detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 25 Juni 2019, 16:20 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Ternyata Kita Belum Saling Mengenal

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Ternyata Kita Belum Saling Mengenal Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Pada Lebaran lalu, kami sekeluarga berziarah ke makam almarhum bapak saya, yang bersebelahan dengan makam anak kedua saya. Ini kebiasaan kami. Kadang kami lakukan di awal Ramadhan, kadang di lain waktu. Emak saya bahkan lebih sering lagi. Dia selalu ke makam tiap kali kangen Bapak.

Di depan kuburan bapak dan anak saya yang nomor dua itu, kami berfoto bersama. Foto itu saya unggah di dinding Facebook.

Banyak teman yang berkomentar manis di bawah unggahan itu, turut mendoakan orang-orang terkasih kami. Tapi, yang saya kaget, sebagian kawan saya lainnya malah melemparkan komentar yang sangat tidak peka suasana.

"Wah, ini Muhammadiyah yang tersesat ke jalan yang benar ini."; "Mas Iqbal sudah jadi NU."; "Doanya sampai apa enggak tuh?"

Jujur, saya kecewa sekali. Pada momen sesendu itu pun, saat saya tengah bertakzim kepada almarhum orangtua saya, teman-teman saya lebih suka membahas hal yang sangat tidak relevan, bahkan beraroma prasangka.

Saya sebut itu prasangka, ya karena memang prasangka.

Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga muslim yang sangat Muhammadiyah. Mendiang Bapak aktif di kepengurusan Muhammadiyah tingkat kabupaten. Tiap kali beliau berkeliling mengisi pengajian di kampung-kampung, ajaran baku keislaman yang Bapak sebarkan jelas saja yang sesuai dengan pakem Muhammadiyah. Lebih sempurna lagi, satu-satunya asupan bacaan yang rutin nongol di rumah saya pada masa itu adalah Majalah Suara Muhammadiyah.

Dari iklim kemuhammadiyahan yang sangat kental itu, tidak pernah sekali pun orangtua saya melarang kami untuk berziarah. Dulu kadang Bapak juga mengajak anak-anaknya berziarah ke makam simbah-simbah buyut kami, mendoakan mereka, meski memang tidak duduk di sana berlama-lama.

Saya pun membaca kitab babon "mazhab" Muhammadiyah, yaitu Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Di situ dijelaskan bahwa hukum ziarah kubur adalah sunah, alias dianjurkan. Tujuannya untuk mendoakan orang yang telah mati, sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa kita pun nanti akan mati. Kalau pun ada hal yang dilarang di ziarah kubur, itu spesifik ke sikap pengeramatan kuburan, juga meminta-minta sesuatu kepada orang yang telah mati.

Dengan contoh kasus keluarga kami sendiri, entah kenapa banyak kawan saya dari kalangan nahdiyin mengira ziarah kubur diharamkan oleh Muhammadiyah. Bahkan lebih jauh lagi, ada yang mengira orang Muhammadiyah tidak boleh mendoakan orang yang telah meninggal, lalu berkomentar menyindir, "Doanya sampai apa enggak tuh?"

Saya paham sekali, ziarah kubur memang tidak menjadi tradisi ketat di kalangan warga Muhammadiyah. Namun, bukan berarti aktivitas tersebut terlarang. Saya juga paham, ada sebagian warga Muhammadiyah yang memegang teguh keyakinan bahwa berdoa untuk orang mati bisa dilakukan di mana saja, alias tidak harus di depan makamnya.

Walhasil, mereka memang nyaris tidak pernah berziarah, dan mendoakan mendiang leluhur cukup dari atas sajadahnya saja. Tapi sejak kapan ada selentingan isu bahwa Muhammadiyah melarang orang mendoakan orang mati, karena doa itu "tidak akan sampai"?

***

Ada satu poin mengejutkan dari kasus yang saya ceritakan tadi, yaitu betapa diam-diam ternyata kita begitu berjarak, dan tidak pernah benar-benar saling mengenal. Bahkan di antara sesama muslim yang "sangat Indonesia" pun, yakni NU dan Muhammadiyah, ada sekian kabar-kabur yang menumbuhkan imajinasi tak berdasar satu sama lain.

Ini bukan cuma prasangka dari warga NU ke warga Muhammadiyah. Yang sebaliknya pun terjadi, dari orang Muhammadiyah ke orang NU.

Saat melihat sesajen, misalnya. Banyak orang Muhammadiyah yang sangat menentang TBC (takhayul, bidah, dan churafat) itu kerap potong kompas menyimpulkan bahwa paket sesaji dalam acara-acara kenduri adalah persembahan kepada jin dan hantu-hantuan.

Saya sekarang tinggal di kampung nahdiyin, dan lumayan sering datang kenduri. Dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan, tidak pernah sekali pun sesaji yang diletakkan di hadapan Mbah Modin itu dibacai mantera agar dimakan setan. Ngawur, itu. Sesaji diletakkan di situ sekadar sebagai syarat yang bersifat tradisi, sementara doa-doanya ya tetap kepada Tuhan. Bukan kepada genderuwo ataupun wewe gombel.

Maka, kalau ada orang Muhammadiyah yang ngotot menyebut itu bidah, alias mengada-adakan sesuatu yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, ya terserah dia saja. Tapi kalau sampai ada yang bilang itu syirik atau menyekutukan Tuhan, jelas saya akan membantahnya.

***

Komunikasi budaya antara sesama kita memang sangat jauh dari tuntas. Kita tidak pernah benar-benar mengenal tetangga kita sendiri. Bayangkan sekali lagi, bahkan antara warga NU dan Muhammadiyah pun begitu. Lantas bagaimana antara warga NU atau Muhammadiyah dan aliran-aliran lain yang baru belakangan datang ke Indonesia? Bagaimana pula dengan agama-agama lainnya lagi?

Sekarang ini, kita berada di zaman amplifikasi. Karena saking mudahnya orang memproduksi informasi sekaligus amat mudah pula untuk menyebarkannya, kabar setidak-akurat apa pun bisa menancap kuat di benak publik luas. Ini menjadi pintu-pintu rapuh yang rentan dimasuki oleh simplifikasi cara berpikir.

Hasilnya, prasangka bukannya semakin menipis, melainkan malah bisa mengeras jauh lebih parah ketimbang sebelum-sebelumnya.

Coba lihat, betapa kebiasaan menilai orang lain dari cara berpakaiannya juga bukannya semakin berkurang, malah semakin mewabah. Sebagai contoh, ketika citra visual di medan digital dan celotehan media sosial memposisikan para lelaki bercelana cingkrang sebagai kaum radikal, ada berapa ribu orang yang serta-merta mengidentifikasi bahwa setiap pria bercelana cingkrang adalah radikal?

Simplifikasi semacam itu bukan cuma memalukan, tapi juga berbahaya untuk harmoni sosial kita.

Pernah suatu kali ada serombongan lelaki bergamis dan bercelana cingkrang datang ke masjid kami. Mereka menumpang tidur di situ, memasak di situ, makan pula di situ. Warga kampung jadi heboh. Dalam rapat RT, ada yang dengan tegang mengusulkan agar para lelaki bercelana cingkrang tadi diusir saja dari kampung kami.

Jelas, kekhawatiran itu terbangun dari citra-citra di kabar digital selama ini. Tentang terorisme, radikalisme, fundamentalisme, dan isme-isme sebangsanya. Saya sendiri ada di forum RT tersebut, dan syukurlah berhasil meyakinkan para tetangga bahwa laskar cingkrang itu bukan jamaah Ansharut Tauhid apalagi ISIS, melainkan anggota Jamaah Tabligh (JT).

Jamaah Tabligh sama sekali bukan kelompok ekstrem. Saya ceritakan bahwa saya pun berkawan dengan anak-anak JT, dan saya tahu pasti bahwa mereka "aman-aman" saja. Untung saja para tetangga saya itu rata-rata petani, bukan orang kuliahan, sehingga saya tak perlu repot-repot mengutip Sydney Jones untuk membuat mereka percaya bahwa JT bukan kelompok so called radikal.

Identifikasi jalan pintas sebagaimana yang sempat melanda para tetangga saya itu terjadi karena kita tidak benar-benar saling kenal, dan malas untuk berusaha saling mengenal. Kalau toh kita mengenal, sifatnya semata-mata sangat permukaan.

Pernah saya mengobrol tentang pelajaran PPKn dengan anak sulung saya. Hal yang dia pelajari tentang agama lain tak lebih dari apa nama tempat ibadah mereka, siapa nama orang suci yang membawa ajaran agama mereka, dan apa nama kitab mereka. Tidak pernah beranjak lebih jauh dan lebih substantif dari itu.

Pada hemat saya, porsi semacam itu sangat kurang. Informasi demikian sangat bersifat permukaan, hanya merupakan identifikasi kulit, dan tidak cukup efektif untuk membangun kesadaran anak bahwa teman-temannya berhak meyakini apa yang selama ini mereka yakini. Salah-salah, identifikasi kulit itu malah akan semakin mempermudah barikade antara "kita" dan "mereka", alih-alih menumbuhkan pikiran bahwa "kita bisa hidup berdampingan bersama mereka".

Bila kita sungguh-sungguh ingin mendidik anak-anak kita untuk melanjutkan kehidupan dalam harmoni, mestinya kita meluangkan waktu untuk mengenal lebih jauh lagi para tetangga dan teman-teman kita. Tanpa mengenal, kita tetap akan selalu terjebak dalam simplifikasi yang melahirkan imajinasi demi imajinasi.

***

Oh ya, ngomong-ngomong, saya diajak oleh cendekiawan NU Gus Abdul Gaffar Karim untuk melakukan perjalanan ziarah ke Madura, bulan depan. Di makam para wali, eh, para ulama besar itu nanti saya akan berdoa dengan cara Muhammadiyah. Insya Allah, doa saya untuk mereka rahimahullah akan sampai.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed