detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 01 Juli 2019, 16:18 WIB

Kolom

Gaji ke-13 dan Problem Otentikasi Pensiunan PNS

Sri Kuswayati - detikNews
Gaji ke-13 dan Problem Otentikasi Pensiunan PNS Foto: 9to5Google
Jakarta -

Hari ini adalah hari yang ditunggu para pensiunan PNS, pasalnya gaji ketiga belas sudah bisa mereka ambil. Tinggal menghubungi bank terdekat yang ditunjuk pemerintah.

Proses pengambilan gaji bagi pensiunan menjadi cerita tersendiri, khususnya bagi para pensiunan serta anggota keluarga yang mendampingi proses pencairannya. Proses antre yang panjang menjadikan hari pencairan gaji pensiunan menjadi waktu yang menyenangkan sekaligus melelahkan.

Bagi para pensiunan yang telah memasuki usia tua dan mulai sakit-sakitan, pencairan uang pensiun dapat diwakili oleh pasangan hidup atau ahli waris. Biasanya pihak yang mewakili harus mengurus surat pengantar yang menyatakan bahwa yang bersangkutan masih hidup dan berhak mencairkan dananya.

Surat pernyataan diperlukan agar tidak terjadi pencairan dana pensiunan oleh oknum yang tidak berhak menerimanya, alias terdapat unsur penipuan. Terdapat kasus di mana pensiunan sudah wafat tetapi ahli waris masih mengambil dana pensiun yang bukan haknya.

Selain dengan membawa surat pengantar, pengambilan dana dapat dilakukan melalui ATM. Tentu saja proses ini memudahkan pihak pensiunan karena tidak perlu repot datang mengantre ke bank. Proses pengambilan dapat diwakili olah anggota keluarga yang ditunjuk. Guna meminimalisasi unsur penipuan oleh oknum, maka hak untuk mengambil uang pensiunan via ATM tidak dapat dilakukan setiap bulan, tetapi secara berselang-seling. Jika bulan ini pensiunan mengambil gaji melalui ATM, maka bulan depannya pensiunan wajib mengambil uang ke bank secara langsung.

Saat ini tersedia aplikasi otentikasi pensiunan yang dapat dipasang di smartphone. Aplikasi ini ditujukan untuk proses verifikasi dan validasi data, sehingga benar adanya bahwa pensiun yang bersangkutan masih hidup. Proses tersebut dikenal dengan istilah "matching" dalam dunia IT. Matching atau pencocokan data dilakukan terhadap data yang direkam secara live dengan data pensiunan yang sudah terdapat dalam database.

Sejumlah Masalah

Keberadaan aplikasi otentikasi pensiunan yang dapat diinstal di smartphone tentu menggembirakan. Pasalnya, para pensiunan yang memasuki usia lanjut dan mulai sakit-sakitan bisa melakukan proses verifikasi dan validasi data melalui aplikasi tersebut.

Tentu saja aplikasi otentikasi yang bersifat mutakhir alias kekinian tersebut dalam proses instalasi dan penggunaannya di smartphone harus didampingi oleh generasi melek IT. Proses matching sudah menjadi bagian dari aktivitas harian pengguna smartphone. Contoh matching adalah saat mereka melakukan input password atau rekam wajah untuk keamanan penggunaan smartphone. Hal tersebut menjadikan proses instalasi dan pemakaian aplikasi otentikasi dirasakan mudah oleh mereka yang terbiasa beraktivitas bersama smartphone.

Aplikasi ini tidak dapat diinstal pada handphone dengan memori terbatas, serta harus terkoneksi internet. Dengan kata lain, aplikasi ini hanya bisa dimiliki oleh para pensiun yang diri atau anggota keluarganya memiliki smartphone dengan memori mencukupi serta terdapat koneksi internet yang stabil.

Penggunaan aplikasi ini juga tidak dapat dilakukan oleh pensiun yang sudah mulai pikun. Mengapa? Proses verifikasi dan validasi data dilakukan secara live. Para pensiunan diminta mencocokkan sidik jari, suara, gambar diri disertai proses angguk, geleng kepala, dan kedip mata. Proses yang membutuhkan kesabaran, karena tak jarang otentikasi mengalami kegagalan karena data yang di-input-kan tidak matching dengan data yang disimpan dalam database. Otomatis gugurlah hak untuk mengambil dana via ATM. Pensiunan akhirnya harus datang secara langsung ke bank untuk mencairkan dana.

Untuk Siapa?

Perlu kiranya dilakukan evaluasi kebermanfaatan aplikasi otentikasi pensiunan. Hal tersebut didasari kenyataan bahwa tidak semua pensiunan memiliki smartphone dan koneksi internet yang stabil.

Selain dari itu, proses matching atau pencocokan data seringkali gagal. Saat keluhan ini saya sampaikan pada pihak bank, petugas hanya menjawab, "Kalau tidak berhasil, berarti pensiunan harus datang langsung ke bank." Sebuah pernyataan yang benar adanya, tetapi mengundang tanda tanya: untuk siapa sebenarnya aplikasi tersebut dibuat? Untuk kemudahan pihak bank khususnya taspen, atau untuk pensiunan sendiri?

Bagaimana jika pensiunan tinggal di pedesaan, hidup dalam kondisi pas-pasan? Di mana untuk makan saja sulit, apalagi untuk membeli smartphone dan mengisi kuota internet. Jika jawaban untuk masalah ini adalah kembali mengantre ke bank --sebagaimana dilansir media bahwa bagi penerima pensiun yang sudah melakukan perekaman data biometrik (enrollment), namun mengalami permasalahan atau gagal dalam otentikasi by smartphone tetap bisa mengambil uang pensiun dengan melakukan otentikasi by desktop (manual) ke mitra bayar masing-masing seperti biasanya-- tentu kebermanfaatan aplikasi otentikasi yang hanya bisa digunakan oleh segelintir pensiunan perlu dipertanyakan.

Sri Kuswayati, M.Kom dosen Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Bandung


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com