detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 24 Juli 2019, 12:20 WIB

Kolom

Penjaga Gerbang Tol dan Polarisasi Pekerjaan

Tonny Leonard - detikNews
Penjaga Gerbang Tol dan Polarisasi Pekerjaan Robot jaga gerbang tol (ilustrasi: Andhika Akbarayansyah/detikcom)
Jakarta -

Beberapa hari yang lalu, detikcom mengulas tentang hilangnya pekerjaan para penjaga gerbang tol karena perubahan sistem pembayaran menjadi non tunai. Perubahan yang didukung oleh teknologi telah menghilangkan peran penjaga di gerbang tol yang dulunya "hanya" bertugas untuk menerima pembayaran dari pemakai jalan tol.

Tenaga kerja yang hilang dipindahkan ke pekerjaan lain atau dipensiun dini. Sebagian dari yang dipensiun dini mungkin bisa bekerja lagi di tempat lain, dan sebagian lainnya mungkin masih belum bisa bekerja lagi karena keterbatasan skill.

Menarik untuk mengamati perkembangan teknologi yang sedemikian pesatnya dalam dekade terakhir ini. Perkembangan teknologi tidak bisa dipungkiri telah memberikan kontribusi pada kehidupan manusia di hampir semua aspek kehidupan. Perkembangan teknologi transportasi adalah salah satu teknologi yang ditemukan pada abad ke-19, sebagai hasil samping revolusi industri yang dipelopori oleh James Watt dengan mesin uapnya. Pada era ini, teknologi mesin uap terutama dipakai untuk menggantikan "otot" manusia. Brynjolfsson dan McAfee (2014) menamakan fase ini sebagai era first machine.

Gelombang mesinisasi mempercepat pertumbuhan ekonomi dalam segala bidang, yang tercermin dari naiknya angka produktivitas dalam proses produksi. Penggunaan mesin, robot, atau peralatan lain yang lebih cerdas secara perlahan namun pasti telah menggantikan beberapa pekerjaan yang secara tradisional dilakukan oleh manusia.

Ini adalah sebuah era ketika terjadi pergeseran kemampuan mesin yang pada revolusi sebelumnya untuk menggantikan "otot", menjadi mesin yang bisa menggantikan "otak" manusia. Mesin telah menjadi semakin "cerdas" pada saat ini. Brynjolfsson dan McAfee merumuskan era second machine sebagai perubahan yang terjadi karena perkembangan pesat dari teknologi yang ditopang oleh teknologi berbasis komputer.

Polarisasi Pekerjaan

Contoh penjaga gerbang tol yang semakin berkurang atau bahkan menghilang adalah perubahan struktur pasar tenaga kerja yang disebabkan oleh kemajuan teknologi berbasis komputer. Menjaga gerbang adalah pekerjaan yang sangat mudah untuk digantikan oleh mesin. Pekerjaan ini bersifat rutin, sehingga dengan prosedur yang dibangun dalam komputer, pekerjaan ini relatif mudah digantikan oleh mesin. Pada kasus ini, teknologi telah mensubstitusi tenaga kerja manusia dengan mesin. Tidak lagi diperlukan manusia untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

Di sisi lain, kita menyaksikan pekerja dengan pengetahuan yang tinggi terhadap penggunaan teknologi akan menikmati perolehan gaji yang semakin baik. Pengisi konten Youtube telah menjadi idola baru bagi anak muda saat ini. Kreativitas dalam menggunakan teknologi berbasis multimedia telah menjadi lapangan kerja yang sangat menjanjikan.

Dokter yang dibantu oleh X-Ray bisa melakukan diagnosa dengan lebih baik. Profesi ini menggunakan teknologi sebagai komplemen dalam pekerjaannya. Teknologi telah membantu pekerja memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Tingkat kemelekan teknologi menjadi salah satu kunci di profesi ini. Profesi ini mengalami pertumbuhan yang cukup berarti di tengah maraknya penghilangan tenaga kerja karena masuknya teknologi.

Teknologi dengan keterbatasannya akan sulit mengganti manusia pada pekerjaan yang bersifat non rutin. Tingkat kemelekan teknologi menjadi pembeda profesi pada profesi yang belum bisa diambil alih oleh teknologi. Pekerjaan non rutin dengan kompleksitas skill yang rendah mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Pekerjaan jenis ini berkorelasi dengan tingkat pendapatan yang kecil. Pekerjaan sebagai tukang kebun, penjaga kebersihan adalah kelompok pekerjaan jenis ini. Sayangnya penyerapan di sektor ini tidak diimbangi dengan kecepatan naiknya tingkat pendidikan. Hal ini mengakibatkan pengangguran di level ini akan tetap besar.

Maarten Goos dan Alan Manning (2007) menggunakan istilah polarisasi pekerjaan untuk fenomena semakin berukurangnya pasar kerja untuk skill menengah yang bersifat rutin. Peningkatan angkatan kerja pada dua kelompok di atas tidak diikuti oleh pertumbuhan tenaga kerja di level menengah secara kemampuan kognitif. Pekerjaan administratif, analis perbankan, kasir di minimarket termasuk pekerjaan dalam kelompok menengah yang mudah diganti oleh mesin cerdas saat ini.

Penyerapan Tenaga Kerja

Era revolusi industri, era first machine terjadi penciptaan pekerjaan yang melimpah. Perpindahan tenaga kerja dari agraris ke manufaktur relatif tidak menambah angka pengangguran secara berarti. Tetapi pada era second machine, penciptaan lapangan kerja yang baru relatif tidak bisa menggantikan jumlah pekerjaan yang hilang, karena teknologi yang mendorong mesin lebih pintar makin berkembang.

Industrialisasi telah dengan baik menyerap migrasi tenaga kerja ini. Tetapi, mesin yang semakin cerdas, dalam banyak hal mulai mengganti peran manusia. Efisiensi dan kompetisi memaksa industri untuk mencari cara yang lebih efisien dalam proses produksinya, dengan salah satu pilihan adalah mesinisasi.

Jika transisi dari pada era first machine bisa berlangsung secara mulus, tantangan yang dihadapi pada saat transisi di second machine menjadi lebih berat. Kenaikan angka pengangguran yang disebabkan oleh penggunaan teknologi semakin tinggi. Penurunan ini hanya bisa dikompensasi dengan penciptaan lapangan kerja yang baru.

Profesi baru memang sudah mulai bermunculan dengan perubahan teknologi. Dibutuhkan skill dan pengetahuan baru untuk bisa mengambil bagian dalam perubahan ini. Memilih profesi yang sulit untuk digantikan oleh komputer di masa depan dan membangun skill yang dibutuhkan menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan saat ini.

Keuntungan demografi Indonesia akan menjadi petaka jika tidak dipersiapkan dengan baik mulai saat ini. Proses pendidikan menjadi salah satu bagian penting untuk mempersiapkan hal ini. Dengan kondisi pendidikan saat ini, akankah kita siap menghadapinya? Pertanyaan besar yang harus dijawab oleh semua pihak di negeri ini.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com