetapi tentu saja jurnalis dan masyarakat. Hanya saja, sebagaimana bisa ditebak, Trump tidak mau ambil pusing karena dia yakin bahwa banyak orang mendukung dia.

Tweet Trump tidak diragukan lagi amat rasis. Secara sadar dan sengaja Trump menyerang keempat anggota Kongres tersebut tidak pada gagasan yang mereka sampaikan, tetapi pada atribut identitas dan historical narrative yang mereka miliki. Dengan itu, Trump ingin menegaskan supremasinya sebagai orang kulit putih Amerika dibanding dengan ras kulit berwarna dan hitam.

Trump adalah kemunduran setelah Amerika Serikat mendobrak konstruksi rasisme yang melekat berabad-abad lewat, atau setidaknya sejak kemenangan Obama sebagai Presiden. Trump juga adalah representasi politisi right wing yang mengadopsi gagasan neo-nasionalisme, gagasan yang antara lain mendefinisikan nasionalisme sebagai anti-imigran.

Tetapi situasi tersebut rupanya tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Menurut Roy Wehrle (Illionis Times, 23 Februari 2017), situasi tersebut disebabkan ketidakmerataan ekonomi, disrupsi yang drastis, dan ketiadaan lapangan kerja. Ketiga hal tersebut kemudian ditudingkan kepada para imigran-pencari suaka. Situasi ini nyaris melanda seluruh dunia seperti Hungaria di bawah Viktor Orban, Polandia di bawah Jaroslav Kaczynski, Slovenia, Republik ceko, Prancis, Jerman, Austria, dan tentu saja Inggris.

Dalam kasus Inggris Raya, penguatan right wing menjadi salah satu motor suksesnya Brexit dan terpilihnya Boris Johnson yang oleh Trump disebut "Britain Trump". Julukan dari Trump ini memang tidak dapat dinafikan, walau kemiripan antara keduanya tidak berhenti pada gaya rambut yang nyentrik. Alih-alih, keduanya juga memiliki rekam jejak sentimen negatif terhadap Islam dan Muslim.

Brian Klass menulis A Short History of President Trump's anti-Muslim Bigotry di The Washington Post untuk menunjukkan daftar panjang aktivitas politik Trump yang anti-Islam. Sedangkan dalam kasus Boris Johnson, Perdana Menteri baru Inggris tersebut pernah mengeluarkan statement negatif terhadap perempuan yang bercadar, yang meningkatkan tensi kebencian terhadap kalangan sub-altern tersebut. Johnson juga pernah menyebut Islam sebagai sumber kemunduran komunitas Muslim.

Bisa jadi baik Trump maupun Johnson memang memperlihatkan sentimen anti-Islam tersebut dalam upaya oportunistik meraih simpati dan dukungan dari pangsa pemilihnya. Tetapi tetap saja hal tersebut kadung melahirkan hate speech dan hate spin, dan keduanya hanya mempersulit hadirnya kohesi sosial yang inklusif. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga dalam konteks geopolitik.

Kiranya tidak berlebihan bahwa apa yang dilakukan oleh pesohor-pesohor semisal Trump dan Johnson hanya semakin menjustifikasi narasi anti-western di negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia. Sebagaimana kita tahu, Indonesia juga mengalami penguatan politik right wing dalam bentuk populisme Islam. Populisme Islam bahkan tidak hanya dalam wujud partai politik Islam, tetapi organisasi massa non-politik yang berkegiatan politis seperti FPI, GNPF-Ulama, dan Persaudaraan 212.

Situasi ini kerap dikaitkan pula dengan penguatan ultra-konservativisme Islam yang walaupun geliatnya marak pasca Reformasi, narasinya bisa ditarik hingga masa sebelum kemerdekaan sehingga Islam kerap dipertentangkan dengan Pancasila.

Dalam meraih simpati Muslim, sebagaimana dijelaskan Vedy Hadiz, gerakan populisme Islam seringkali menggunakan narasi kejatuhan dinasti Islam pasca invasi Eropa sebagai salah satu historical narrative. Narasi kesejarahan tersebut menjadi basis konstruksi narasi anti-Barat. Bahkan hasil riset terhadap radikalisme menunjukkan adanya narasi yang mengajarkan suatu gagasan untuk "kuasailah teknologi dan ilmu pengetahuan" dari Barat untuk menghancurkan Barat.

Dan narasi tersebut dapat dengan mudah ditemui di kalangan ultra-konservatif, yang menurut Martin van Bruinessen sedang menguat di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari --salah satunya-- perubahan tren berhijab di Indonesia dalam kurun 10-20 tahun terakhir: dari larangan berjilbab, jilbab trendi, dan jilbab syar'i. Hingga terakhir bermuara pada "kasus" pindah agama Salmafina. Tapi, apa hubungannya --bagaimana menjelaskan hubungan itu?

Tanpa bermaksud menggeneralisasi keadaan, saya bermaksud untuk memperlihatkan bagaimana kompleksnya konteks yang interconnected ini. Tapi secara umum alur berpikir yang mau saya kasih lihat adalah sebagai berikut: sentimen anti-Barat beririsan dengan ultra-konservatisme Islam. Ultra-konservatisme Islam punya kecenderungan terlalu tekstual dan rigid dalam menerjemahkan agama dan Muslim yang menganut paham ini kadang kala bersikap judgemental, self-righetous, dan susah menerima perbedaan pandangan.

Di satu sisi ia menawarkan skema "pemulihan" bagi mereka yang kehilangan akar, tetapi di sisi lain watak ini melahirkan sikap eksklusif yang memandang rendah the other. Dan, sikap ini salah satunya ditunjukkan melalui dari "orang-orang religius" tersebut di sosial media. Salmafina adalah the other yang menikah dengan rising star di kalangan ultra-konservatif. Karenanya, ia dihujat sedemikian rupa atas dasar "standar religiusitas" kalangan ultra-konservatif. Secara tidak langsung, ini sepertinya mempengaruhi kondisi batin dan psikologis Salmafina, sebelum akhirnya memutuskan pindah agama.

Anggapan ini bukan tanpa alasan. Beberapa kali saya bertemu dan berdiskusi dengan orang yang akhirnya memutuskan menjadi agnostik atau pindah agama karena merasa "kehilangan kedamaian" yang ditawarkan oleh Islam akibat aksi Muslim yang merasa paling Islami. Situasi ini tambah kompleks dengan mengaburnya ranah privat dan publik akibat eksploitasi internet dan industri showbiz serta belum matangnya kita menyikapi perbedaan akibat keasyikan menikmati privilege.

Irfan L. Sarhindi pengasuh Salamul Falah, lulusan University College London

(mmu/mmu)