detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 14 Juli 2019, 11:10 WIB

Kolom

Setelah Jokowi dan Prabowo Bertemu

Ach Taufiqil Aziz - detikNews
Setelah Jokowi dan Prabowo Bertemu
FOKUS BERITA: Jokowi-Prabowo Bertemu
Jakarta -

Setelah Jokowi dan Prabowo bertemu, ada harapan agar saling caci maki di media sosial bisa dapat diminimalisir atau bahkan berhenti. Dalam pidato singkatnya, Prabowo menyatakan bahwa cebong dan kampret sudah usai.

Namun, ternyata pasca pertemuan yang paling ditunggu itu, ruang media sosial kita masih ramai dengan caci maki dengan menggunakan hashtag yang cenderung provokatif. Polusi media sosial juga bisa dilihat dan dirasakan. Objek serangannya kini telah berubah. Muncul tagar "pengkhianat" yang bertahan beberapa jam di Twitter.

Tampak di beberapa pemberitaan, tagar tersebut dibarengi dengan link berita perihal sikap PA 212 yang selama ini menjadi barisan militan dari Prabowo tiba-tiba juga menyatakan keluar dari dukungan sejak Prabowo bertemu Jokowi.

Kecurigaan publik semakin kuat. Bahwa memang ada oknum yang menunggangi Prabowo untuk membuat kegaduhan. Yang ditabuh pertama kali adalah media sosial. Yang penting bunyi dulu. Berharap lawan panik balik menyerang dan kegaduhan itu kian ramai dan menyesakkan ruang sosial kita.

Dengan menggunakan nalar yang sangat sederhana, bahwa jika pendukung Prabowo ini memang benar-benar militan, maka apapun yang dipilih dan dijalankan oleh Prabowo pasti diikuti dan didukung. Namun, ternyata sebagian pendukung Prabowo malah menyerukan ke ruang publik agar menolak rekonsiliasi. Akhirnya publik menjadi sadar, sebenarnya Prabowo telah menerima hasil pemilu, pembisiknya saja yang hingga kini belum menerima.

Publik seakan disadarkan bahwa Jokowi dan Prabowo bukanlah musuh abadi. Tetapi orang-orang yang ada di baliknya yang menggunakan Prabowo untuk melawan Jokowi. Dengan kata lain, orang-orang itulah yang memusuhi Jokowi sebenarnya.

Orang-orang ini berbuat gaduh dulu, urusan lain diselesaikan kemudian. Publik bisa menebak tentang orang-orang yang memang berbuat gaduh. Sehingga menjadi jelasnya musuh bersama dalam ruang publik adalah mereka yang membuat gaduh dari media sosial.

Ketika Prabowo menyampaikan bahwa tak perlu ada cebong dan kampret, ternyata di media sosial masih muncul perseteruan dengan kebanggaan sebagai kampret dan juga mencari cara memusuhi dan mencaci-caci cebong.

Parahnya adalah polusi di media sosial banyak yang berlanjut ke dalam dunia nyata. Ada sebagian dari kita yang mungkin punya alibi bahwa yang heboh hanya di media sosial, tidak memiliki pengaruh terhadap lingkungan sosial. Tunggu dulu. Sekali-kali jangan remehkan media sosial yang berkembang dengan dahsyat dengan macam-macam propagandanya.

Bagi yang punya pengalaman dan punya referensi pembanding, mungkin akan bisa mencerna dan membedakan antara yang hoax dan yang bukan. Namun bila sama sekali tidak mempunyai referensi pembanding dan tergolong baru dalam memiliki perangkat elektronik, maka yang tersiar di media sosial dianggap sebagai suatu kebenaran.

Kiai-kiai saya yang ada di kampung, para tetangga yang baru beli handphone, selalu merasa yakin atas informasi yang beredar di media sosial. Hoax PKI, azan dilarang, dan beberapa hoax lainnya ternyata dipercaya jika kita mau saja sedikit mendengar obrolan di warung warung kopi, pos kamling, atau bahkan di pojok-pojok pedesaan. Bahkan di Madura terjadi pembunuhan karena dilatari oleh media sosial.

Setelah Jokowi dan Prabowo bertemu, maka agenda selanjutnya oleh kita semua berupaya membersihkan polusi media sosial yang sudah buruk untuk kita hirup sehari-hari. Jokowi dan Prabowo bukanlah akar dari penyelesaian masalah.

Orang-orang yang membuat polusi sosial yang meracuni alam pikir kita adalah musuh bersama. Tragisnya polusi media sosial itu dibungkus dengan isu agama sebagai pembenar dari apa yang telah dilakukan. Maka akan sulit menghadapi gerombolan orang yang merasa bahwa kebohongan dianggap sebagai strategi dan menyebarkannya sebagai cara mendapatkan imbalan surga.

Setelah Jokowi dan Prabowo sama sama berusaha mengubur cebong dan kampret, sudah saatnya kita mengubur kebencian hanya karena pemilu.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
FOKUS BERITA: Jokowi-Prabowo Bertemu
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed