Jeda

"People Power" yang Sesungguhnya

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 30 Jun 2019 14:30 WIB
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Seorang lelaki remaja belia berwajah ala Korea mendekat ke kamera. Dalam video yang kemudian viral itu, kita menyaksikan sang bocah bicara dalam bahasa Jawa. "Ketoke aku arep mulai saiki." Sebuah pesan agar penonton bersiap-siap, karena dia akan segera memulai aksinya. Lalu, terdengar suara gamelan, dan sang bocah pun menari.

Ia menari di tengah jalan raya yang lapang tanpa kostum layaknya seorang penari tradisional pada umumnya. Dengan kaos oblong warna pink, celana jeans hitam, topi Nike, dan sepatu Adidas ia tampak sangat lincah dan riang, bergerak ke sana ke mari seolah sedang menggelar sebuah pertunjukan di atas panggung.

Lalu, kamera menyorot sekelilingnya dan kita pun tahu, bocah itu ternyata menari di Jalan Malioboro Yogyakarta, di depan deretan toko-toko yang ramai. Orang-orang yang melintas dan berlalu lalang pun kemudian mengerumuni sang penari cilik itu, memotret, merekam dengan kamera HP. Terlihat wajah-wajah kagum, yang di antaranya kita menangkap sosok Sri Sultan Hamengku Buwono X di antara para penonton. Makin lama kerumunan semakin ramai.

Beberapa lelaki muda bertas ransel di punggungnya satu per satu melompat ke tengah "panggung", bergabung dengan bocah tadi, dan ikut menari. Seorang perempuan berjilbab menyeruak kerumunan penonton, dan kemudian juga ikut menari bersama mereka. Perempuan lain yang semula hanya duduk menonton, setelah beberapa saat mempelajari dan menirukan gerakan tangan para penari, akhirnya tak tahan juga, bangkit, meletakkan tasnya dan bergabung.

Para penari semakin meluas sampai ke emperen toko. Agak jauh di belakang kerumunan penonton, di atas sebuah bangku di trotoar, seorang perempuan berjilbab juga tak mau tinggal diam, ikut menari. Ketika kamera menyorot dari kejauhan, tampak sebuah gedung tua menjadi background bagi pertunjukan di jalanan itu. Gamelan makin bertalu-talu. Langit yang sebelumnya cerah kini tampak mulai meremang. Matahari hampir tenggelam, dan mereka menuntaskan tariannya dalam puncak irama gamelan yang rancak.

Banyak orang mengaku "merinding" menyaksikan video flash mob "beksan wanaran" (tarian kera) yang viral di media sosial itu. Bagi yang sudah menontonnya bisa merasakan, seperti ada daya magis yang membangkitkan jiwa, memicu perasaan haru, dan menumbuhkan semacam gairah. Seperti tampak pada video itu, di mana orang-orang yang semula hanya lewat atau diam menonton, kemudian tergerak untuk ikut bergabung menari.

Hadirnya sebuah pertunjukan di tengah kota yang sibuk seolah menjadi kekuatan yang menggerakkan daya hidup bagi warganya. Warga kota yang sehari-hari menjalani rutinitas kerja, baik di sektor formal sebagai pegawai kantoran maupun sektor-sektor informal seperti berjualan, seolah menemukan oase, tempat untuk sejenak melepas lelah dan dahaga dari berbagai ketegangan, kebosanan, dan perasaan-perasaan lain yang menekan, membuat kemrusung, dan pada akhirnya menimbulkan rasa "asing" pada dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya --merasa sepi dan hampa.

Flash mob tari seperti yang terjadi di tengah keriuhan pusat industri wisata di Yogyakarta itu hanyalah satu contoh dari bangkitnya kesadaran masyarakat untuk merebut kembali "kewarganegaraan" sebagai bagian dari penghuni kota dan negara, yang selama ini barangkali semakin terasa sumpek, terdesak, dan terpinggirkan dalam kehidupan sosial dan hiruk-pikuk politik nasional.

Flash mob "beksan wanaran" itu sendiri merupakan bagian dari acara untuk menyemarakkan uji coba pedestrian Malioboro, digagas oleh Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro (menantu Sri Sultan), dilakukan oleh para penari Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa Keraton Yogyakarta dan melibatkan para penari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sekaligus dalam rangka menyambut hajatan tahunan Catur Sagatra yang akan digelar pada 13 Juli nanti di Pagelaran Keraton Yogyakarta.

Pada puncak acara tersebut, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan mementaskan wayang wong dengan lakon Subali Lena, yang terbuka untuk umum dan gratis tanpa tiket masuk. Persembahan dengan semangat yang kurang lebih sama juga digelar di Solo sejak beberapa tahun belakangan ini, yakni pentas Opera Ramayana selama tiga malam berturut-turut setelah hari Lebaran, untuk menyambut para pemudik yang tengah berlibur bersama keluarga di kampung halaman. Pertunjukan gratis tanpa tiket masuk ini digelar di situs peninggalan kolonial Benteng Vastenberg, melibatkan 150 penari, dan mampu menyedot hingga 5000-an penonton.

Tanpa adanya "kekuatan yang menggerakkan" tadi, rasanya tidak mudah mengumpulkan orang sebanyak itu, walaupun lewat pertunjukan gratis, apalagi yang ditampilkan adalah kesenian tradisional yang selama ini dicitrakan telah ditinggalkan terutama oleh anak-anak muda. Namun, Yogyakarta dan Solo membuktikan bahwa menciptakan ruang-ruang bagi munculnya kembali semangat "kewarganegaraan" itu bukanlah sesuatu yang mustahil, jika dilakukan dengan upaya yang sungguh-sungguh.

Baru berlalu seminggu yang lalu, di kawasan Blok M, tepatnya di sebuah area yang biasa disebut "Little Tokyo", di labirin-labirin gang di antara Pasaraya dan Blok M Square, di antara restoran-restoran Jepang, ada gelaran Ennichisai, Festival Budaya Jepang, yang juga sudah menjadi agenda tahunan di Jakarta belakangan ini. Acara tersebut selalu mampu menyedot pengunjung hingga ribuan, membuat seluruh area Blok M menjadi penuh sesak lautan manusia, nyaris tanpa bisa membuat orang bergerak.

Sebagian dari pengunjung datang dari luar kota, menginap di hotel-hotel di sekitar lokasi acara, untuk secara khusus menyaksikan dan terlibat di tengah-tengah keramaian yang pada dasarnya "hanya" berupa deretan stan makanan dan minuman Jepang, yang kini sebenarnya tidak sulit juga untuk dijumpai di berbagai mall. Sebagian dari mereka berdandan dengan kostum tokoh-tokoh anime Jepang, berlalu lalang dan memenuhi setiap sudut hingga ke radius yang agak jauh, membuat suasana benar-benar berbeda dari hari-hari biasa.

Sekali lagi, apa yang menggerakkan mereka? Barangkali, inilah "people power" yang sesungguhnya. Semangat untuk menegaskan dan menghadirkan kembali kewarganegaraan, tanpa dikotak-kotakkan dalam berbagai perbedaan dari kelas sosial hingga pilihan politik. Sesuatu yang dalam kondisi "normal" sebenarnya wajar dan biasa-biasa saja, tapi dalam situasi hari-hari ini, di mana orang begitu mudah membenci dan bertengkar sekadar karena perbedaan calon presiden yang didukung.

Flash mob tari di Malioboro, Opera Ramayana dalam rangka libur Lebaran di Solo, hingga Festival Budaya Jepang Ennichisai di Blok M memperlihatkan bahwa kewarganegaraan seolah hadir kembali, minta diperhatikan, dan dilihat lagi dengan cara yang berbeda. Untuk kemudian, mungkin perlu dilakukan usaha-usaha memaknainya ulang dengan cara yang lebih "santai". Tidak (harus) dengan demonstrasi memprotes hasil pemilu yang dituduh curang. Tidak pula dengan gontok-gontokan, perdebatan tiada ujung mengenai hak-hak dan kesetaraan perempuan dan LGBT, hingga pro-kontra penerapan hukum syariah dalam peraturan pemerintah daerah.

Melainkan, dengan menari bersama-sama di tengah jalan, mengenakan kaos oblong, celana jeans, topi, dan sneaker trendi. Larut dalam haru-biru gugurnya Kumbakarna sambil menimbang kembali pembakaran Dewi Sinta untuk membuktikan kesuciannya setelah ditolak Rama pasca-penculikan oleh Rahwana. Atau, berdandan menjadi tokoh superhero Jepang idolamu, sambil makan ramen superpedas sampai bibirmu terbakar, sampai perutmu bergejolak oleh rasa nikmat.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor



Simak Video "Benarkah People Power akan Terjadi saat Pengumuman Hasil Pemilu?"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)