detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 14 Juli 2019, 10:30 WIB

Kolom

Jokowi, Shenzhen, dan Ikan Asin

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Jokowi, Shenzhen, dan Ikan Asin Presiden Jokowi di Labuan Bajo (Foto: Agus Suparto)
Jakarta - Jokowi-Maruf tinggal menunggu pelantikan, tetapi PR yang harus mereka kerjakan banyak sekali. Rendahnya harga ayam potong di tingkat peternak, garam yang tidak lagi terasa asin karena harganya yang terjun bebas, dan melambungnya harga cabe hanya secuil mozaik dari jendela kaca raksasa Indonesia.

Di balik kaca buram itu ada pemandangan yang jauh lebih miris lagi yang betul-betul membutuhkan revolusi mental yang bisa saja terpental jika implementasinya terlalu kental. Agar bisa dicerna, diserap, dan menjadi darah daging kebudayaan bangsa yang adiluhung, revolusi mental yang selama ini bergaung harus benar-benar mendapat panggung.

Asli dan KW

Saat jalan-jalan di Shenzhen bersama istri dan anak-anak, seorang pedagang kaki lima mendekati saya dan menawarkan Ipad.

"Asli?" tanya saya.

Pedagang itu terus ngoceh tanpa menghiraukan pertanyaan saya.

"Asli?" tanya saya yang kedua.

PKL yang pantang menyerah itu mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan gadget lainnya.

"Asli?" tanya saya yang ketiga. Kali ini dengan suara agak tinggi.

"Asli..." jawabnya. "Asli Shenzhen," lanjutnya dengan senyum dikulum.

Saya ikut tertawa sambil berlalu. Bukan karena tidak mau membeli barang KW yang murah, melainkan saya sudah punya Ipad asli yang masih bisa dipakai.

Meskipun ada saja pedagang nakal yang menjual barang KW semacam itu, Shenzhen mengalami lonjakan yang signifikan. Wilayah pedesaan yang pada 1970-an hanya berpenduduk sekitar 30 ribu orang, wilayah ekonomi baru China ini bak sulapan telah menjadi kota megapolitan dengan hutan pencakar langitnya. Bandaranya pun begitu modern mengalahkan bandara-bandara di AS yang tampak "kumuh" karena hampir tidak tersentuh renovasi.

"Wah, Tiongkok bisa seperti ini ya?" ujar anak saya.

Paradigma lama memang masih menggayut dan jadi kabut yang menghalangi mata kita dari Tiongkok yang begitu cepat bertumbuh. Sahabat saya --doktor di bidang komputer dari ITB-- ingin menyekolahkan anaknya di negeri itu, namun anaknya --yang masih saja berkiblat ke Barat-- menolak mentah-mentah. Sahabat lama saya ini tidak mau menyerah. Dia bawa anaknya mengunjungi kota-kota di Tiongkok, terutama kota industri.

Mata anaknya membelalak saat menyaksikan pertumbuhan manufaktur yang begitu dahsyat. Matanya semakin membesar saat melihat seorang bos bermata sipit dan berpakaian sederhana dikelilingi eksekutif muda berjas lengkap berkulit putih. Ekspatriat dari negara-negara Amerika dan Eropa memang membanjiri Tiongkok. Di mana ada uang, tenaga kerja terdidik pasti mengalir ke sana. Gula China mampu menyedot semut dunia.

Motor China

Masih ingat Jialing? Motor bebek dari Tiongkok ini pernah berjaya di Indonesia. Secara perlahan tapi pasti, pemasarannya seret dan akhirnya mandek. Apa kesan yang melekat di benak kita? Motor buatan China jelek. Kok bisa?

"Kalian meminta motor berkualitas, tetapi meminta harga sepertiga, bahkan seperempat motor buatan Jepang," ujar seorang pemilik pabrik otomotif dari Tiongkok. "Mana bisa?"

"Jika kalian memberi harga 80% saja dari harga motor Jepang, kami bisa membuatnya sama bagus atau bahkan lebih bagus," tambahnya.

Tidak perlu menunggu waktu lama untuk membuktikan ucapannya. Kini Wuling mulai keliling Indonesia. Seorang putri sahabat saya bahkan meminta papanya membelikan Wuling, meskipun sudah punya Kijang. Bahkan kini dia membeli Wuling yang kedua. "Luas, enak, nyaman, dan canggih," begitu alasannya. Alasan yang lebih mendasar, nilai uang yang kita keluarkan ditukar dengan mobil yang teknologinya di atas mobil lain dengan harga yang lebih tinggi.

Saya bukan, endorser dan influencer, apalagi bagian dari Wuling maupun Jialing. Saya hanya hendak mengatakan bahwa produk China saat ini tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.

Apple dan Huawei

"Tidak ganti Iphone-mu dengan Huawei?" ujar seorang sahabat suatu pagi.

"Belum," jawab saya singkat.

"Mengapa?"

"Saya tidak gampang berpindah gadget karena malas belajar," jawab saya yang dibalas tawa ngakak. Dulu saat ganti dari Samsung ke Apple pun, otak saya --terutama jari saya-- masih tergagap-gagap. Setelah lancar, kok rasanya malas keluar dari zona nyaman saya. Yang lebih mendasar lagi, saya tidak punya dana ekstra untuk coba-coba.
Meskipun begitu gaung Huawei memang begitu keras memasuki gendang telinga saya.

Waktu mengajak istri dan anak untuk menikmati Vivid Sydney beberapa tahun silam, saya sudah merasa bahwa perusahaan teknologi tinggi asal Tiongkok itu bakal menggurita dan meraksasa. Mengapa? Karena sponsor utama acara bertajuk "menghangatkan warga Sydney di musim dingin" ini adalah raksasa teknologi asal Tiongkok itu. Jika dia berani mensponsori acara besar dan menjadi agenda tahunan ibu kota New South Wales itu, pasti dananya berlimpah. Jika anggaran promosi saja sebesar itu, berarti mereka punya produk bagus yang bisa dilempar ke pasar global.

Buktinya kasat mata. Presiden berambut jagung pun merasa langkah kaki Huawei ini bisa membuat Apple tersandung. Dengan alasan keamanan nasional, Trump berusaha menjegal setiap langkah Huawei di tingkat global. Ia mengajak sekutunya --negara-negara Eropa-- untuk berjalan bersamanya membendung gadget yang berkamera sekelas Leica itu.

Semua itu bermula dari Shenzhen yang digagas "si kerdil" Deng Xiaoping yang menjadikannya zona ekonomi khusus. Lewat tangan dinginnya, dusun itu telah berubah menjadi rimba high tech seperti Silicon Valley-nya AS.

Suatu kali Mao Zedong mendapat tamu negara dari Amerika. Saat melihat Deng, presiden negara adikuasa itu berbisik sinis, "Siapa orang kecil yang mendampingimu terus-menerus itu?"

Dengan senyum bijak Bapak Bangsa China itu menjawab, "Jika kami punya 10 orang saja seperti dia, Tiongkok akan menguasai dunia."

Ucapan tokoh komunis internasional itu terbukti. Berkat tangan dingin "satu" Deng saja, dunia melihat kebangkitan China. Lambang Huawei yang seperti apel dicacah membuat Trump marah.

Jokowi dan Revolusi Mental

Janji saat kampanye Jokowi yang senantiasa diingat dan terus melekat di benak kita adalah revolusi mental. Apakah implementasinya berjalan baik? Tidak! Eh, belum! Apakah itu semua salah Jokowi? Jika ya, dia tidak akan memenangkan pilpres periode kedua.

Jika budaya antre dan buang sampah sembarangan saja masih sulit dijalankan, bagaimana menanamkan benih mental spiritual yang baik lainnya? Dibutuhkan waktu beberapa generasi untuk mewujudkannya. Jika tidak dimulai sekarang, kapan lagi?

Saat berada di Tokyo, seorang dengan bangga berkata bahwa di Jepang jalanan begitu bersih karena tempat sampah dengan bermacam kategori --kering, basah, dan sebagainya-- tersedia di mana-mana.

"You pernah ke Indonesia?" tanya saya, yang dijawab dengan gelengan kepala. "Di negaraku, tempat sampah ada di sepanjang jalan," lanjut saya yang ditanggapi dengan pandangan mata antara heran dan kagum. Tanggapan saya? Tertawa ngakak. Bukankah sebagian orang Indonesia dengan begitu mudahnya membuka kaca mobil dan melemparkan sampah ke jalanan?

Sashimi dan Ikan Asin

Apa makanan paling digemari di Jepang? Selain sushi, sashimi menduduki tempat terhormat. Saya pun menggemarinya. Saat berada di Vancouver, Kanada saya suka sekali mengunjungi sushi bar atau resto yang menjual sashimi. Apa kelebihan sashimi di Jepang dan Kanada? Potongannya lebih besar dan ikannya lebih fresh.

Di saat media massa di Indonesia ramai memberitakan siapa saja yang akan menduduki posisi menteri Jokowi, kata "milenial" melambung tinggi. Jokowi sendiri mengatakan bahwa dia akan mengangkat menteri dari kalangan muda. Namanya muda, yang empat puluh tahun ke bawah. Masak menteri pemuda dan olahraga dipegang oleh seorang yang rambutnya mulai memutih?

Maknanya jelas sekali. Indonesia butuh kesegaran baru. Namun, yang kontradiktif, saat parpol menyodorkan kader partai mereka yang masih kinyis-kinyis, kabar busuk justru menguar dari vlog yang bisa saja sekadar clickbait. Agar mendulang pemirsa, ada saja orang yang menternak akunnya dengan mengumbar mulut sampah. Jika Lambe Turah menggaungkan "gosip adalah fakta yang tertunda", mulut sampah malah menyamakan bagian paling intim seorang wanita dengan ikan asin.

Jika Amrik dan China lagi gencar-gencarnya melakukan perang dagang gara-gara perebutan penguasaan teknologi 5G dan pemasaran global, mengapa kita masih berkutat dengan "video trio ikan asin" yang bisa mengakibatkan tekanan darah tinggi?

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa



Simak Video "Kemenko PMK Pamer Keberhasilan Revolusi Mental Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed