Lobi Pengusaha di Belakang Layar Pilpres

Pustaka

Lobi Pengusaha di Belakang Layar Pilpres

Muhamad Ilyasa - detikNews
Minggu, 21 Jul 2019 12:30 WIB
Jakarta -

Judul Buku: Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden; Penulis : Robert Adhi Ksp; Penerbit : Kompas, Jakarta, 2018; Tebal : xiv + 306 halaman

Isu tentang orang-orang berpengaruh yang berada di balik pencalonan seseorang menjadi presiden dan wakil presiden selalu berembus setiap pemilu berlangsung. Namun, isu itu juga selalu menguap dan hilang tanpa kejelasan begitu pilpres berakhir.

Dalam buku ini Sofjan Wanandi, pengusaha ternama di negeri ini, mengakui dengan terus-terang keterlibatannya dalam penentuan capres-cawapres di Indonesia. Keterlibatannya, menurutnya, semata didasari kecintaannya pada Indonesia.

Keterlibatan Sofjan dalam dunia politik bukanlah hal baru. Dimulai pada masa Orde Lama ketika ia aktif sebagai Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Jakarta yang kontra Sukarno dan menuntut turunnya sang presiden. Kala itu Sofjan pun menjadi buruan intel dan sempat dipenjarakan akibat kiprahnya tersebut.

Setelah Orde Lama tumbang dan Orde Baru berkuasa, Sofjan masuk ke struktur kekuasaan. Ia bergabung dengan Golkar dan menjadi anggota DPR pada 1966. Berada dalam struktur kekuasaan membuat Sofjan dekat dengan Soedjono Hoemardani, Asisten Pribadi Presiden Soeharto; dan Ali Moertopo, tokoh intelijen --mereka orang-orang di lingkaran-dalam kekuasaan Soeharto yang sangat powerful kala itu. Sofjan juga aktif di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), think tank Orba yang didirikan abangnya, Jusuf Wanandi, yang saat itu menjadi lembaga pemikiran paling berpengaruh di Indonesia.

Dunia politik tak membuat Sofjan yang lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat pada 3 Maret 1941 ini lupa dengan cita-citanya menjadi pengusaha. Bermodal kedekatannya dengan penguasa, Sofjan kemudian menjadi pimpinan beberapa perusahaan di bawah Yayasan Kostrad pada 1974. Berbekal pengalaman ini Sofjan lalu merintis bisnis lewat PT Pakarti Yoga. Perusahaan ini kemudian berkembang menjadi Gemala Group yang membawahkan beberapa perusahaan besar, di antaranya asuransi Wahana Tata, aki Yuasa, dan perusahaan farmasi.

Ketika tak lagi berada dalam struktur politik, hasrat politik Sofjan tak pernah padam. Ia kemudian bermain pada level high politics di antaranya dengan berada di belakang pencalonan capres-cawapres. Saat pencalonan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla pada Pilpres 2004, Sofjan berada di balik pasangan ini. Bermula pada 2003 ketika Sofjan selaku Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menjadi pembicara dalam Musyawarah Nasional Himpunan Kawasan Industri (HKI) di Bali. SBY yang kala itu Menko Polkam menjadi pembicara lain. Pada forum itu Sofjan bertanya pada peserta, "Saudara-Saudara, bagaimana kalau SBY kita jadikan presiden?" Peserta pun menjawab, "Setujuuu!"

Ternyata SBY merespons positif. SBY menulis pada secarik kertas, "Saudara Sofjan, Anda mengusulkan saya menjadi presiden, apakah Anda serius? Bukankah saya tidak punya apa-apa?" Sofjan menjawab pada secarik kertas pula, "Saya serius, tapi dengan syarat wakil presiden harus dari kalangan pengusaha. Kalau Bapak mau menggandeng pengusaha, saya akan galang dana dari para pengusaha untuk mendukung Bapak." (hlm. 174).

Sofjan kemudian mengajukan dua pengusaha, Aburizal Bakrie dan Jusuf Kalla, sebagai cawapres. Namun, Aburizal menolak; ia ingin menjadi capres, dengan alasan Partai Golkar yang dipimpinnya lebih besar daripada Partai Demokrat, partai yang diketuai SBY. Maka, pilihan pun jatuh ke JK. Dan pasangan SBY-JK memenangi Pilpres 2004.

Sebelum duet SBY-JK terbentuk, awalnya JK ingin berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri. Mega sebagai capres, JK wapresnya. Keinginan berpasangan dengan Mega karena JK menilai SBY tidak tegas dalam mengambil keputusan. Namun, duet Mega-JK gagal karena perbedaan kultur. Sebagai orang Jawa, Mega ingin JK yang meminangnya. Sebaliknya, JK ingin Mega yang memintanya karena posisi JK sebagai cawapres.

Duet capres-cawapres Joko Widodo dan Jusuf Kalla pada 2014 juga tak lepas dari campur tangan Sofjan. Sofjan mengusulkan agar PDIP mencalonkan Jokowi sebagai capres dengan syarat cawapresnya JK. Duet Jokowi-JK pun terbentuk dan terpilih sebagai presiden dan wapres pada 2014. Dalam beberapa kali pertemuan dengan Jokowi, Sofjan mengusulkan agar Jokowi memilih JK. Menurut Sofjan, JK merupakan pilihan tepat karena ia mewakili Islam dan luar Jawa (hlm. 195).

Berlawanan dengan itu semua, pada era Presiden Habibie (1998-1999), Sofjan justru menentang Habibie yang naik menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri. Alasan Sofjan karena yang dekat dengan Habibie hanya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan pihak luar negeri yang suka cuma Jerman. Proyek-proyek Habibie selalu merugi.

Pada Pilpres 2019 berbagai media memberitakan dukungan Sofjan pada pasangan Jokowi-Maruf Amin. Apakah ada lobi di belakangnya? Bisa jadi, kendati buku ini belum sampai membahas pasangan tersebut.

Buku karya jurnalis senior ini membuka wawasan tentang adanya tangan-tangan yang bermain di luar struktur politik formal dalam peristiwa-peristiwa politik penting di Indonesia. My love for my country, itulah alasan Sofjan di balik lobi-lobi politiknya selama ini. Namun, melihat latar belakang Sofjan yang pengusaha, tentu pembaca boleh menafsirkan adanya motif dan kepentingan lain di balik lobi-lobi itu.

Muhamad Ilyasa penulis dan pekerja pustaka, tinggal di Depok dan Bogor

(mmu/mmu)