detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 16 Juni 2019, 14:10 WIB

Jeda

Usaha Menjadi Orang Jahat

Mumu Aloha - detikNews
Usaha Menjadi Orang Jahat Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Seorang teman punya cerita menarik dari acara silaturahmi antarkeluarga pada momen Lebaran yang baru saja berlalu.

Keluarga besarnya kurang kompak dalam urusan pilpres, dan karena itu di grup WA keluarga dia bikin peraturan dilarang ngobrol soal politik. Dia khawatir hal itu akan mengakibatkan putusnya silaturahmi. Peraturan yang diterapkan di grup WA itu kemudian menjadi kesepakatan tidak tertulis saat mereka bertemu dan bertatap muka langsung dalam acara-acara keluarga, termasuk saat Lebaran kemarin.

"Kami saling menahan diri dan menghindari topik-topik yang bersinggungan dengan politik, bahkan saya tidak mau membahas soal kotbah Idulfitri di tempat saya yang menyebalkan itu. Alhasil, kami bisa tetap ceria bercanda tertawa-tawa," kisah teman saya.

Sampai ketika acara salam-salaman, makan-makan, dan ngobrol-ngobrol bubar dan berpamitan, ada seorang anggota keluarganya yang nyeletuk, "Hei, elu seneng ye Jokowi memang!"

Teman saya yang pendukung dan simpatisan Jokowi itu itu pun tertawa mengiyakan, "Iya dong," katanya.

Saudaranya yang lain pun menimpali, "Eh, aku juga ke GBK lho!"

"Kok kita nggak ketemu?"

Mendengar pembicaraan itu, saudara-saudara yang lainnya pun turun seolah tak tahan untuk turut nimbrung.

"Wah, kalau aku sih tetap 02!"

"Aku dong 01!"

"Aku juga 02!"

Begitulah bersahut-sahutan. Alhasil, teman saya yang sejak semula membuat peraturan untuk tidak bicara soal pilihan politik itu pun merasa lega. Ternyata, obrolan yang bermula dari celetukan salah satu di antara mereka itu justru membuat suasana jadi melegakan, seperti ada sesuatu yang sebelumnya ditahan-tahan dan akhirnya "jebol". Apa yang dikhawatirkannya tidak terjadi.

"Ternyata tidak terjadi bunuh-bunuhan seperti yang selama ini saya cemaskan," kata teman saya sambil tertawa seraya menambahi, "Mungkin ini salah satu berkah dan nikmat Lebaran."

Bisa jadi teman saya benar, bahwa semua itu berkat momen Lebaran yang "menyatukan". Namun, bisa jadi juga, apa yang selama ini digembar-gemborkan oleh para pakar dan analis politik sebagai "polarisasi" akibat "perbedaan pilihan politik" adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan. Sehingga kita menjadi khawatir secara berlebihan untuk membicarakannya.

Namun, kekhawatiran itu bisa jadi juga memang sesuatu yang wajar jika kita melihat situasi yang terjadi di media sosial. Ketegangan, saling ejek, lontaran kebencian, dan berbagai "pertengkaran" yang dipicu oleh semangat dukung-mendukung capres di media sosial memang sudah sampai pada taraf yang gila-gilaan. Banyak kejadian, orang saling unfollow, unfriend, "delcon" karena berantem masalah politik.

Saya bahkan mendengar cerita lain dari teman yang lain, bahwa sampai ada keluarga yang tahun ini tidak mudik hanya karena menghindari pertemuan langsung dengan sanak-saudaranya yang berbeda pilihan politik. Di media sosial dan di grup-grup WA mereka telah "telanjur" dan masih bisa saling berdebat dan marah-marahan, tapi untuk bertatap muka langsung, rupanya mereka tidak siap.

Di media sosial dan berbagai saluran-saluran komunikasi digital kita cenderung menjadi "beringas" dan "tanpa perhitungan". Tidak pernah berpikir tentang etika, atau pun konsekuensi dan berbagai kemungkinan lain, bahwa "lawan" kita boleh jadi suatu saat akan bertemu langsung dengan kita di "dunia nyata", dalam beragam kesempatan dan keperluan.

Permasalahan manusia dengan teknologi memang kerap melahirkan kegagapan-kegagapan. Ada yang pernah mengatakan, evolusi berjalan dengan kaki pincang. Pertumbuhan teknologi tidak diimbangi dengan integritas moral. Atau seperti yang kerap dilontarkan oleh para ahli: tidak diimbangi dengan literasi yang memadai. Teknologi melaju kencang, sementara wilayah pendidikan dan cara berpikir rasional manusia tidak mengalami kemajuan yang signifikan.

Generasi saya dulu mengenal internet secara bertahap. Untuk bisa saling terhubung, orang harus mencari warnet. Ada benda bernama modem yang kala itu masih merupakan sesuatu yang terbilang istimewa. Namun, dalam beberapa tahun saja, orang-orang sudah bisa mengakses internet lewat smartphone, kapan saja dan di mana saja tanpa kenal waktu. Sensasi yang luar biasa ini melahirkan ilusi-ilusi, juga distorsi mengenai eksistensi dan identitas individu.

Dengan HP yang tak pernah lepas dari genggaman tangan, kita tidak hanya merasa telah menaklukkan seisi dunia secara tiba-tiba, melainkan juga menjadi pusat dari dunia. Kita menjadi sumber kebenaran, dan ingin mengatakan apa saja yang sebelumnya tidak pernah dan tidak perlu kita katakan pada orang lain.

Ketika ada seorang istri mantan presiden meninggal dunia, di tengah sebagian orang bersimpati dan menyatakan ikut berbela sungkawa, ada sebagian lain yang "merusak suasana" dengan mengatakan bahwa tidak ada ucapan "innalillahi" untuk perempuan yang meninggal sebelum mengenakan jilbab. Dulu, kalau kau tidak peduli pada sesuatu hal, maka lebih baik diam saja. Tapi kini, keterhubungan digital kita dengan orang lain membuat kita ingin selalu melontarkan sesuatu, kalau perlu berteriak, mencari perhatian, minta didengar, persis bocah yang terus merengek --meng-"update status" dari waktu ke waktu tanpa urgensi dan relevansi apapun.

Usai libur Lebaran kali ini kita mendapatkan hiburan: sebuah video viral, memperlihatkan seorang "ustaz" yang dengan sangat meyakinkan tengah bicara tentang "sejarah" nama-nama pulau di Indonesia, yang menurut dia dulunya berasal dari kata-kata bahasa Arab. Sebagian orang boleh saja menjadikan video itu bahan tertawaan, lalu memperluas isinya dengan membuat plesetan-plesetan tentang asal-usul nama-nama, sembari menganggap bahwa video tersebut adalah sebentuk kebodohan yang telanjang dan terang-terangan.

Namun, pada saat yang sama, berjuta-juta orang di luar sana, yang menyaksikan video itu dengan smartphone-nya yang keren dan mahal, mengangguk-anggukkan kepala, merasa mendapat sebuah pencerahan yang luar biasa, dan mempercayainya sebagai sebuah kebenaran sejati nan hakiki tanpa keraguan sekecil apapun.

Seorang penyair muda nge-tweet. Isi tas cewek: bla bla bla, isi tas cowok: bla bla bla. Seseorang dengan avatar cewek me-retweet-nya dengan komentar masygul: inilah isi otak cowok.

Dan inilah dunia kita hari ini, tempat kita hidup hari ini. Barangkali benar, evolusi berjalan pincang. Atau dalam beberapa (atau banyak?) kasus bahkan mundur. Orang-orang mulai mengeluh "percuma gue dulu sekolah tinggi-tinggi" setiap kali mendapati hal-hal yang dianggapnya bodoh, konyol, naif di media sosial. Tapi, sekali lagi, bodoh menurut siapa? Konyol menurut siapa? Naif menurut siapa?

Bahkan, ketika kita terhubung, ketika kita bisa didengar dan diperhatikan oleh siapapun setiap saat, ketika kita bisa mengatakan apapun tentang hal-hal yang dulu mungkin tak pernah dikatakan atau hanya dikatakan dalam hati saja, ketika kita memamerkan apa-apa yang dulu kita simpan rapat-rapat, maka dorongan untuk menjadi jahat pun berubah menjadi sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.

Inilah mitologi kita hari ini, bukan lagi --mengikuti Barthes-- bentuk-bentuk representasi, baik wacana tertulis seperti novel maupun fotografi, sinema, reportase, olahraga, pertunjukan, dan publikasi. Melainkan: kekonyolan, kebodohan, prasangka, kebencian, dan "kejujuran" --ketelanjangan kita.

Genggamlah erat-erat smartphone-mu. Jangan pernah lepaskan. Jangan sedetik pun mengalihkan tatapanmu dari layarnya yang biru. Atau kau akan tersesat, hilang, lenyap....dengan segala kebenaran dan keyakinanmu.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed