detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 14 Juni 2019, 11:35 WIB

Kolom

Bahasa yang Menyatukan

Fransiskus Gregorius Nyaming - detikNews
Bahasa yang Menyatukan Sebuah adegan dari film "I Dream in Another Language" (Foto: istimewa)
Jakarta - I Dream in Another Language (2017), sebuah film asal Meksiko, mengisahkan tentang Martin, seorang ahli bahasa yang berusaha mempelajari bahasa Zikril, bahasa suku setempat yang sudah lama hilang dari peredaran zaman. Untuk memenuhi misinya, ia mencari penduduk setempat yang masih bisa berbicara bahasa tersebut. Don Evaristo dan Isauro, berumur kira-kira 70an tahun, adalah generasi tersisa yang masih fasih berbicara bahasa Zikril.

Persoalannya, keduanya sudah tidak berbicara satu sama lain hampir selama 50 tahun. Dari Lluvia, cucu Don Evaristo, Martin mengetahui penyebab mereka tidak pernah bertegur sapa sekian lamanya. Rupanya mereka berdua pernah saling mencintai. Namun, kehadiran Maria menimbulkan rasa cemburu yang begitu mendalam dalam diri Isauro. Rasa cemburu itu semakin menjadi sejak Evaristo dan Maria memutuskan untuk menikah. Sejak saat itulah hubungan mereka menjadi retak dan tidak pernah lagi berbicara satu sama lain.

Martin menyadari betapa pelik situasi ini bagi misinya dalam mempelajari bahasa Zikril. Dia menyadari, sekarang misinya tidak lagi hanya sekadar mempelajari bahasa, namun bagaimana menyatukan kembali dua insan yang sudah saling diam puluhan tahun lamanya. Karena itu, berbagai usaha ia lakukan untuk mempertemukan mereka berdua agar ia bisa merekam percakapan mereka dengan bahasa Zikril. Termasuk sampai mau membelikan sebuah televisi yang baru buat Don Evaristo.

Usaha tampak berhasil ketika suatu kali mereka berdua bisa duduk bersama sambil bersenda gurau satu sama lain. Bahkan mereka sempat berjalan di pantai, tempat dulu mereka sering menghabiskan waktu berdua ketika masih muda. Namun, suasana ini tidak bertahan lama. Ingatan akan masa lalu yang begitu pahit kembali muncul ke permukaan. Sejak saat itu, hubungan keduanya kembali memanas.

Dipicu oleh rasa cemburu yang masih terpendam, suatu malam Isauro menyelinap ke rumah Evaristo, lalu membakar foto Maria. Hal ini tentu saja memicu kemarahan Evaristo. Karena itu pada siang harinya, diliputi amarah dan dendam, ia pergi ke gubuk Isauro sambil membawa bensin. Tujuannya sudah jelas yakni membakar Isauro hidup-hidup. Ia mengunci pintu gubuk dari luar lalu menyiramkan bensin di sekelilingnya. Dalam sekejap mata, api menghanguskan gubuk mungil yang sudah tua tersebut.

Beruntunglah aksi tersebut diketahui juga oleh Martin dan Lluvia, sehingga Isauro yang masih berada di dalam dapat diselamatkan. Isauro, yang kondisi kesehatannya memang sudah mulai menurun, sejak kejadian itu hanya bisa terbaring di tempat tidur. Dengan kondisi Isauro seperti itu, banyak yang berharap barangkali hubungan mereka berdua akan pulih seperti sediakala. Namun, sampai Isauro mengembuskan napas terakhirnya tetap saja Evaristo tidak mau melihat wajah sahabatnya.

Namun, sedalam-dalamnya rasa benci tetap saja tidak bisa menghapus rasa cinta yang pernah dan masih tetap ada. Rasa cinta itu terpancar di wajah Evaristo yang nampak begitu menyesal saat mendengar kata-kata terakhir dari Isauro yang disampaikan Martin kepadanya, "Selamat tinggal, temanku. Teman baikku. Semua yang tak terucap akan tetap tak terucap, tapi di The Enchanment aku akan memikirkan hal-hal tersebut, dan aku pun akan memikirkanmu temanku, teman baikku."

Menurut hemat saya, terlepas dari kisah asmara antara Don Evaristo dan Isauro, yang di mata sebagian orang masih dianggap melanggar kodrat, haram, tabu, dan sejenisnya, pesan yang hendak disampaikan melalui film ini masih sangat aktual bagi kehidupan bersama. Dalam konteks Indonesia, mengapa kita yang berbicara dalam bahasa yang satu dan sama, yakni bahasa Indonesia, masih sangat sulit untuk bersatu dan hidup rukun?

Hubungan yang sudah retak akan selalu ada cara untuk memulihkannya. Usaha pemulihan itu bukan dilakukan dengan diam, melainkan dengan berjumpa dan berbicara. Dan berbicara pastilah menggunakan bahasa. Bahasa, dengan demikian, memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Inilah kiranya inti pesan yang hendak disampaikan oleh film ini.

Peradaban manusia, di mana pun dan kapan pun, akan sulit untuk dibayangkan seperti apa bentuk dan isinya jika tanpa bahasa. Bahasa telah menemani peziarahan hidup manusia di dunia ini dengan segala lika-liku kehidupannya. Entah saat manusia berlinang air mata maupun saat penuh canda tawa bahasa selalu hadir. Ia hadir dalam suasana yang tentram dan penuh damai. Dalam suasana yang penuh konflik dan kebencian, ia juga hadir.

Bahasa membantu manusia dalam memaknai manis dan getir pengalaman hidupnya. Karena dengan bahasalah manusia bisa bercerita dan berbagi rasa bersama yang lain tentang kisah hidupnya. Begitu pula dengan peradaban bangsa Indonesia. Keragaman bahasa menjadi salah satu kekhasan yang menandai perjalanan peradaban bangsa kita dalam usahanya membangun diri menjadi bangsa yang beradab.

Namun, keragaman bahasa ini disadari juga berpotensi menimbulkan sikap chauvinisme dalam setiap suku. Sebuah sikap yang patut dimiliki. Namun, bila dihayati secara berlebihan dapat mengancam keutuhan bangsa. Mengingat pentingnya persatuan tersebut, bahasa diyakini bisa menjadi sarana untuk mempersatukan putra-putri bangsa. Apakah harapan ini sudah terpenuhi?

Melihat kondisi bangsa kita akhir-akhir ini rasanya masih tersimpan keraguan akan terpenuhinya harapan tersebut. Nada pesimis muncul karena menyaksikan bahasa yang bertebaran dalam kehidupan bersama adalah bahasa yang penuh dengan nada kebencian dan fitnah. Bahasa yang sama sekali tidak mengarah kepada terciptanya persatuan, justru sebaliknya kepada perpecahan.

Ambil contoh yang paling nyata yakni pemakaian kata "cebong" dan "kampret". Terminologi yang tidak hanya menciptakan polarisasi di tengah masyarakat. Lebih dari pada itu, mencederai keluhuran harkat dan martabat manusia itu sendiri, yang adalah ciptaan yang paling mulia.

Berbicara tentang bahasa bukan hanya sekadar berkaitan dengan sekumpulan kata, struktur kalimat, ejaan yang baik dan benar dan sebagainya. Lebih dari itu, berbicara tentang bahasa pada akhirnya akan mengarahkan perhatian kita untuk memahami manusia itu sendiri. Sebab, manusia dan bahasa adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kita bisa mengetahui kepribadian manusia lewat bahasa yang mereka gunakan.

Ambil sebagai contoh --sebagaimana dikisahkan oleh Anne Babe, seorang guru bahasa Inggris di Suwon-- mengapa orang Korea Selatan selalu mengatakan "negara kita" ketimbang mengatakan "negara saya? Juga mengatakan "keluarga kita" ketimbang "keluarga saya". Yang lebih terdengar aneh lagi, kaum istri selalu mengatakan "suami kita" kepada kaum suami sekalipun itu bukan suaminya.

Penggunaan kata "kita" tak lain adalah sebuah ungkapan kepedulian sekaligus adanya rasa memiliki terhadap satu sama lain. Adanya rasa memiliki ini memanggil setiap anggota masyarakat untuk bertanggung jawab dalam menjaga dan melindungi satu sama lain. Sebab begitulah seharusnya hidup sebagai sebuah komunitas.

Kultur ke-kita-an juga melekat dalam kepribadian bangsa kita yang kental dengan semangat gotong royong dan kekeluargaan. Sejarah perjuangan bangsa kita untuk bebas dari tangan penjajah menampakkan dengan gamblang kultur dan semangat ke-kita-an itu. Kesadaran bahwa negara ini milik bersama telah membangkitkan semangat dalam diri para pejuang kemerdekaan untuk bergandeng tangan mengusir penjajah. Semangat ke-kita-an itu masih hidup sampai hari ini.

Lihatlah misalnya saat warga saling tolong menolong membangun rumah ibadat, meski mereka berbeda agama. Saat bulan puasa bagi umat muslim tiba, kita juga sering menyaksikan pemandangan yang menyejukkan, di mana saudara-saudari yang muslim berbuka puasa bersama mereka yang beragama lain. Saling bersilaturahmi antarumat beragama pada hari-hari besar keagamaan merupakan pemandangan lain dari semangat ke-kita-an.

Dari kenyataan tersebut, kita melihat bahwa bahasa memiliki kekuatan untuk menyatukan perbedaan. Martin juga menyadari kekuatan dari bahasa itu. Karena itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk mempertemukan Evaristo dan Isauro. Namun pada titik ini, kekuatan itu menemukan tantangan terberatnya saat menyangkut usaha mempertemukan mereka yang sedang bertikai.

Berkaca pada kisah mereka, kita melihat bahwa usaha tersebut memerlukan proses yang panjang dan berliku. Sebab diperlukan kebesaran hati memandang wajah mereka yang pernah menyakiti kita. Kisah Evaristo dan Isauro adalah kisah hidup kita juga. Dalam hubungan personal tidak sedikit kita jumpai masih banyak hubungan antarpribadi yang menunggu untuk dipulihkan.

Demikian pula dalam hubungan sosial keagamaan, kita harus jujur mengakui masih banyak beban masa lalu yang tidak mudah untuk didamaikan. Hubungan yang retak akibat konflik antaretnis dan agama, akibat pilihan politik yang berbeda, fanatisme sempit yang sering berujung pada penghilangan nyawa kelompok atau golongan tertentu, pelanggaran HAM di masa lalu yang sampai hari ini belum terselesaikan, merupakan sekian dari beberapa rintangan yang seringkali membuat usaha membangun perdamaian dan rekonsiliasi menemui jalan buntu.

Tidak mudah menyatukan kepala membicarakan masa lalu, apalagi bila masa lalu itu menyakitkan. Namun, mau sampai kapan beban masa lalu itu menindih kita? Seberapa kuat kita akan berjalan dengan selalu menyimpan bara api amarah dan dendam dalam hati?

Usaha tak kenal lelah dari Martin untuk mempertemukan Evaristo dan Isauro mengingatkan bahwa damai dan rekonsiliasi akan lebih bermakna bila terjadi ketika manusia masih hidup. Apa artinya ungkapan "aku mengampunimu" sementara mereka yang kita ampuni sudah terbaring kaku tak bernyawa? Setulus apapun pengampunan yang kita berikan dengan tujuan agar arwahnya bisa beristirahat dengan tenang, rasanya akan lebih berarti bila mereka menerima pengampunan itu saat masih bernyawa.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Namun juga belum terlambat selama masih ada kemauan untuk memulihkan hubungan yang telah retak.

Kita sudah lelah menyaksikan konflik dan permusuhan yang hanya mendatangkan kepedihan. Kita merindukan hidup yang penuh damai. Kerinduan tersebut rasanya tidak sulit untuk diwujudkan. Sebab, dengan berbicara dalam bahasa yang sama, kita akan mudah untuk saling memahami. Kita akan saling memahami bahwa hidup yang rukun dan damai adalah impian kita bersama.

Fransiskus Gregorius Nyaming mahasiswa Universitas Katolik Yohanes Paulus II, Lublin


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed