detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 21 Juni 2019, 13:10 WIB

Kolom

Dakwah "Smart" vs Dakwah Konvensional

Muhammad As'ad - detikNews
Dakwah Smart vs Dakwah Konvensional Acara Hijrah Fest yang menarik perhatian anak muda (Foto: Arief Ikhsanudin)
Jakarta -

Baru-baru ini diberitakan komentar pengamat radikalisme, Akhmad Muzakki, yang juga menjabat Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, yang mengatakan bahwa fenomena hijrah yang saat ini tren di kalangan artis maupun generasi milenial bisa menjadi jalan masuk ke terorisme jika tidak mendapatkan pendampingan dari ulama maupun akademisi.

Di banyak akun media sosial kalangan "hijrah", komentar tersebut direspons dengan komentar yang tak kalah tajamnya. Di antara mereka mengatakan bahwa komentar Muzakki tersebut menunjukkan ketakutan sebagian organisasi massa berbasis Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU), yang mulai tidak laku dan ditinggal jamaahnya. Akun tersebut melanjutkan, alih-alih memperbaiki strategi dakwah NU yang sudah ketinggalan zaman, yang terjadi sebaliknya, beberapa tokoh NU mengkritik dan menyerang "kelompok hijrah" yang bagi mereka telah berhasil "mengislamkan" banyak orang, dengan mengajak mereka memperdalam ilmu agama melalui kajian keagamaan yang dikemas kekinian dan menarik banyak kalangan.

Tentang berhasilnya "kelompok hijrah" mengajak masyarakat untuk semakin memperdalam ilmu agama bisa dilihat dari riset terbaru Setara Institute. Dalam riset tersebut dinyatakan bahwa di 10 Perguruan Tinggi Negeri, ceramah dan tulisan Felix Siauw jauh lebih diterima daripada ceramah ahli tafsir Alquran Profesor Quraish Shihab. Kita ketahui Felix Siauw adalah salah satu aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi yang dibubarkan pemerintah 2017 lalu.

Bubarnya HTI tidak menghentikan kegiatan dakwah Felix Siauw. Di kalangan "kelompok hijrah", Felix Siauw merupakan tokoh utama dan selalu hadir di setiap acara bertemakan hijrah. Salah satu yang menonjol adalah acara Hijrah Fest yang diadakan pada 24-26 Mei di Jakarta Convention Center (JCC). Acara ini sebenarnya telah diadakan untuk kesekian kalinya. Yang pertama di Jakarta pada November tahun lalu yang kemudian dilanjutkan dengan membuat kegiatan yang sama di beberapa kota lain di Indonesia. Artis dan mantan VJ MTV Arie Untung dkk adalah tokoh di balik keberhasilan Hijrah Fest ini.

Selain itu, Felix Siauw juga salah satu tokoh di balik munculnya animasi Islami Nussa dan Rara yang akhir-akhir ini trending di Youtube dan tayang di Net TV selama bulan Ramadhan. Keberhasilannya dengan misi dakwahnya yang eksklusif dan membawa misi politik tertentu inilah yang dikhawatirkan oleh Akhmad Muzakki dan juga Setara Institute. Pandangan eksklusif seperti ini, yang menolak penafsiran Islam selain pemahaman kelompoknya, dalam jangka panjang akan membawa pengikutnya ke dalam ajaran-ajaran yang cenderung mengarah ke radikalisme.

Dakwah "Smart"

Yang menjadi pertanyaan, mengapa "kelompok hijrah" ini jauh lebih berhasil daripada "kelompok moderat" seperti NU dan juga Muhammadiyah?

Dalam artikel berjudul The Conservative Turn in Indonesian Islam: Implications of the 2019 Presidential Election, Leonard C. Sebastian dan Andar Nubowo mengatakan bahwa keberhasilkan Islam "eksklusif" dan konservatif seperti Felix Siauw dan kelompok hijrahnya tidak lain karena metode dakwah "smart" yang mereka terapkan sehingga bisa diterima oleh banyak kalangan terutama generasi milenial.

Menurut Sebastian dan Nubowo, dakwah "smart" dicirikan dengan kekuatan selebritas para tokoh di belakangnya (seperti Felix Siauw dan Arie Untung), dan penggunaan media sosial sebagai sarana marketing untuk menjangkau generasi millineal yang sadar teknologi.

Popularitas Felix Siauw dan juga keberhasilan acara Hijrah Fest adalah contoh bagaimana dakwah "smart" ini bekerja dan menyasar kalangan milenial. Untuk Felix Siauw, meskipun HTI telah dibekukan dan dianggap sebagai organisasi terlarang di Indonesia, dia tetap aktif berdakwah lewat media sosial dan berhasil banyak mendapatkan pengikut. Belum lagi kartun Nussa dan Rara, yang juga diinisiasi oleh Felix Siauw, mempunyai kualitas dan cerita yang cukup bagus, dan punya potensi menyaingi animasi negara tetangga, Upin dan Ipin.

Untuk Hijrah Fest, melalui promosi aktif para selebritas seperti Arie Untung, Dude Herlino, Dimas Setyo, Dhini Aminarti, Teuku Wisnu, Shireen Sungkar dan lain-lain berhasil mengajak ribuan orang untuk hadir dalam acara hijrah yang mereka buat meskipun harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit (biaya tiket per hari Rp 98 ribu dan tiket terusan untuk tiga hari Rp 250 ribu).

Hal ini berbanding terbalik dengan metode dakwah beberapa tokoh NU yang terbilang konvensional. Mereka memang sudah menggunakan media teknologi kontemporer seperti direkam dengan kamera dan diunggah di media sosial, namun kemasannya masih konvensional --cara penyampaian yang masih mengikuti ceramah gaya lama, kualitas gambar yang pas-pasan, dan juga penggunaan bahasa yang sebagian besar masih menggunakan bahasa Jawa. Karakteristik ini menunjukkan bahwa dakwah para tokoh NU masih menyasar anggota kelompok mereka sendiri, yakni alumni pesantren yang berdomisili di pulau Jawa terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mereka belum bisa secara kreatif mengemas produk dakwahnya lebih menarik dan "smart" sehingga mencuri perhatian anggota masyarakat yang tidak familiar dengan tradisi NU.

Sebenarnya tidak semua tokoh agama yang dekat dengan tradisi NU menggunakan metode konvensional ini. Ada beberapa dari mereka menjadi rujukan "kelompok hijrah" seperti Yusuf Mansur, Buya Yahya, dan juga beberapa tokoh habib yang mengisi acara Hijrah Fest bulan lalu: Habib Novel Alaydrus dari Solo, Habib Muhammad Mutohhar dari Semarang, dan Habib Muhammad bin Anies bin Sahab dari Malang. Namun dari semua tokoh ini, semua tidak dalam lingkaran utama NU.

Memperbaiki Kualitas

Pertanyaan berikutnya yang perlu dijawab, bagaimana kalangan moderat (NU dan Muhammadiyah) menyikapi tren ini? Menyerang "kelompok hijrah" ini dengan mengatakan mereka tidak punya kemampuan agama yang mumpuni dan tidak layak untuk mengajar bukanlah langkah yang bijak. Yang terjadi malah sebaliknya. Mereka akan apatis terhadap NU dan lebih memilih meneruskan belajar dengan para ustaz yang telah membimbing mereka sampai saat ini.

Bagaimanapun, mereka punya hak untuk memperdalam ilmu agama. Bukan salah mereka jika NU Muhammadiyah tidak memberikan model yang cocok bagi mereka untuk belajar agama.

Untuk itu, kalangan organisasi Islam moderat di Indonesia harus juga menerapkan metode "smart" ini dalam dakwah yang mereka lakukan. Salah satunya dengan memperbaiki kualitas konten dakwah mereka di media sosial, merangkul para selebritas dan influencer yang bisa membantu promosi dakwah moderat mereka, dan juga yang paling penting menggunakan bahasa yang lebih mudah dicerna oleh generasi milenial di Indonesia. Dengan menggunakan metode seperti ini, besar kemungkinan kelompok moderat bisa mengejar ketertinggalan dakwah kelompok konservatif sehingga lebih bisa mempromosikan Islam inklusif kepada generasi milenial di Indonesia.

Muhammad As'ad dosen di Universitas Hasyim Asy'ari, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed