Didi Kempot dan Perlawanan ala Campursari
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Didi Kempot dan Perlawanan ala Campursari

Minggu, 23 Jun 2019 11:36 WIB
Murdianto An Nawie
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Didi Kempot sang maestro campursari
Jakarta -

Ditahbiskannya Didi Kempot sebagai Bapak Patah Hati Nasional (Godfather of Broken Heart) oleh kelompok warganet muda, Solo Sad Bois pada Sabtu (15/7) menunjukkan bahwa kaum muda memberikan apresiasi pada Didi Kempot dan genre musik yang dibawakannya yakni campursari.

Campursari adalah kreasi para seniman Jawa yang pada akhirnya bisa menembus pasar seni nasional dan bahkan internasional. Meskipun kental dengan identitas kejawaan, campursari dikenal oleh masyarakat Jawa yang tinggal di Jawa, maupun diaspora Jawa yang ada di berbagai negeri seperti Suriname, Kaledonia Baru, Belanda dan di banyak tempat di ujung dunia. Campursari dan para apresiatornya telah melintas batas etnisitas maupun batas geografis suatu negara.

Dalam kesempatan berkendara angkutan umum, campursari menjadi favorit para sopir travel maupun bus antarkota. Saya mengingat betul lagu Layang Kangen diputar ulang lebih dari lima kali dalam perjalanan Ponorogo-Kediri. Setidaknya, menurut saya campursari sejauh ini terasa paling estetis.

Setelah mendengarkan berbagai genre baik rock, dangdut, pop, balada, swing, rap, jazz, reggae dan jenis lain ternyata kenikmatan mendengarkan campursari hampir tak terkalahkan. Cidro, Tanjung Mas, Stasiun Balapan, Jalan Mastrip, Dalan Anyar, Sri Kapan Kowe Bali? dan banyak deret lagu campursari telah menjadi bagian dari denyut nadi sekaligus memori penting bagi masyarakat Jawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lagu-lagu campursari mengusung tema human interest, masalah pengalaman cinta, sampai remeh-temeh masalah keluarga, menggabungkannya dengan masalah keseharian yang dialami masyarakat, hingga hal-hal serius untuk mengajarkan nilai-nilai ideal, dikreasi dengan ringan hingga tak terasa menjadi bagian aliran darah masyarakat penikmatnya. Aspek human interest ini digabungkan oleh para seniman campursari seperti Didi Kempot dan kawan-kawan dengan mengangkat suatu tempat yang menjadi landmark (tempat unik dan khas) di suatu daerah, menjadi salah satu kekuatan dari campursari.

Sebagai ruang publik, landmark menyimpan banyak peristiwa bagi pengunjungnya, peristiwa yang pada akhirnya menjadi "kenangan", suatu titik penting dalam hidup manusia. Seni campursari mampu menyatukan "hal-hal penting dan serius dalam hidup seseorang" dan "tempat-tempat penting" secara indah. Ruang dan waktu menjadi penting dalam satu karya yang kemudian melegenda, yakni campursari.

Menyerap

Saya mendapat pesan kuat dari campursari bahwa "melawan" tak harus menolak, justru sebaliknya menyerap banyak hal-hal dari lawan dan mengkreasinya menjadi kekuatan. Campursari menyerap berbagai genre musik dan menyatukannya dengan berbagai ciri khas lokal musik Jawa. Dan dugaan saya bahwa kekuatan campursari justru terletak pada kemampuan menyerap unsur-unsur baru, dan tetap dalam citarasa lokal dari berbagai sudut, mendapatkan konfirmasi dalam teori cultural studies.

Sejak Manthous memasukkan unsur instrumen modern dan mengkreasi corak baru menjadi sebentuk genre baru musik Jawa pada awal dekade 1990-an, perkembangan karya musik ini cukup menggembirakan. Di tengah gempuran industri budaya populer, campursari telah menjadi simbol pertahanan (bahkan kemenangan) dalam pertarungan budaya lokal dengan kapitalisme seni yang perlahan telah menunggalkan selera musik dunia dengan genre musik Barat.

Perlawanan ala campursari adalah sebentuk perlawanan kebudayaan yang tidak musti mengharu biru, bergelora, atau membawa tema-tema bernada sarkastik. Dimulai dari penguasaan berbagai dimensi dari musik dan tembang Jawa, menggabungkan dengan potensi yang ditemukan dari serbuan modernisasi alat musik, sekaligus deru globalisasi yang cenderung membaratkan selera musik. Perlawanan terhadap pembaratan musik ini dilawan dengan menyerap dan memanipulasi unsur-unsur modern dan dimasukkan dalam varian musik dan tembang Jawa, terciptalah perlawanan kreatif yang pada akhirnya melahirkan campursari.

Perlawanan ala campursari rumusnya adalah menyerap tenaga lawan, membaliknya menjadi kekuatan, dan menjadi tameng kuat untuk bertahan. Oleh karena itu, saat kaum terpinggir menghadapi ancaman kezaliman, perlawanan campursari dapat menjadi inspirasi.

Murdianto An Nawie mengajar di Program Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

(mmu/mmu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads