detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 29 Juni 2019, 12:20 WIB

Pustaka

Gado-Gado Budaya Pop dan Komodifikasi Agama

Anggi Afriansyah - detikNews
Gado-Gado Budaya Pop dan Komodifikasi Agama
Jakarta -
Judul Buku: Politik Sirkulasi Budaya Pop: Media Baru, Pelintiran Agama, dan Pergeseran Otoritas; Penulis: Wahyudi Akmaliah; Penerbit: Buku Mojok, 2019; Tebal : xiv + 193 hlm

Studi tentang budaya populer semakin naik pamornya saat ini. Apalagi diiringi oleh semakin mudahnya akses internet. Dalam konteks politik, populisme yang menggejala saat ini pun memanfaatkan varian media sosial untuk mendongkrak posisi tawar mereka yang bermain di arena politik. Selain juga terkait perdebatan agama, yang dahulu hanya tersirkulasi di arena yang lebih eksklusif menjadi lebih mudah menyebar di dunia maya.

Perdebatan yang sering kali mengarah kepada pertengkaran tanpa akhir, yang sesungguhnya fenomena lama, kembali hadir dalam wajah yang berbeda. Di sisi lain penebalan-penebalan kebencian yang diakibatkan pelintiran agama sangat mudah dilakukan. Apalagi, literasi digital yang yang masih terbatas menyebabkan operasi-operasi hoaks begitu menggejala dan merusak tatanan.

Buku Politik Sirkulasi Budaya Pop: Media Baru, Pelintiran Agama, dan Pergeseran Otoritas karya Wahyudi Akmaliah menjadi salah satu karya yang berusaha menjelaskan berbagai pergeseran tersebut. Dalam pengantarnya penulis menyebut judul buku ini terinspirasi dari karya David Beer yang berjudul Popular Culture and New Media: The Politics of Circulation (Palgrave, 2013). Politik sirkulasi mengutip Beer (2013) merupakan pendekatan materiil dengan melihat infrastruktur media baru yang bergerak melalui jejaring dan keterhubungan. Infrastruktur media baru tersebut adalah objek dan infrastruktur, pengarsipan, algoritma, dan permainan data.

Buku ini memaparkan tiga tema besar, budaya pop dalam pusaran kekuasaan, media baru dan pergeseran otoritas, serta gelombang islamisasi dan komodifikasi agama. Ketiga tema yang diangkat oleh penulis melalui buku ini merupakan tema aktual dan dalam kurun waktu beberapa tahun ini hilir mudik mewarnai perdebatan di Indonesia.

Pada bagian awal penulis mengajukan argumen bahwa medan budaya pop merupakan salah satu arena pertempuran yang dipilih oleh para kandidat dalam pertarungan politik. Media pop menjadi media propaganda yang digunakan oleh tiap pasangan calon yang bertarung untuk merebut suara. Produk budaya popular ini dibuat dalam rangka merebut hati konstituen. Pertarungan di ranah politik diramaikan dengan kerja-kerja kreatif dengan produksi media pop yang kemudian menjadi sarana ampuh untuk meningkatkan citra diri sambil mengkritisi pihak lawan.

Penulis dengan tajam menarasikan perkembangan budaya pop terkini. Misalnya, soal Via Vallen dan Nella Kharisma yang memiliki basis masa yang luar biasa hingga digunakan sebagai bagian dari kampanye politik. Juga tentang Ahmad Dhani yang menurutnya salah memilih jalan, Ratna Sarumpaet yang dianggap kreator hoaks terbaik, tentang Sabyan yang menghadirkan wajah Islam yang berbeda, serta budaya pop lainnya yang begitu hits saat ini tak luput dari amatan kritisnya.

Penulis secara cermat mengamati pergeseran otoritas yang terjadi karena hadirnya media baru. Dalam bagian ini, ia menghadirkan analisis-analisis kontemporer tentang betapa kekuatan media internet menjadi ruang baru bagi pergumulan, juga pertarungan politik. Peran media baru baik televisi maupun internet juga memungkinkan munculnya figur-figur baru yang kemudian berpengaruh di berbagai ranah seperti politik maupun keagamaan. Kita kemudian mengenal figur Ustad Abdul Somad, Ustad Arifin Ilham, Ustad Yusuf Mansur, Habib Rizieq Shihab ataupun Aa Gym. Figur agama yang memiliki pengaruh di kalangan umat.

Kehadiran media baru menjadi lahan subur ruang diskursif, tidak hanya bagi makna agama, tetapi juga pengalaman islam baru yang dimediasikan secara transnasional, demikian sebut penulis mengutip Nabil Echchaibi dalam artikelnya From Audio Tapes to Video Blogs: The Delocalisation of Authority in Islam (2010). Ia juga mengutip Dale F. Eickelman dan Jon W. Anderson (2003) yang menyebut bahwa bentuk-bentuk komunikasi baru di dunia muslim secara global memberikan peranan secara signifikan dalam fragmentasi dan kontestasi, baik politik maupun keagamaan.

Gelombang islamisasi dan komodifikasi agama tak luput dari telisik penulis. Di bagian ini ia menghadirkan analisisnya tentang lebih lekatnya kelompok terdidik dan menengah secara ekonomi kepada arus islamisasi. Ia kemudian mengelaborasi hasil-hasil riset dari Setara Institute, Alvara Research, Wahid Instute, Maarif Institue juga lembaga lainnya yang menunjukkan semangat kaum muda untuk tergabung ke gelombang radikalisme. Mereka terbujuk pada daya pikat terorisme dan radikalisme.

Infiltrasi paham radikalisme dan terorisme tersebut tidak hanya melalui internet, tetapi juga melalui pengajian-pengajian yang ada baik di sekolah maupun tempat kerja. Sorotan terhadap proses politik yang lebih menebal ke arah sentiment etnisitas dan agama juga menjadi amatan penulis dalam buku ini. Ini juga yang membuat Jokowi memilih KH Maruf Amin sebagai pendampingnya. Politik SARA adalah ancaman terbesar bagi Jokowi dalam kontestasinya di Pilpres 2019 lalu.

Sayangnya, meskipun sudah membagi buku ini dalam tiga babak tematik, masih terasa betul cita rasa buku ini sebagai artikel pendek yang dikumpulkan dari berbagai media. Jika buku ini dirajut dan dirangkai ulang dengan mengkaitkan tema-tema yang dikedepankan, tentu buku ini menjadi lebih renyah dibaca. Khusus untuk bagian tiga, terkait gelombang islamisasi dan komodifikasi agama, terasa betul adanya penggabungan tema, yang terlihat tidak selaras dan cenderung dipaksakan. Sehingga terasa kurang panjang penjelasan terkait isu tersebut.

Meskipun demikian, buku ini sangat penting dibaca oleh siapapun yang aktif mengikuti isu-isu mutakhir terkait relasi antara budaya pop, politik, dan agama, yang ketiganya berkelindan mewarnai hari-hari kita belakangan ini. Penulis relatif berhasil memotret relasi ketiganya dalam arus pertarungan di media sosial kini. Daya kritis penulis membantu kita untuk membaca narasi-narasi yang hadir dari relasi tersebut.

Anggi Afriansyah peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com