detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 11 Juni 2019, 16:57 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Dari Demam "Selfie" ke Ancaman Ekspansi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Dari Demam Selfie ke Ancaman Ekspansi Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Tiap kali musim liburan seperti pekan kemarin, kota kecil saya selalu riuh dan berjejal penuh. Mobil-mobil mewah plat luar berdatangan memacetkan jalanan. Tentu saja mayoritas plat B. Memangnya ada plat yang lebih sakti ketimbang B?

Lampu merah Cepit yang di hari non-liburan bisa dilalui nyaris tanpa menunggu, tiba-tiba menerima serbuan antrean yang buat warga Bantul tak kalah melelahkannya dibanding gerbang tol Cikampek bagi warga ibu kota. Itu baru Cepit. Belum perempatan Jalan Parangtritis-Ring Road dari arah selatan. Lebih-lebih lagi perempatan Jejeran sebelah sentra sate klathak.

Empat-lima tahun lalu, antrean kendaraan yang mengular sepanjang itu tak pernah terbayangkan bakal muncul di kota kecil kami. Ini Bantul, bukan area perlintasan antarkota, cuma kabupaten kecil yang sepi dan mayoritas penduduknya beraktivitas sebagai petani. Lokasi wisata satu-satunya yang dikenal publik luar Jogja paling-paling cuma Parangtritis, itu pun orang sudah pada bosan, dan nama itu tinggal tersisa di potongan syair lagu sendu milik Didi Kempot saja.

***

Namun, hari ini semua berubah. Bantul jadi ramai sekali. Ada semangat hidup yang menggeliat hebat, ada perputaran roda ekonomi yang lebih cepat, ada harga diri banyak orang yang naik terangkat.

Semua berkah ini tercipta karena Revolusi Instagram yang dibantu Google Maps dan diledakkan oleh film Ada Apa Dengan Cinta 2. Sudut-sudut bukit yang dulu terpencil dan yang tahu cuma para danyang penunggu alam gaib, tiba-tiba muncul di akun-akun medsos para penggemar jalan-jalan, anak-anak muda penggila selfie, tak terkecuali di situs-situs web pariwisata.

Instagram memang mengubah wajah banyak hal. Wajah pemilik akunnya sendiri jelas berubah karena yang dipajang di hadapan netizen tentu sudah diedit semulus-mulusnya. Tapi, wajah desa-desa pun ternyata turut berubah. Bermula dari selebgram yang selfie di sebuah hutan pinus, dengan latar hutan yang cantik dan unik sekali, bahkan agak-agak dikira "luar negeri". Kasusnya sama dengan latar foto kebun bunga lili, yang juga hujan komentar, "Aduuh, kayak di luar negeri!"

Produk kebudayaan ajaib berupa selfie tadi membawa multiplier effect besar sekali. Ratusan ribu follower bertanya lokasinya di mana. Si Selebgram memberikan informasi detail jalan ke arah lokasi. Ratusan orang berbondong-bondong ingin turut selfie di sana. Lalu ada yang proaktif membubuhkan tanda lokasi baru di Google Maps, "Hutan Pinus Mangunan". Para pejuang selfie pun tinggal pencet "add location" saat mengunggah foto mereka di akun Instagram, para follower masing-masing tinggal mengikuti peta dari Google Maps untuk datang ke sana tanpa perlu capek bertanya-tanya, dan banjir manusia terjadi dengan kian mudahnya.

Itu belum seberapa. Ada simulakra juga. Sutradara film Ada Apa dengan Cinta 2 agaknya suka dengan Mangunan. Karena suka, tempat itu dijadikan salah satu lokasi syuting. Karena jadi lokasi syuting, Mangunan Imogiri pun muncul di layar-layar bioskop se-Indonesia. Ledakan kembali terjadi, mengikuti tren yang "dicipta" oleh Rangga dan Cinta. Sampai-sampai banyak agen perjalanan menawarkan paket wisata AADC 2. Para turis diajak berkeliling ke Imogiri, sekalian ke lembah Dlingo, ke Kalibiru di Kulonprogo, dan sebagainya.

Kata emak saya, dulu Kecamatan Imogiri sangat terpencil. Daerah itu dikenal orang luar hanya dari warga mereka yang jualan lincak alias kursi bambu, turun berkeliling ke kota. Tak terbayangkan sekarang ia menjadi salah satu tujuan jalan-jalan murah paling nge-hits se-Jawa.

Terbukti, Hutan Pinus Mangunan hanya pionirnya. Selanjutnya, blok-blok tempat wisata baru bermunculan di kiri-kanannya, tebing-tebing dirias secantik-cantiknya. Ada Puncak Becici, Watu Lawang, Sewu Watu, Songgo Langit, Watu Goyang, dan entah watu apa lagi. Para turis pun dalam sekali datang bisa selfie di banyak tempat. Tentu semua itu diikuti dengan orang-orang kampung yang mengelola parkir dan berjualan ini-itu, juga pemuda-pemudi lokal yang terserap di lapangan pekerjaan baru sebagai karyawan blok-blok lokasi wisata.

***

Malang, di tengah gegap gempita kegembiraan tadi, ada cerita yang berjalan mengendap-endap, dan pada waktunya bisa memukul tengkuk kami semua: bentang alam Imogiri dan Dlingo akan semakin tampak cantik dan menarik, bukan cuma untuk wisata, tapi juga untuk tetirah. Orang-orang kota akan berebut membeli tanah-tanah untuk berinvestasi, hotel-hotel menjamur merajalela, membabati pepohonan, dan artinya justru melenyapkan apa yang ingin dilihat orang-orang kota lainnya.

Tentu saja, harga tanah akan melejit naik, yang kuat beli cuma para penduduk plat B dan KT, para pemilik tanah jadi mudah tergiur melepas pekarangan mereka demi beberapa M, dan warga lokal Imogiri yang tak punya tanah berlebih akan tetap setia dengan peran peradabannya: menjadi tukang parkir, atau berjualan mie gelas dan kopi sasetan.

Yang seperti ini bukan cuma paranoia, apalagi xenofobia. Bali sudah mengalami perjalanan pahit seperti itu, dari Sanur hingga Ubud. Negeri mereka yang indah disukai banyak orang luar, ramai dengan turis. Warga lokal yang bosan miskin melepas tanah dengan gembira waktu ditawar orang-orang asing atau orang-orang kota. Kemudian, setelah uang penjualan tanah itu habis, mereka pun melamar kerja jadi bell boy atau tukang sapu. Melamar ke mana? Tentu saja ke hotel-hotel yang berdiri megah di bekas tanah mereka.

Bali Utara yang relatif lebih aman dari serbuan ekspansi modal pun belakangan mulai rontok satu per satu. Di Singaraja dan sekitarnya situasi yang sama ternyata mengancam juga. Tak terkecuali di bukit-bukit indah Munduk, cuilan surga tempat bertahta dua sahabat saya, Bli Putu Ardana dan Bli Komang Armada.

"Duit memang sakti kok," kata Bli Putu meratapi gelombang ekspansi ini.

Ya, semua juga tahu itu, Bli. Kalau mau gaya-gayaan mengutip Harari lagi Harari lagi, uang adalah "agama" terkuat, tersukses, dengan pemeluk terbesar sedunia. Senjata apa lagi yang bisa kita hunus untuk menghadapi uang?

Desa-desa dan segenap warganya memang harus dibangunkan. Agar mereka sadar tanah itu milik mereka, agar mereka mengerti bahwa anak cucu mereka tidak boleh terus-menerus menjadi penonton saja.

"Kesempatan untuk memberdayakan warga desa dan membuat mereka mampu mempertahankan diri sekarang ini cukup besar. Ada Undang-undang Desa, ada kita yang bisa mengedukasi mereka," demikian Cecep, sahabat saya yang lain, membagi ceritanya. Cecep memang pejuang tangguh yang aktif melakukan pendampingan ke desa-desa.

Repotnya, belum cukup banyak contoh nyata kesuksesan warga desa yang berhasil membendung pesona uang. Cecep memang mencontohkan Timika, saat Uskup Timika melarang warga asli Mimika menjual tanah agar sumber penghidupan tidak ikut lenyap bersama tanah-tanah mereka.

Masalahnya, ada satu hal di Timika yang belum tentu dimiliki oleh banyak tempat lainnya, yaitu kekuatan kultural pemimpin lokal. Uskup Timika jelas orang berpengaruh besar dan diikuti warga. Level dia jauh di atas Ketua Karang Taruna Desa Mangunan, misalnya. Saya tidak yakin di Imogiri dan Dlingo ada sosok yang seperti itu, sebagaimana dulu kawasan Batu di sebelah Malang juga "habis" karena sama-sama tak punya kepemimpinan kultural lokal sekuat itu.

Saya setuju, warga lokal harus dibuat berdaya. Kalau mereka tidak mengalami keterhimpitan ekonomi, tentu opsi menjual tanah tak akan terpikir di benak mereka.

Tapi, hei, sejak kapan orang cukup dengan uang? Jika seorang warga desa sudah dianggap berdaya dengan bisnis kecil berpenghasilan lima juta rupiah setiap bulannya, apakah imannya akan sanggup bertahan saat menghadapi segepok lima ratus juta? Dan uang lima ratus juta itu bisa ia dapatkan tanpa harus bekerja, cukup dengan menggeser pasak pembatas pekarangannya.

"Uang memang enak," kata saya.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed