detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 22 Juli 2019, 12:30 WIB

Kolom

Negara Plato, Dialektika, dan Pengasuhan Anak

Liseh - detikNews
Negara Plato, Dialektika, dan Pengasuhan Anak Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Setiap anak adalah embrio masa depan. Sebegitu pentingnya pengasuhan anak, sehingga tak salah jika Plato mengemukakan teori untuk memperbaiki generasi yang akan datang dengan eugenetika, dimana manusia dengan sifat unggul diundang pada sebuah pesta pengantin semalaman, lalu anak yang dilahirkan akan dididik oleh negara (panti asuhan negara). Setiap anak akan mendapatkan pengajaran sesuai kemampuannya. Sistem ini disebut koedukasi.

Anak yang gesit dan berani akan dimasukkan dalam golongan prajurit, anak yang cerdas akan melanjutkan ke pendidikan filosofis idea, sementara anak yang tidak lolos keduanya akan menjalani kerja produktif sesuai keahliannya. Saat berumur 50 tahun, yang memiliki kualitas kebijaksanaan, keadilan, dan bakat rasional (kemampuan mewujudkan "yang paling baik" dalam dirinya) akan bergelar filsuf.

Begitulah konsep Negara Plato. Pendidikan merupakan hal yang paling utama, sebab dari pendidikan yang terprogram akan melahirkan seorang pemimpin filsuf, pemimpin yang diharapkan mengakhiri kesengsaraan umat manusia dari ketidakadilan.

Prinsip dasar pendidikan menurut Plato adalah menjadikan manusia sebagai perfect citizen yang mengerti fungsi dan peranan dirinya dalam bermasyarakat. Sehingga pendidikan anak tidak semata-mata untuk dijadikan komoditas yang berorientasi pada suplai tenaga kerja, hanya menjadi robot budak mesin industri, teralienasi dari hasil kerjanya sendiri.

Plato juga menekankan pendidikan budi pekerti sebelum pendidikan logika dengan tujuan mempertahankan sifat baik anak dan mengembangkannya, atau dengan kata lain excellence with morality.

Anak Indonesia

Pada 2018, jumlah anak di Indonesia mencapai 79,6 juta jiwa, sepertiga dari jumlah penduduk. Sebagaimana diramalkan, Indonesia akan mengalami bonus demografi pada 2020-2045. Jika perkembangan pendidikan anak buruk, maka Indonesia di masa depan akan menjadi negara yang lemah, bonus demografi hanya akan menjadi beban negara. Namun jika kualitas anak baik, bonus demografi akan melahirkan Indonesia emas yang gilang-gemilang.

Di sinilah peran negara sebagai penyelenggara program pendidikan berperan penting. Negara sebagai penjamin keamanan dan kesejahteraan bagi seluruh warganya juga memikul peran penting menciptakan World fit for Children (Dunia Layak Anak). Sesuai dengan komitmen Indonesia yang tertuang dalam Keputusan Presiden No 36 Tahun 1990 dengan mengembangkan kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), dengan tujuan utama melahirkan Indonesia Layak Anak (IDOLA).

Prinsip yang digunakan mengacu pada Konsensus Hak Anak (KHA), yaitu: (1) non diskriminasi, (2) kepentingan terbaik bagi anak, (3) hak hidup, (4) kelangsungan hidup dan perkembangan, serta (5) menghargai pandangan anak.

Selain peran pemerintah, keluarga adalah faktor yang sangat penting dalam menentukan kualitas pengasuhan. Sebab pada keluarga, anak memperoleh pengajaran pertamanya tentang konsep kedirian dan pola komunikasi. Keluarga merupakan cetakan kepribadian setiap anak. Bagaimana orangtua mencontohkan segala hal akan menjadi dasar pondasi kepribadiannya. Baik buruknya teladan akan menentukan baik buruknya kepribadian anak.

Sebab, melahirkan bisa cukup sekali, tapi menjadi orangtua adalah seumur hidup. Betapa mengasuh anak tidak sekadar memberi makan, menemani bermain, dan mencukupi kebutuhan fisiknya saja. Lebih dari itu hal paling fundamental adalah pengasuhan yang tepat dan berkualitas, di mana setiap anak dapat mengembangkan bakat serta kemampuannya.

Namun kondisi keluarga di Indonesia saat ini belum semuanya mempunyai kualitas memadai. Banyak keluarga yang belum memahami peran, tugas dan kewajibannya sebagai orangtua, sehingga tak salah jika dalam Hari Anak Nasional (HAN) yang selalu dirayakan setiap 23 Juli, tahun ini mengangkat tema "Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak".

Sudah menjadi ironi di masyarakat bahwa dewasa ini anak tidak hanya menjadi korban, tapi juga menjadi pelaku kejahatan. Komitmen masyarakat pun masih terbilang rendah terhadap perlindungan anak. Terlihat dari upaya memanfaatkan anak-anak untuk kepentingan pribadi yang jelas merugikan. Banyak kasus yang melibatkan anak-anak sering menjadi perhatian dunia.

Pertama, data dari UNICEF melaporkan bahwa 700 juta perempuan di dunia menikah ketika masih anak-anak. Kedua, pesatnya peningkatan perokok pemula usia di bawah 15 tahun, yaitu dari 8,9% pada 1995 menjadi 28,97% pada 2016 dan 5,9 juta anak di antaranya menjadi pecandu narkoba. Ketiga, sebanyak 27,5% anak Indonesia menderita stunting (Depkes, 2017). Terakhir, maraknya kekerasan yang dialami oleh anak-anak, khususnya kekerasan seksual. Berdasarkan data KPAI, pada 2017 saja terdapat 393 anak korban kekerasan seksual dan 66 anak sebagai pelakunya.

Pola Pengasuhan

Lewat perayaan HAN tahun ini semoga harapan kita bersama mewujudkan kepedulian semua pihak untuk menciptakan lingkungan yang berkualitas dan peningkatan pola pengasuhan anak dapat terlaksana. Kiranya tak berlebihan jika kualitas pendidikan atau tingkat literasi menjadi jawaban dari harapan besar di atas. Tidak hanya pendidikan anak, namun juga bagaimana orangtua turut belajar tanpa henti dalam memformulasi pengasuhan yang tepat bagi sang buah hati.

Misal yang sederhana saja, membiasakan anak untuk membaca. Hanya dengan menyuruh, anak tidak akan serta merta suka membaca. Sebab anak adalah peniru yang ulung, maka teladan adalah pencontohan yang baik. Contohnya saja Najwa Shihab yang didaulat sebagai Duta Baca, ia mengaku telah mencintai buku bahkan sejak belum bisa membaca, karena sejak kecil ibunya biasa membacakan dongeng sebelum tidur dan setiap seminggu sekali sang ayah rutin mengajaknya ke toko buku.

Dalam pola pengasuhan teladan inilah anak akan menyemai bibit pembiasaan baik. Dunia anak adalah dunia di mana imajinasi bergerak bebas sehingga banyak pertanyaan nyeleneh kerap muncul, namun tanpa disadari sebagai orangtua kadang malah memarahi atau menyuruh anaknya diam saat melontarkan pertanyaan aneh.

Sosok Atticus dalam novel To Kill A Mockingbird karangan Harper Lee menjadi relevan dalam menghadapi dua anaknya, Jem dan Scout. Bahwa setiap jawaban orangtua terhadap pertanyaan anak akan menjadi bahan penyusun daya nalarnya. Maka memberikan jawaban jujur dengan bahasa yang mudah dimengerti dan sebisa mungkin menghindari frasa kalimat negatif akan membantu anak menyusun kerangka berpikir yang baik.

Di sinilah pentingnya proses dialektis anak dan orangtua, sebagaimana pernah Sokrates tunjukkan bahwa metode dialektika sebenarnya menuntun jawaban-jawaban terbaik atas pertanyaan moral tentang cita-cita yang diajarkan oleh pemuka agama, cita-cita yang melekat pada ketuhanan, cinta pada umat manusia, hormat terhadap kebenaran, dan segala nilai kebajikan yang menuntun pada moralitas tertinggi, yaitu kebaikan dan keadilan.

Liseh guru di MA Nurul Qarnain Jember, alumnus Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed