detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 13 Juli 2019, 13:00 WIB

"Common Sense" Ishadi SK

Muatan Lokal

Ishadi SK - detikNews
Muatan Lokal Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Saya tidak pernah berhenti mengagumi bahwa ada sebuah radio non RRI di Solo yang mengambil segmennya secara khusus "muatan lokal", dalam hal ini Jawa, yang tetap bertahan hingga kini. Radio Irama Adi Nanda (RIA) merupakan sebuah radio yang dengan tepat memilih sasaran pendengar secara khusus budaya daerah (etnic culture).

Sadar bahwa Solo merupakan pusat budaya yang sangat kuat, pemilik radio tersebut Hj. Maria Adhi, sejak akhir 1998 mereposisi radionya untuk "female Jawa". Sejak saat itu semua program dikemas dalam nuansa lokal, mulai dari berita yang dibawakan dalam bahasa Jawa, laporan daerah, lagu-lagu gending maupun pop Jawa hingga drama tradisional.

Lebih jauh dari itu RIA FM juga membuat berbagai program off-air yang berkait dengan kebudayaan lokal seperti lomba menulis huruf Jawa untuk anak-anak, lomba menyanyikan lagu gending, tarian dan sebagainya.

Di Payakumubh, Sumatera, Harau FM mengangkat kesenian Saluang, awalnya sekali sebulan off-air, enam bulan kemudian menjadi 4 kali sebulan dan sekarang hampir setiap hari. Radio Cindelaras di Cirebon mempunyai koleksi tarling terbanyak di Indonesia, demikian juga beberapa radio lokal di Ujung Pandang dan Banjarmasin.

Tidak hanya saya yang tertarik melihat kejelian RIA FM yang mengangkat muatan lokal, namun peserta dari berbagai negara yang hadir di Solo untuk mengadakan pertemuan regional mengangkat muatan lokal (traditional culture) di dalam programa radio. Kekuatan radio memang merupakan media yang sangat segmented, akrab dengan pendengar-pendengarnya.

Julian Hale dalam bukunya Radio Power (1975) menggambarkan kekuatan radio sebagai alat propaganda yang menembus batas negara dan wilayah, tapi hal itu terjadi pada era Perang Dunia II dan sebelum era Trans National Televisi. Ketika televisi berkembang pada 1970-an, radio terdesak dan kembali ke alamnya sebagai sarana komunikasi lokal. Ia kemudian menjadi sangat intim dengan pendengarnya, karena itu pendekatan lokal menjadi sangat tepat.

Ada satu masa memang, ketika radio non RRI mencoba untuk mengikuti model radio multinasional yang dikenal sebagai radio yang mengetengahkan American Top 40. Tapi itu hanya bertahan sebentar khususnya di daerah perkotaan. Secara perlahan berkembang radio-radio yang diinspirasi oleh muatan lokal. Beberapa radio yang sudah melakukan hal ini antara lain: Yudha di Bali, Radio Harau Megantara di Payakumbuh, Radio Cindelaras di Cirebon, dan di Jakarta Bens Radio yang membawakan acara-acara khas Betawi.

Perkembangan radio-radio seperti ini ternyata perlahan-lahan diminati oleh pendengar karena mereka dengan kreatif sekali mencoba mengangkat nuansa lokal mulai dari bahasa, musik, kesenian, dan adat istiadat.

Para peserta pertemuan regional Asia Pasifik untuk program budaya tradisional di radio yang mengadakan pertemuan di Solo sepakat bahwa kesenian tradisional khususnya etnik mempunyai tempat di radio-radio khususnya radio-radio daerah. Pada awalnya hal ini hanyalah eksperimental, tapi makin lama menjadi acara tetap yang frekuensinya makin lama semakin bertambah. Berbeda dengan musik pop, rock, dan musik-musik Barat yang telah didukung oleh industri rekaman yang sangat kuat.

Muatan lokal masih sangat lemah di dalam marketing dan network. Karena itu perlu dilakukan workshop dan pertemuan intensif antara para musikolog, seniman-seniman musik tradisional dengan para broadcaster. Inilah yang dilakukan oleh sekelompok musisi dan radio serta Ford Foundation yang mencoba untuk mengangkat musik tradisional di radio-radio di Indonesia.

Benar seperti yang diramalkan oleh Fred Wibowo sepuluh tahun lalu, "akan terjadi lagi kebangkitan musik daerah di radio-radio sebagai reaksi dari gencarnya berbagai musik pop dan rock barat yang melanda berbagai stasiun radio di Indonesia." Akan ada kerinduan yang makin lama makin besar akan lagu-lagu etnik dan lagu daerah.

Ada satu masa ketika RRI dengan berbagai programnya didukung oleh perusahaan rekaman Lokananta pernah mengangkat musik daerah dan budaya daerah dengan sangat tinggi. Apa yang dilakukan oleh radio-radio swasta saat ini dengan berbagai cara dan upayanya di berbagai daerah mudah-mudahan bisa membawa lagi muatan lokal tersebut sejajar dengan berbagai acara yang sekarang sangat popular di radio. Sekali di udara tetap di udara.

Ishadi SK Komisaris Transmedia



Simak Video "Sandiwara Radio Gaya Milenial Siap Hadir di Aplikasi Musik"
[Gambas:Video 20detik]

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed