detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 12 Juni 2019, 14:58 WIB

Kolom

Halalbihalal Kebangsaan

Benni Setiawan - detikNews
Halalbihalal Kebangsaan Halalbihalal di Kementerian LHK (Foto: Lisye)
Jakarta -

Khasanah budaya Indonesia membentang luas. Tradisi Idulfitri dengan bermaafan dan saling bertemu mengguratkan kisah ketulusan dan cinta kasih.

Masyarakat Indonesia terbiasa dalam suasana damai, bukan konflik. Hal ini ditunjukkan dengan ragam acara yang dikemas dengan berbagai macam aktivitas. Sebut saja halalbihalal, syawalan, bakda kupat, dan seterusnya. Khasanah budaya ini mendorong bangsa untuk hidup rukun. Hidup dalam naungan kasih sayang tanpa rasa dendam dan konflik.

Halalbihalal misalnya, memberikan nilai positif agar bangsa kembali rukun. Halalbihalal mempertemukan masyarakat dalam bingkai saling memaafkan. Tidak ada yang mengaku paling benar, semua mengaku salah, dan meminta maaf. Maka semua menjadi halal, semua menjadi bertemu dalam kerinduan kedamaian dalam semangat saling menguatkan satu sama lain.

Saat ini kita menyaksikan pasca-Pemilu 2019 warga bangsa masih saling bersitegang. Belum ada yang mau menyatakan kalah. Pendukung 01 dan 02 pun masih saling mengklaim pasangan calonnya menang.

Menjadi Indonesia

Saling klaim ini seringkali menimbulkan gesekan di tengah masyarakat. Masyarakat menjadi mudah curiga, marah, dan mungkin saling benci. Hal itulah yang meminjam istilah Azyumardi Azra (2017) akan mencabik-cabik "ingatan bersama" (collective memory) tentang kebersamaan, solidaritas, rasa senasib dan kebangsaan Indonesia. Ingatan kolektif tentang kebangsaan perlu kembali dirawat agar kita menjadi Indonesia.

Halalbihalal mendorong setiap warga bangsa menjadi insan pemaaf. Warga bangsa menyadari bahwa dengan saling bermaafan seseorang akan mudah menjalin kerja sama dan membangun kesatuan yang erat.

Dengan bermaafan seseorang akan bertegur sapa dalam bingkai kehidupan yang lebih indah. Mereka akan tersenyum dan bergandengan tangan untuk membangun kedaulatan bangsa dan negara.

Mereka pun membangun kerja sama yang baik dan melakukan islah (perbaikan). Mereka tidak lagi mengaku pendukung 01 dan 02. Namun, mereka kini menyatakan diri sebagai warga bangsa Indonesia. Sekat primordial yang memisahkan mereka kini lebur dan luntur. Kini mereka menjadi bangsa Indonesia yang satu. Persatuan Indonesia pun kembali menjadi sesanti untuk membangun Republik.

Halalbihalal pun menjadi sarana melepas penat dan lelah. Halalbihalal mengembalikan kerinduan dan keriangan. Bertemu dengan sanak-saudara yang telah lama ditinggal; Bertemu dengan alam desa yang penuh kedamaian; dan bertemu dengan ingatan masa lalu yang membahagiakan.

Solidaritas Sosial

Pertemuan dengan saudara, baik kandung maupun tidak, akan menguatkan kemanusiaan. Bertemu (silaturahmi) akan menguatkan simpul sosial yang mungkin telah lama putus. Bertemu, bersendau gurau, dan saling bercerita tentang pengalaman menjadikan sesama semakin akrab. Pertemuan di dalam bingkai halalbihalal inilah yang menguatkan solidaritas sosial. Sesama manusia merasa bersaudara. Dengan demikian, sesama anak bangsa tidak mudah diadu karena kepentingan apapun.

Peristiwa 21-22 Mei 2019 akan dapat rampung saat semua mengembalikan spirit halalbihalal dalam kehidupannya. Yaitu spirit ingin bertemu dan bercengkerama dengan siapa saja, tanpa beban, dan batas-batas sosial yang membelenggu.

Gesekan sosial akan selesai saat semua mau bertemu dan berbicara dari hati ke hati. Perbincangan itulah yang akan mengikis kecurigaan yang mungkin selama ini masih terus ada dalam benak. Maka saat bertemu, semua akan menjadi jelas dan muncul tawa ringan hingga kelucuan yang membaur dalam persamaan. Tidak ada lagi beda antara pendukung 01 dan 02, semua sama atas nama bangsa Indonesia, sama atas nama anak bangsa.

Keutamaan Kemanusiaan

Saat semua menyadari bahwa diri kita adalah anak bangsa, maka pertikaian dan permusuhan tidak akan pernah terjadi. Anak bangsa menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah saudara. Persaudaraan yang diikat atas nama manusia dan kemanusiaan serta keindonesiaan.

Halalbihalal dengan demikian menggempur egoisme. Halalbihalal mengembalikan spirit keutamaan kemanusiaan yang ingin saling menyapa satu sama lain. Kemanusiaan yang memungkinkan semua manusia hidup rukun, damai, dan penuh cinta kasih.

Benni Setiawan dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, peneliti Maarif Institute


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed