detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 19 Juni 2019, 15:08 WIB

Kolom

Absennya Narasi Kalah

Fathorrahman Hasbul - detikNews
Absennya Narasi Kalah Kerusuhan di Jakarta pasca pengumuman KPU (Foto: Yulius Satria Wijaya/Antara)
Jakarta -

Setelah kontestasi pemilu serentak berakhir, seluruh manuver politik yang tajam sejatinya juga berakhir. Tetapi hal itu belum bisa diwujudkan secara utuh karena faktanya, kerusuhan 21-22 Mei menjadi tragedi memilukan yang belum hilang dalam ingatan. Tragedi tersebut telah menelan korban. Risiko ini terpaksa harus ditelan dengan pahit karena proses Pemilu 2019 berbeda dengan sistem sebelumnya. Riak-riak politik partikular mengalir begitu deras, bahkan ruang-ruang diskursif telah dijejali oleh nada-nada sumbang politik itu sendiri, dari ruang akademik hingga mimbar-mimbar keagamaan. Gairah politik elektoral telah menyerap ke hampir semua ruas kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga proses politik yang bersifat temporal ini tampak wadak, menjadi magnet bahkan seperti menjelma menjadi kebutuhan yang hakiki.

Justru yang aneh, pemilu selesai, tetapi untuk konteks pilpres belum ada kandidat yang membangun narasi kalah. Pasca-hitung cepat, sebagian masyarakat menunggu panggung adanya kelapangan hati dari yang kalah untuk secara jantan menerima kekalahan. Namun yang terjadi sebaliknya, yang muncul adalah narasi kemenangan yang terus mengiang. Setelah hitungan resmi KPU diumumkan, narasi kalah lagi-lagi belum jua datang "berkumandang".

Belum Siap Kalah

Dalam retorika politik, politisi kalah selalu menyimpan segugus persoalan. Penerimaan atas kekalahan politik sesungguhnya dapat dilihat dalam setiap retorika politik yang ditegaskan pascakontestasi. Untuk mengidentifikasi aktor yang belum siap kalah, pandangan Benoit (1995) dapat menjadi pintu masuk yang cukup absah.

Pertama, setiap retorika yang disampaikan acapkali bersifat denial. Aktor politik yang belum siap kalah akan menyangkal setiap peristiwa politik yang berlangsung. Penyangkalan ini dapat dijelaskan dengan dua konteks; konteks pertama penyangkalan terhadap hasil pemilu karena pada adanya kerja-kerja sistemik yang membuat mereka kalah, konteks kedua membangun narasi umpan balik dengan menjustifikasi lawan sebagai pelaku dari kerja-kerja sistemik itu. Stimulasi ini dibangun untuk menciptakan citra dari identitas penutur meningkat.

Kedua, retorika yang ditegaskan bersifat reducing the offensiveness. Pendekatan ini akan mengurai retorika politik ke dalam tiga pola. Pola pertama seorang penutur akan bersikap bolstering dengan mengungkapkan bahwa dirinya dan tim sudah bekerja dengan maksimal, rapi, terorganisir yang oleh karenanya mustahil kalah, sehingga jikapun hasil akhir berkata kalah, maka itu diasosiasikan kepada adanya sebuah kejanggalan. Pola kedua, narasi minimasi, dengan menjelaskan bahwa proses politik adalah peristiwa perang karena adanya krisis kepemimpinan yang sangat dahsyat sehingga stabilitas dan integritas politik tidak terjaga, dan oleh karenanya "wajib" diselamatkan. Pola ketiga menyerang dengan melakukan tuduhan yang tidak wajar terhadap lawan politik secara ofensif. Tuduhan ini tidak hanya soal kecurangan, tetapi hal-hal yang tidak substansial dalam bentuk politik identitas dan isu-isu sensitif yang lain.

Tentu saja pandangan ini tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai pandangan hipokrit. Tetapi, strategi retoris dengan menggabungkan antara content dengan relationship atau hubungan mereka sebagai politisi dari kaum pendukung sedianya menjadi cara satu-satunya untuk berdiaspora secara bebas membangun letupan-letupan janggal dalam proses politik. Secara implisit dan eksplisit, penggunaan kata-kata dan retorika yang strategis dan taktikal dari aktor yang belum siap kalah akan berimplikasi logis atas terbentuknya bangunan opini publik, bahkan sampai ke tingkat yang paling fluid sekalipun yakni opini dunia internasional terhadap proses politik di Indonesia.

Seorang politisi yang siap kalah akan lebih mudah mengakomodasi pendapat dari banyak orang. Sementara politisi yang belum siap kalah akan cenderung tidak reaktif bahkan bisa jadi tidak percaya terhadap sebuah pendapat. Karena itu, sikap mengakui kekalahan adalah pelajaran dan fakta kehidupan yang penting bagi warga negara dalam pemerintahan yang demokratis. Kekalahan memang tampak menyakitkan dan tidak adil, tetapi ia hanya bisa ditekuk dengan kelapangan hati, jikapun sulit, mungkin dengan waktu.

Melihat ke Depan

Untuk konteks Indonesia yang relatif baru berdemokrasi, penerimaan terhadap derajat menang dan kalah seharusnya tidak membias tajam. Sebab demokrasi secara inheren telah menciptakan pemenang dan yang kalah berdasarkan seleksi alam. Setiap warga negara mendelegasikan wewenang untuk pengambilan keputusan politik mereka kepada aktor politik melalui proses pemilihan yang legal.

Przeworski (2000) menjelaskan, suatu sistem tidak dapat benar-benar didefinisikan sebagai demokratis sampai lebih dari satu sisi mengalami proses politik yang di dalamnya mengakomodasi peristiwa menang dan kalah yang menandai sebuah pergantian kekuasaan politik secara stabil. Demokrasi yang stabil selalu relatif mampu meminimalisir ketegangan politik menjadi tampak moderat. Stabilitas moderatisasi politik ini hanya mungkin terjadi jika yang kalah dan menang memiliki pandangan yang mendalam tentang demokrasi itu sendiri.

Demokrasi yang lincah membutuhkan partisipasi dari semua kelompok untuk memastikan keterwakilannya. Menang berkuasa, kalah tetap gagah menjadi penyeimbang dari polarisasi politik yang berlangsung. Perbedaan jalan politik (menang-kalah) idealnya mampu menata sistem demokrasi agar tampak fleksibel, mengakomodasi seluruh peran masyarakat secara umum, baik yang mendukung maupun tidak, bahkan bagi yang bersikap golput sekalipun. Demokrasi harus cukup kuat untuk menyangga perbedaan-perbedaan.

Demokrasi dapat bertahan jika pemenang dan yang kalah tidak saling memunggungi, saling memegang dan mengekspresikan pendapat mereka untuk sama-sama melihat Indonesia ke depan. Sebab penerimaan pada kondisi akhir keduanya merupakan bagian integral dari prestasi demokrasi.

Fathorrahman Hasbul sedang merampungkan buku Retorika Politik Orang Kalah, menempuh Magister Ilmu Komunikasi UGM




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed