detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 20 Juni 2019, 11:46 WIB

Kolom

Sistem Zonasi, Pemerataan, dan Keberagaman

Didik Purwanto - detikNews
Sistem Zonasi, Pemerataan, dan Keberagaman
FOKUS BERITA: Ruwet PPDB Zonasi
Jakarta -

Saat ini sedang banyak perbincangan tentang sistem zonasi yang mulai diterapkan dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP dan SMA. Dengan sistem zonasi tersebut, jarak rumah dengan sekolah akan menentukan calon siswa diterima atau tidak di sekolah pilihannya. Pro dan kontra pun muncul dikarenakan kurangnya sosialisasi dan penerapan yang terkesan mendadak

Hilangnya Gengsi Sekolah Kawasan

Salah satu yang diributkan oleh orangtua adalah akan hilangnya sekolah unggulan atau sekolah kawasan yang selama ini mereka banggakan. Mereka kecewa karena nilai UNAS tidak lagi menjadi syarat utama untuk masuk sekolah negeri. Sekolah Negeri Kawasan atau Unggulan adalah produk dari sistem PPDB sebelumnya di mana siswa dengan kemampuan tinggi terkumpul di satu sekolah negeri. Akibatnya, secara alamiah ada Sekolah Negeri dengan siswa-siswa unggulan dan ada Sekolah Negeri dengan siswa-siswa non unggulan.

Jika sebelumnya ada gengsi dan kebanggaan orangtua saat anaknya diterima di Sekolah Negeri Unggulan, maka ke depan pendaftaran siswa baru akan menjadi hal yang biasa. Jika kemarin terjadi kompetisi secara berlebihan untuk meraih nilai UNAS tertinggi hingga sekolah terasa menjadi beban berat siswa, maka ke depan siswa tidak perlu terlalu terbebani dengan nilai ujian akhir tersebut.

Hal tersebut tentu ada sisi positif dan negatifnya. Namun memang seharusnya Sekolah Negeri adalah milik rakyat yang fasilitasnya harus merata dan bisa diakses oleh seluruh anak bangsa. Tidak peduli dia kaya atau miskin, tidak memandang dia nilainya bagus atau jelek, tidak membedakan dia berkebutuhan khusus atau tidak. Sekolah Negeri tidak hanya untuk anak yang pintar atau mempunyai nilai UNAS bagus.

Pentingnya Keberagaman

Saat sekolah mempunyai siswa yang homogen secara kemampuan dan latar belakang, maka sekolah sangat diuntungkan karena treatment yang diperlukan bisa dilakukan secara seragam. Seringkali sekolah dianggap seperti pabrik yang membutuhkan raw material dengan standar tertentu agar menghasilkan produk yang berkualitas.

Salah satu yang dikhawatirkan oleh orangtua saat diterapkan sistem zonasi adalah dari sisi pergaulan anaknya. "Kalau sistem zonasi, nanti anakku akan bergaul dengan anak-anak yang nakal, anak yang malas, anak yang bodoh, anak yang beda level, bagaimana ini?" keluh salah seorang orangtua dari Sekolah Kawasan. Mungkin Anda juga merasa khawatir.

Sekolah Negeri Kawasan telah menciptakan kompetisi berlebihan, pengelompokan dan pelevelan siswa. Padahal secara fitrah semua anak tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Anak-anak itu unik dan tidak sepatutnya kita membanding-bandingkannya dan memberikan level.

Kita tidak perlu takut dengan lingkungan yang beragam. Justru kita harus mendidik anak-anak untuk bisa bergaul dengan semua kalangan. Biarlah anak-anak bergaul dengan yang berbeda kemampuan, berbeda latar belakang ekonomi, berbeda budaya, berbeda agama, bahkan yang berkebutuhan khusus. Ketika anak-anak bertemu dengan teman-teman yang berbeda, mereka akan belajar hidup bertoleransi, saling melengkapi, saling membantu, saling peduli, saling mendukung, dan akhirnya mereka bisa bersatu dalam keragaman itu.

Anak-anak tidak boleh dikotak-kotakkan dan dikompetisikan hanya untuk sesuatu yang semu. Mereka harus belajar berkolaborasi dan bersinergi dalam perbedaan itu.

Dengan sistem zonasi, sekolah atau guru harus bisa meramu pembelajarannya agar tidak lagi berorientasi kepada nilai ujian dan teori semata. Pembelajaran harus banyak memberikan kesempatan anak-anak untuk bekerja sama, mengerjakan projek bersama, dan menggali potensi masing-masing. Sekolah harus menjadi tempat anak-anak belajar nilai-nilai kehidupan dan menemukan multi inteligensia anak untuk ditingkatkan. Guru harus bisa menjadi pembimbing dan team leader agar prestasi kelompok bisa diraih anak-anak itu.

Tidak ada lagi si ranking satu, tidak penting lagi siapa yang punya nilai matematika terbaik, tapi apa yang mampu dilakukan anak-anak bersama timnya itu yang perlu diapresiasi. Coba lihat bagaimana serial Upin-Ipin menggambarkan pergaulan anak-anak dari berbagai kalangan, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang pintar, ada yang dari etnis tertentu, ada yang suka usil, bahkan ada yang belum bisa membaca, tapi mereka semua bisa belajar bersama, bermain bersama, dan bersenang-senang bersama.

Bangsa kita butuh generasi yang sejak dini sudah mampu bersinergi dengan sesamanya, tidak mudah terpecah belah, tidak saling merendahkan, tidak saling menghujat, dan tidak hanya mementingkan diri sendiri. Ingat, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nilai ujian, nilai rapor, nilai UNAS, atau IPK, tapi lebih banyak ditentukan oleh attitude dan karakter anak. Karena saat dewasa nanti, pasti mereka harus bekerja sama dengan beragam manusia di tempat kerjanya.

Jadi marilah kita berubah dengan mulai menghilangkan sekat-sekat dan kotak-kotak yang ada di lingkungan kita terutama di dalam urusan pendidikan dan sosial.

Di masa transisi penerapan sistem zonasi ini pasti ada pro dan kontra serta ada berbagai kendala dan dampak yang harus kita hadapi. Yang paling berperan dalam keberhasilan sistem zonasi adalah para guru. Para guru dituntut mampu mengelola kelas yang heterogen. Tentu akan diperlukan penyesuaian dan perubahan teknik pembelajaran agar semua bisa belajar dan menunjukkan prestasinya meski dengan tingkat yang berbeda-beda.

Siswa yang berkemampuan lebih harus bisa memberi pengaruh positif ke siswa yang berkemampuan kurang, jangan malah sebaliknya. Teknik pembelajaran dan konten kurikulum yang tepat menjadi PR besar pemerintah dalam mengawal dunia pendidikan dasar dan menengah ini agar mampu menghasilkan generasi unggul baik di bidang akademik maupun non akademik.

Kita para orangtua juga jangan hanya bergantung ke sekolah dalam mendidik anak-anak. Keluarga juga menjadi tempat belajar yang sangat penting dalam membentuk mental dan karakter anak. Kita harus terus belajar agar menjadi orang tua yang bijak demi anak-anak kita.

Didik Purwanto founder EDU Science Club Indonesia, dosen Universitas Widya Kartika Surabaya




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
FOKUS BERITA: Ruwet PPDB Zonasi
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed